Polkam dan HAM

Antipeluru bukan Berarti Antimogok

Selasa, 21 March 2017 06:32 WIB Penulis: Pol/P-4

Anggota Paspampres berjaga di sekitar mobil Presiden Joko Widodo yang berhenti untuk membagikan buku di Boyolali, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. -- ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

USIA sekadar bilangan. Ungkapan ini rupanya tidak berlaku bagi mobil kepresidenan, Benz S 600 Pullman Guard, yang menjadi tunggangan Presiden Joko Widodo.

Meski mampu menahan serangan seperti granat tangan, senjata standar, dan peledak ringan lainnya, kendaraan yang ditumpangi Presiden Jokowi dan Ibu Negara tersebut tidak antimogok. Seperti kala Presiden melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu (18/3).

Kala itu, seusai meresmikan PLTG Mempawah, Jokowi dan Ibu Negara berencana makan siang di salah satu rumah makan, sebelum kembali ke Jakarta. Setelah 30 menit perjalanan, mobil asal pabrikan Jerman itu berhenti tiba-tiba.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Media Indonesia, saat itu rombongan lain yang berada di belakang mobil Jokowi sempat kebingungan. Pasalnya, kebiasaan Jokowi, mobil yang membawanya akan berhenti saat ada kerumunan massa untuk sekadar bersalaman ataupun sekedar membagi buku dan peralatan sekolah. Namun, kala itu tidak ada kerumunan massa.

“Mogok di perjalanan setelah menempuh perjalanan lebih-kurang 30 menit. Mogok karena bermasalah pada setting-an gas sehingga laju kendaraan tidak bisa dalam keadaan normal,” kata Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Kepresidenan Bey Machmudin saat dimintai konfirmasi, kemarin.

Persoalan mobil mogok bukan yang pertama kali dialami Jokowi. Ketika blusukan ke Magetan, Jawa Timur, dalam rangka peringatan 90 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor pada September 2016, mobil bertenaga 6.000 cc itu takluk melawan tanjakan.

Di tengah aktivitas blusukan Presiden ke pelosok daerah untuk memastikan roda pembangunan terus berjalan, sudah pasti dibutuhkan kendaraan prima guna mengimbangi ritme kerja Presiden.

Menurut Kepala Sekretariat Kepresidenan Darmansjah Djumala, kendaraan yang ditunggangi Presiden merupakan keluaran 2007. Meski rutin dirawat sesuai standar VVIP, Djumala mengakui faktor usia mobil menjadi penyebab utama. “Mobil 2007 dan itu termasuk kondisi baik karena pemeliharaan rutin, tetapi karena faktor umur sudah 10 tahunan jadi memang mobil itu ada aja detail kecil yang aus. Kemarin tidak fatal, cuma akselerasinya melemah. Gas diinjak, tidak lari,” tuturnya. Ia menambahkan, ada tujuh mobil yang menjadi kendaraan resmi kepresidenan.

Terpisah, Mensesneg Pratikno berpendapat, sebagai kendaraan VVIP, selain kenyamanan, faktor keamanan juga tidak bisa dinafikan. “Saat ini sudah jadi masalah keamanan, bukan semata kenyamanan,” tandasnya.

eski sudah beberapa kali bermasalah, kata Pratikno, Presiden masih enggan mengganti mobilnya. Ia mengakui secara prosedur, pengadaan kendaraan baru tak memerlukan izin kepala negara. “Kalau minta izin beliau, kemungkinan sangat besar tidak diizinkan,” tandasnya. (Pol/P-4)

Komentar