Advertisiment
Pernyataan Bangkrut
Senin, 16 Maret 2009 00:43 WIB      18 Komentar     0   0

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

DAYA rusak krisis keuangan global terhadap perekonomian kita sangat dahsyat. Bahkan, saking hebatnya daya rusak tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai-sampai mengatakan bahwa government is broke, pemerintah bangkrut.

Ketika memberikan sambutan pada pembukaan Sidang Pleno Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), pekan lalu, Kepala Negara menyebutkan bahwa kebangkrutan itu dipicu tergerusnya pendapatan negara.

Penerimaan pajak berkurang karena insentif pajak harus dikeluarkan. Pada saat yang sama, pengeluaran bertambah karena pemerintah harus menggelontorkan stimulus ekonomi. Kondisi seperti itulah, kata Presiden, yang membuat pemerintah merupakan pihak yang paling awal terimbas krisis dan paling merugi. Tapi, lanjut Presiden, tidak apa-apa yang penting rakyat tidak terlalu merugi.

Pernyataan pemerintah bangkrut itu sekilas merupakan pengakuan jujur. Pengakuan jujur betapa krisis keuangan sudah tidak bisa dipandang remeh lagi. Namun, ungkapan itu menjadi tidak tepat dan tidak elok diucapkan seorang pemimpin tertinggi negeri ini.

Tidak patut karena ucapan itu bisa mendatangkan efek buruk tambahan yang kian membenamkan negeri ini dalam krisis. Lebih-lebih, Presiden menyampaikan 'keluh kesah' ruginya pemerintah itu di depan para pengusaha muda.

Itu bisa menjadi sinyal buruk bagi para investor. Mereka amat mungkin berpikir bahwa pemerintah sudah tidak sanggup berbuat apa-apa lagi menghadapi krisis saat ini. Akan makin berbahaya lagi bila ada yang menafsirkan bahwa ucapan itu merupakan upaya pemerintah untuk berkelit.

Berkelit dari ketidakmampuan menunaikan janji-janji ekonomi ketika awal-awal memerintah dulu. Apalagi, tanda-tanda bakal munculnya gugatan itu sudah tampak. Adalah Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) yang berencana melakukan gugatan kelompok (class action) terhadap pemerintah di bawah SBY dan JK. Gugatan dilayangkan karena SBY-JK dianggap tidak merealisasikan janji kampanye.

Padahal, janji-janji itu telah didokumentasikan dalam dokumen negara melalui Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005. Apa saja janji itu? Di antaranya janji mengurangi tingkat kemiskinan pada 2009 menjadi hanya 8,2% dari jumlah penduduk, atau tinggal 18 juta orang. Nyatanya, hingga saat ini masih ada sedikitnya 30 juta orang (sekitar 14%) hidup dalam kemiskinan.

Mengenai pengangguran, SBY-JK berjanji bakal menekan angka orang tidak bekerja menjadi hanya 5,1% dari angkatan kerja pada 2009. Namun, realisasinya angka pengangguran masih 8%, bahkan bisa makin bertambah akibat krisis global. Adalah kenyataan bahwa krisis keuangan global memang telah membuyarkan segala impian indah yang pernah didengungkan lima tahun lalu. Akan tetapi, mengatakan bahwa pemerintahlah yang merupakan pihak yang pertama merugi dan paling parah kerugiannya, kiranya tidak bijak.

Mengapa tidak terus terang meminta maaf kepada rakyat bahwa janji tidak mungkin terpenuhi karena daya rusak krisis lebih dahsyat daripada yang dikira? Sebuah permintaan maaf yang tulus dibarengi dengan langkah konkret menambah stimulus untuk sektor riil yang padat karya--bukan hanya penghematan pajak (tax saving)--kiranya lebih bijak.

Kalau penghematan pajak yang digenjot, lalu disertai dengan pernyataan pemerintah bangkrut karena penerimaan pajak berkurang, itu sama saja dengan memohon pemakluman untuk sebuah kesalahan yang disengaja.

Sent from my BlackBerry® powered by

Bookmark and Share  

KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
Lihat Komentar
Klik pada tombol + untuk melihat komentar pada article ini !

16-03-2009 23:45:21 WIB
Oleh: Mochamad Rizky
Tanggapan non-pengusaha

Jangankan para investor dan pengusaha, sy saja sbg mahasiswa juga kaget dengan kegamblangan pemerintah yang menyatakan kebangkrutannya. mudah2 an pemerintah yang terpilih nanti dapat mengatasi hempasan krisis global ini




16-03-2009 13:36:51 WIB
Oleh: Muhammad W. Abbas
Bersembunyi di Balik Lalang Sehelai (7)

Kalau perusahaan bangkrut, direksinya bisa dipecat oleh dewan komisaris. Kalau Negara yang bangkrut? Masih banyak tayangan iklan politik di televisi yang bercerita tentang rentetan keberhasilan pemerintah. Sekarang dikatakan pemerintah bangkrut. Mana yang benar? Atau, apa memang sudah tidak ada lagi kebenaran di negeri ini? Karena semua berpagut dusta, karena janji tinggal janji, karena ?? Wallahu a?lam?




16-03-2009 13:33:16 WIB
Oleh: Muhammad W. Abbas
Bersembunyi di Balik Lalang Sehelai (6)

Semua orang tahu dan bisa melihat kenyataan ini. Insentif pajak? Siapa yang mendapatkannya? Gaji PNS yang setiap tahun naik sedangkan pelayanan publik tidak pernah naik jadi lebih baik. Gaji naik harga-harga pun naik. Padahal, sebagian besar rakyat negeri ini bukan PNS. Tapi mereka harus menerima akibat dari kenaikan harga dikarenakan gaji PNS naik. Padahal, gaji PNS berasal dari wang rakyat yang sebagian besarnya bukan PNS. Adilkah kondisi semacam ini?




16-03-2009 13:25:10 WIB
Oleh: Muhammad W. Abbas
Bersembunyi di Balik Lalang Sehelai (5)

. Di legislatif? Inilah sumber pemborosan utama dan induk kebangkrutan negeri ini. Berapa banyak wang Negara yang sudah dihabiskan DPR dan seimbangkah kinerjanya dengan pembiayaan? Buatlah sebuah daftar tentang pemborosan belanja negeri ini dan kita akan temui betapa panjang daftar tersebut jadinya. Apalagi menjelang pemilu. Berapa besar biaya Negara yang dikeluarkan untuk pejabat yang berkunjung ke daerah dengan fasilitas Negara dan ketika sampai di daerah mengurusi partainya.




16-03-2009 13:23:41 WIB
Oleh: Muhammad W.Abbas
Bersembunyi di Balik Lalang Sehelai (4)

Jabatan yang tumpang tindih adalah masalah lain. Lihat saja, ada Mensesneg dan ada Sekretaris Kabinet yang setingkat menteri. Tak tahu di mana beda tugas keduanya. Padahal yang mengurusi Negara adalah kabinet. Ada Menakertrans, lalu masih ada BNP2TKI. Dua-duanya mengurusi naker. Belum lagi terhitung komisi dan berbagai komite. Itu baru di jajaran eksekutif.




16-03-2009 13:13:11 WIB
Oleh: Muhammad W.Abbas
Bersembunyi di Balik Lalang Sehelai (3)

Kemudian , langkah tersebut dijadikan komoditas politik untuk menunjukkan ?kehebatan? pemerintah. Katanya, pertama dalam sejarah harga BBM turun 3X. Sedap betul caranya. Naik melompat sekali gus, turun menapak tangga 3X, lalu gembar gembor tentang ?jasa?. Pemerintah bangkrut, tapi tak banyak terlihat upaya-upaya penghematan yang dilakukan pemerintah. Biaya perjalanan dinas pejabat pemerintah dan petinggi Negara juga salah satu sumber pemborosan. Gaji dan fasilitas tak usah disoal.




16-03-2009 13:12:19 WIB
Oleh: heris
Mengeluh nih yee......

1.sakit perut saat kunjungan kedaerh,mengeluh krn ada berita tv yg memberitakan tdk seimbang 2. Atasi krisis global mengeluh krn pemerintah bangkrut Aku tggu mengeluh berikutnya pak SBY....




16-03-2009 13:05:08 WIB
Oleh: Muhammad W.Abbas
Bersembunyi di Balik Lalang Sehelai (2)

Bila kelak kita menuntut janjinya, pemerintah bisa saja bilang tak pernah berjanji. Sewaktu harga BBM dinaikkan untuk ketiga kalinya (premium dari Rp4.500 ke Rp6.000), masih segar dalam ingatan kita betapa pemerintah bersikeras menyatakan tidak pernah berjanji untuk tidak menaikkan harga BBM. Sudahlah janji tidak dipenuhi, malahan mengelak mengakui pernah berjanji. Lalu sewaktu Harga BBM dikembalikan ke level Rp4.500 seperti sekarang ini, pemerintah perlu waktu 3X untuk melakukannya.




16-03-2009 12:59:24 WIB
Oleh: Muhammad W.Abbas
Bersembunyi di Balik Lalang Sehelai (1)

Pemerintah bangkrut? Kejutan bila benar. Kenyataannya, aparat pemerintah semakin makmur saja. Tak salah bila ada yang mengatakan kalau ucapan ini hanya upaya pemerintah untuk berkelit. Dan ini bukan hanya penafsiran tanpa dasar. Yang terlihat, hal ini cuma semacam kompensasi untuk menutup-nutupi ketidakmampuan atau semacam pernyataan tidak langsung tentang kegagalan. Yang pasti, pemerintah sekarang ini terlalu mudah berjanji dan meniupkan angin surga. Bisa terpenuhi atau tidak, itu urusan nanti.




MORE NEWS
Selasa, 09 Februari 2010 00:01 WIB
Senin, 08 Februari 2010 00:01 WIB
Sabtu, 06 Februari 2010 00:01 WIB
Jumat, 05 Februari 2010 00:00 WIB
Kamis, 04 Februari 2010 00:01 WIB
Rabu, 03 Februari 2010 00:01 WIB
Selasa, 02 Februari 2010 00:00 WIB
Senin, 01 Februari 2010 00:00 WIB
Sabtu, 30 Januari 2010 00:00 WIB
Jumat, 29 Januari 2010 00:00 WIB
Kamis, 28 Januari 2010 00:00 WIB
Rabu, 27 Januari 2010 00:00 WIB


   Index Berita