Humaniora

Pestisida Berlebih Picu Kelainan Bawaan

Selasa, 21 March 2017 07:30 WIB Penulis:

ANTARA/SAIFUL BAHRI

DIREKTUR Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Eni Gustina, mengatakan pertambangan ilegal dan penggunaan pestisida berlebihan memicu kelainan bawaan bayi sejak dalam kandungan.

Dalam temu media di Jakarta kemarin, Eni mengatakan pihaknya bermitra dengan 19 rumah sakit (RS) yang kerap menangani pasien dari daerah dengan pencemaran lingkungan dan penggunaan pestisida berlebih.

Badan Litbangkes Kemenkes menghimpun data kelainan bawaan di 19 RS itu pada September 2014-Desember 2016.

Data menunjukkan, terdapat 494 kasus yang memenuhi kriteria kelainan bawaan.

Kasus terbanyak berupa kelainan kaki bayi (talipes) yakni 102 kasus (20,6% ), celah bibir dan atau langit-langit serta kelainan saraf otak neural tube defect 99 kasus (20% ), dan kelainan dinding perut tipis, omphalochele, 58 kasus (11,7%).

Kelainan lainnya ialah kelainan organ pencernaan atresia ani 50 kasus (10,1%) dan kelainan tidak adanya dinding perut, gastroschisis, 27 kasus (5,5%).

Eni mengatakan data tersebut itu sudah dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo.

Dia berharap pertambangan ilegal tersebut segera ditangani.

"Kelainan bawaan tidak hanya merugikan kesehatan generasi baru, tetapi juga memberi tekanan psikologis bagi penderita dan keluarganya. Persoalan itu dapat memicu terjadinya stigma dan diskriminasi."

Eni menambahkan, pencemaran lingkungan sangat memengaruhi tumbuh kembang janin dan bayi.

Faktor penyebab lainnya ialah gaya hidup sang ibu, seperti kurangnya asupan asam folat, kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol, paparan zat teratogenik yang merusak embrio, juga kurangnya aktivitas fisik. (Ant/H-3)

Komentar