Advertisiment
DPR Mudah Tersinggung
Kamis, 19 Februari 2009 00:00 WIB      76 Komentar     0   0

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

MESKI sudah sepuluh tahun berlalu sejak Presiden Abdurrahman Wahid menyindir DPR sama dengan taman kanak-kanak, dewan tidak banyak berubah.
Sejumlah perilaku buruk tetap saja dipelihara. Misalnya malas mengikuti rapat komisi atau sidang paripurna, rajin bepergian ke luar negeri, enggan mengikuti kunjungan kerja, dan gampang tersinggung.
DPR seolah merasa hanya mereka yang berhak tersinggung. Lihat saja saat rapat dengar pendapat Komisi VII DPR dengan direksi baru Pertamina, Selasa (10/2) lalu. Saat itu anggota Komisi VII DPR dengan enteng menyamakan direksi Pertamina dengan satpam. Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan dan Wakil Direktur Utama Omar S Anwar disebut belum cukup umur untuk memimpin Pertamina.
Namun, ketika Pertamina mengirim surat yang isinya menyatakan kecewa karena rapat tersebut tidak sesuai dengan Tata Tertib DPR, anggota Komisi VII berang dan tersinggung. Surat Corporate Secretary Toharso itu kemudian memicu ketegangan antara Komisi VII dan Pertamina.
Bukan baru kali ini DPR bersitegang dengan mitra kerjanya. Komisi III DPR pernah pula bersitegang dengan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh gara-gara insiden 'ustaz di kampung maling'. Para jaksa tersinggung seolah-olah mereka adalah maling, sedangkan jaksa agungnya adalah ustaz. Tapi DPR enggan meminta maaf.
Dalam rapat-rapat kerja di komisi, pertanyaan anggota dewan sering membuat merah kuping mitra kerja. Tapi anehnya, meski sering galak, DPR amat mudah tersinggung. Bahkan DPR pernah tersinggung gara-gara lagu Slank tentang korupsi.
Jika DPR suka menuding mitra kerja tidak etis, mereka sendiri perlu introspeksi. Apakah menyamakan direksi Pertamina dengan satpam itu etis? Apakah pantas menyamakan jaksa dengan maling? Apakah patut tidur di ruang rapat komisi, atau sidang paripurna? Apakah layak membaca berita gosip di ruang rapat atau bertelepon dan sibuk mengirim SMS di saat sidang? Apakah etis meninggalkan ruang rapat setelah bertanya?
Kita ingin tegaskan bahwa DPR tidak hanya punya hak bertanya, tapi juga memiliki kewajiban mendengar. Tampaknya DPR harus lebih banyak mengatur etika perilakunya sendiri sebelum mengatur pihak lain.
Kita sungguh prihatin dengan perilaku DPR yang menghentikan rapat dengan mitra kerja hanya untuk memelihara ketersinggungannya. DPR dengan sengaja telah mengorbankan kepentingan rakyat.
Dalam relasi antarlembaga, hubungan dengan mitra kerja, DPR pun perlu banyak belajar untuk menjaga kesantunan. Tata Tertib DPR dengan sangat jelas mengatur kesantunan dalam mengajukan pertanyaan. Tata tertib juga mengatur mengenai kepatuhan pada agenda rapat. Tapi atas nama fungsi pengawasan, bahkan atas nama rakyat, DPR sering ngelantur dan tidak fokus.
Kita berharap anggota DPR menggunakan bahasa sesuai dengan derajat dan martabat lembaga tinggi negara. Kritik yang disampaikan parlemen haruslah substansial, bukan ledek-ledekan dengan bahasa vulgar yang tidak mencerminkan martabat lembaga.
Sangat disayangkan jika DPR sering tersinggung lalu mutung oleh hal-hal sepele, tapi tidak malu untuk hal-hal yang substansial. DPR, misalnya, tidak tersinggung ketika dibayar penuh padahal sering bolos. Parlemen tidak malu ketika ruang rapat kosong.
Kita tahu ketersinggungan DPR biasanya berusia pendek. Sikap seperti itulah yang menimbulkan berbagai rumor.

Sent from my BlackBerry® powered by

Bookmark and Share  

KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
Lihat Komentar
Klik pada tombol + untuk melihat komentar pada article ini !

05-03-2009 08:11:25 WIB
Oleh: odas sunjana
Cerminan Bangsa

dpr MERUPAKAN representasi DARI MAYORITAS bangsa indonesia, JADI HAL2 TERSEBUT MERUPAKAN cerminan DARI karakter bangsa indonesia SEKARANG INI!!!, Mereka sebenarnya bukan mewakili RAKYAT, tapi mewakili PARPOL2 NYA.




20-02-2009 09:14:06 WIB
Oleh: bintang
DPR unjuk gigi

Biasalah... Bentar lg kan PEMILU...
Semua pada unjuk gigi...




20-02-2009 03:25:27 WIB
Oleh: Bambang Solihin
cerminan qualitas pemilu

Sikap DPR bukan seperti orang tak bependidikan apalagi yang seperti Gus Dur biang, melainkan menunjukan sisi lain satunya bahwa banyak person di DPR samasekali tidak siap jadi anggota DPR. Ini menunjukan ketidaksiapannya sejak masa pemilu, atau dalam kata lain sistem pemilu DPR yang sungguh harus diperbaiki sehingga menghindarkan person-person yang tidak masuk "qualifikasi" lolos jadi anggota DPR.
Semoga pemilu legislatif April ini bisa menghasilkan anggota DPR yang jauh lebih berqualitas..!




20-02-2009 03:24:34 WIB
Oleh: Bambang Solihin
cerminan qualitas pemilu

Sikap DPR bukan seperti orang tak bependidikan apalagi yang seperti Gus Dur biang, melainkan menunjukan sisi lain satunya bahwa banyak person di DPR samasekali tidak siap jadi anggota DPR. Ini menunjukan ketidaksiapannya sejak masa pemilu, atau dalam kata lain sistem pemilu DPR yang sungguh harus diperbaiki sehingga menghindarkan person-person yang tidak masuk "qualifikasi" lolos jadi anggota DPR.
Semoga pemilu legislatif April ini bisa menghasilkan anggota DPR yang jauh lebih berqualitas..!




20-02-2009 02:24:37 WIB
Oleh: Muza
PERTAMINA VS DPR, Sama-sama korup

Pertamina=Satpam, wajarlah Pertamina kan nggak kalah korupnya dengan DPR. DPR=Anak TK, maunya menang,enak sendiri. Datang, duduk, molor, maen, nikmatin uang rakyat.




20-02-2009 02:13:40 WIB
Oleh: gagak hitam
kasihanilah anggota DPR

anggota DPR perlu dikasihani, mereka sensitif, sok galak dan hobi melecehkan eksekutif karena hati nurani mereka selalu tersiksa karena ulah sendiri. mereka selalu mengatakan wakil rakyat yth padahal cuma wakil partai dan penipu rakyat yang tidak terhormat dan memalukan, pendidikan minim, kampungan tidak sopan, rajin bolos, dan .........terlalu banyak makan uang haram dari RUU, fungsi pengawasan sampai satuan 3 yg sebenarnya minta komisi dan nitip proyek, rapat di hotel dan fee and properti test yang selalu melibatkan sogokan dalam jumlah yg luar biasa. mereka selalu berdalih buktikan ......... lupa Tuhan YME melihat semua itu dan semoga kutukan 220 juta rakyat Indonesia yg muak dengan kelakuan mereka akan dikabulkan YME. Amin!




20-02-2009 00:05:47 WIB
Oleh: Elfitra Baikoeni
DPR: Politikus Minus Negarawan

Sudah menumpuk “catatan buruk†anggota DPR yang disorot media dan diketahui rakyat secara terang benderang selama ini. Sebanyak itu pula kritik pedas yang dilontarkan oleh berbagai pihak dan pengamat. Bermacam-macam perangai buruk ini semesti diimbangi dengan sikap yang lebih baik, terutama menjelang akan berakhirnya masa keanggotaan di parlemen. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, DPR nampaknya ingin terus menambah “angka merah†pada rapor mereka. Ini menandakan bahwa lembaga tinggi negara kita itu diisi cuma politikus yang haus kekuasaan, tidak banyak dari mereka yang benar-benar seorang negarawan. Sikap dan prilaku anggota DPR yang begini adalah faktor utama yang menyumbang terhadap kemungkinan kian besarnya suara rakyat yang golput dalam pemilu nanti. Oleh sebab itu, tak ada cara lain kecuali tidak mencontreng nama mereka lagi, serta menggantinya dengan angkatan muda yang lebih santun dan jujur.




19-02-2009 23:54:37 WIB
Oleh: Andrie Lesmana
Sang kurang ajar yang ingin dianggap terpelajar

Sang kurang ajar yang ingin dianggap terpelajar = DPR
Hanya ada 3 (tiga) baris kata untuk DPR, yakni :

"Memalukan"
"Memalukan"
"Memalukan"




19-02-2009 23:28:03 WIB
Oleh: hermanto
DPR Tersinggug

Editorial Anda semoga membuat anggota DPR sadar. Bahwa mereka bukanlah lembaga yang paling berhak, paling tahu, paling benar, dan paling suci. Memang kritik semacam ini harusnya sering ditampilkan. hal ini sebagai pengingat bagi mereka yang dipilih dari rakya.




MORE NEWS
Rabu, 10 Februari 2010 00:01 WIB
Selasa, 09 Februari 2010 00:01 WIB
Senin, 08 Februari 2010 00:01 WIB
Sabtu, 06 Februari 2010 00:01 WIB
Jumat, 05 Februari 2010 00:00 WIB
Kamis, 04 Februari 2010 00:01 WIB
Rabu, 03 Februari 2010 00:01 WIB
Selasa, 02 Februari 2010 00:00 WIB
Senin, 01 Februari 2010 00:00 WIB
Sabtu, 30 Januari 2010 00:00 WIB
Jumat, 29 Januari 2010 00:00 WIB
Kamis, 28 Januari 2010 00:00 WIB


   Index Berita