Advertisiment
Menyulap Utang Menjadi BLT
Jumat, 12 Juni 2009 00:01 WIB      54 Komentar     0   0

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

HASIL pemeriksaan keuangan pemerintah pusat tahun 2008 yang diberikan Badan Pemeriksa Keuangan kepada DPR, Selasa (9/6) lalu, menyentak banyak pihak. Program pemerintah dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT) ternyata anggarannya berasal dari utang.

Bantuan langsung tunai tergolong kelompok pertama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, yang dananya berasal dari Bank Dunia. Ironisnya, utang itu termasuk utang komersial karena bunganya mencapai 12%-13%. Bukan pinjaman lunak dari lembaga internasional, yang rata-rata bunganya hanya sekitar 4%-6%.

Memang tidak seluruh anggaran BLT ditutup dari utang. Walau hanya sebagian, toh tetap saja sudah melenceng dari tujuan digulirkannya program bantuan langsung tunai. BLT yang tadinya dimaksudkan untuk meringankan rakyat miskin justru nantinya akan membebani rakyat.

Sejak awal program BLT telah mengundang kontroversi. Ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak dua kali pada Maret dan Oktober 2005, jaring pengaman pun dibuat sebagai kompensasi untuk warga miskin lewat program BLT. Sekitar 19,1 juta kepala keluarga diberi uang Rp100 ribu per bulan selama setahun.

Namun, pelaksanaan program itu tidak berjalan mulus. Bukan hanya dananya banyak yang tidak utuh sampai ke tangan warga miskin, melainkan juga telah meminta korban jiwa karena kelelahan mengantre atau terinjak-injak.

Program BLT juga dinilai tidak mendidik masyarakat dan hanya mengentalkan mental pengemis warga miskin. Pemerintah dituding hanya menyodorkan ikan, bukan kail. Rakyat miskin tidak diberdayakan agar mampu keluar dari kemiskinan.

Meski kritik bermunculan dan hasil survei menyebutkan bahwa efektivitas BLT hanya sekitar 55%, pemerintah tetap saja 'ngotot' menggulirkan BLT. Untuk tahun ini saja, program yang kini bernama BLT plus--karena selain uang warga miskin juga memperoleh gula dan minyak goreng-- pemerintah menyediakan anggaran hingga Rp28 triliun.

Yang menjadi persoalan, mengapa program BLT harus dari utang? Padahal, utang pemerintah terus menggelembung hingga mencapai Rp1.600 triliun. Itu sama artinya, setiap penduduk Indonesia harus menanggung sekitar Rp12 juta utang pemerintah.

Tidak efektifnya program BLT juga bisa dilihat dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Meski APBN 2009 jauh meningkat hingga Rp1.034 triliun dari sebelumnya Rp380 triliun pada 2004, anggaran untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan juga ikut naik tajam. Bila pada 2004 anggaran kemiskinan baru mencapai Rp18 triliun, pada 2008 melompat hingga Rp70 triliun. Itu sama artinya, jumlah orang miskin dan pengangguran kian bertambah.

Karena itu, BLT dari utang merupakan bentuk lain dari korupsi kebijakan. Utang bukan untuk kegiatan yang produktif, melainkan justru untuk urusan konsumtif yang diberikan secara gratis.

Rasionalitas publik semakin terganggu ketika program BLT itu dipakai sebagai kampanye keberhasilan pemerintah dalam pemilu.

Kebijakan menyulap utang menjadi BLT bagaimanapun harus segera dihentikan. Kemiskinan janganlah terus dijadikan komoditas politik. Beruntung masih ada BPK di bawah Anwar Nasution yang bisa mencium praktik-praktik yang bisa membangkrutkan negara.

Sent from my BlackBerry® powered by

Bookmark and Share  

KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
Lihat Komentar
Klik pada tombol + untuk melihat komentar pada article ini !

05-09-2009 22:40:56 WIB
Oleh: Mustofa
Tidak setuju

Kami Aparat desa Curahkalong Bangsalsari jember Jatim Sangat tidak setuju dengan adanya program Banntuan tunai ,karena menambah desa tidak konlusif contohnya masyarakat yang tidak kebagian BLT ,setiap malam perangkat didatangi banyak masyarakat bahkan sampai dengan mengancam,jadi untuk tahun 2010 lebih baik dihapus aja.




12-06-2009 20:31:07 WIB
Oleh: Insurgent
Bukan Rahasia Lagi...

Sekali lagi pemerintah telah mengibuli rakyatnya dgn obral janji manis yg tidak sesuai dgn realitas lapangan sebenarnya. BLT dan kroni2nya hanya alat untuk meningkatkan popularitas pemerintah di mata rakyat. bukan untuk menyelesaikan substansi permasalahan mereka yang krusial. eh, ini malah ngobati yang pinggiran saja...




12-06-2009 20:29:05 WIB
Oleh: fengky
Mental Utang

Pemerintah Indonesia mentalnya cuma mental Utang.....mental orang miskin..... gimana rakyatnya ga ikutin miskin kalo pemerintahnya saja punya mental orang miskin gitu......




12-06-2009 18:58:50 WIB
Oleh: Ranti
Dilema

Sebenernya itu siapa yang salah atau siapa yang benar? Sebaiknya sebagai WNI kita sendiri menengok diri kita sendiri, apa kontribusi kita terhadap warga miskin disekitar kita. Jika semua WNI yang mampu mau mengeluarkan zakat dan sedekah, saya yakin pemerintah akan sampai ngutang.




12-06-2009 17:52:04 WIB
Oleh: faj
Kebijakan

Salam. itu betul aapa isu, memang sangat jauh dari pencapaian cita2 tentang negara mengentaskan kemiskinan, tapi upaya dan langkah yang dicapai itu entah dari mana saja bisa lurus bisa belok,,, politik adalah sebuah drama, kelakuan tokoh bukan kelakuan dan sifat asli...melainkan bermain peran yang cuma hannya main-main. tipu menipu saling menjatuhkan.... tak ada yang rill dalam memegang amanah..........




12-06-2009 16:55:12 WIB
Oleh: ani yudhoyono
Kebijakan demi Citra & citra..

Itulah efek dari pilpres langsung.. semuanya demi untuk mengangkat sebuah citra.. Kalo money politik dengan uang sendiri untuk mengangkat citra pun sudah menyalahi aturan. Kalo ini bukannya berpikir kebalik tetapi KEBLABASAN..




12-06-2009 16:31:15 WIB
Oleh: mbby
BLT untuk Si Miskin Bukan Pejabat & Penjahat

Wajar aja kali, BLT toh buat orang miskin, yang ribut ko jadi yang nga dapat sich. Bangsa kita dari dulu biaasa ngutang toh, orang kaya sekarang kalau nga ngutang nga keren kali. Liat aja sekitar kita.......




12-06-2009 16:25:32 WIB
Oleh: Rianto Sihite
Ada Udang dibalik Batu

Pencitraan itu baik, ttp jngn melalui kesusahan rakyat melainkan melalui keberhasilan. SBY melalui iklannya salah satu berhasil menaikkan citranya adl BLT, ttp ternyata BLT berasal dr hutang komersil bkn dr pendapatan hsl dr pertumbuhan ekonomi (pajak,dll). Itupun yg BLT bkn ide SBY , ttp JK. Tolong SBY jngn suka bohongi rakyat, Tuhan tdk bisa dibongi terbukti bencana-kecelakan silih berganti!!




12-06-2009 15:51:27 WIB
Oleh: Aris Tumanan
Mencari Popularitas Sesaat

Bantuan BLT sebesar Rp 28 Trilliun, bila dijadikan investasi membuka lapangan kerja, untuk menampung orang miskin mendapatlkan pekerjaan maka tentu akan bisa merubah kehidupan menjadi lebih baik. Pemerintah SBY jgn cari popularitas sesaat, Program BLT anak SD pun bisa, dengan hanya membagi2 uang. Terima kasih.




MORE NEWS
Selasa, 09 Februari 2010 00:01 WIB
Senin, 08 Februari 2010 00:01 WIB
Sabtu, 06 Februari 2010 00:01 WIB
Jumat, 05 Februari 2010 00:00 WIB
Kamis, 04 Februari 2010 00:01 WIB
Rabu, 03 Februari 2010 00:01 WIB
Selasa, 02 Februari 2010 00:00 WIB
Senin, 01 Februari 2010 00:00 WIB
Sabtu, 30 Januari 2010 00:00 WIB
Jumat, 29 Januari 2010 00:00 WIB
Kamis, 28 Januari 2010 00:00 WIB
Rabu, 27 Januari 2010 00:00 WIB


   Index Berita