Advertisiment
Mentalitas Menteri
Selasa, 18 Agustus 2009 00:00 WIB      36 Komentar     0   0

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

APAKAH yang tidak berubah setelah kita merdeka 64 tahun? Salah satu jawabannya adalah mentalitas elite bangsa. Tidak berubah, bahkan bertambah parah.
Bukti paling mutakhir bagaimana perangai menteri terhadap Wakil Presiden Jusuf Kalla. Setelah dinyatakan kalah dalam pemilu presiden, Jusuf Kalla dijauhi para menteri. Satu per satu para menteri menghindar, bagaikan menghindari penderita kusta.
Padahal, Jusuf Kalla masih menjadi wakil presiden sampai 20 Oktober nanti. Akan tetapi, dalam berbagai tugas pemerintahan ke daerah, menteri enggan mendampinginya. Sangat \'kurang ajar\', mereka bahkan tidak menugasi pejabat eselon satu, tetapi mengirim eselon dua.
Bayangkanlah apakah yang akan terjadi bila presiden yang sedang menjabat alias incumbent yang kalah dalam pemilu presiden. Perkara yang serupa jualah yang akan terjadi. Sang menteri satu demi satu menjauh, sekalipun masih tiga bulan lagi sang presiden resmi memimpin kabinet.
Dengan fakta yang dihadapi Wakil Presiden Jusuf Kalla itu ada baiknya diteruskan gambaran, apakah pula yang akan terjadi setelah Pemilu Presiden 2014? Pada saat itu, SBY telah menjadi presiden untuk dua kali masa jabatan sehingga ia pun harus lengser dari kekuasaan.
Akan tetapi, sekalipun masa jabatannya belum berakhir, sekalipun 20 Oktober 2014 belum tiba, kiranya banyak menteri pun mulai menjauhinya. Mereka lebih tertarik mendekati presiden yang baru...
Proyeksi itu sangat sahih dilakukan karena tidak akan ada revolusi mental elite bangsa dalam lima tahun ke depan. Buktinya, 64 tahun merdeka, 10 tahun reformasi, tidak mengubah mentalitas elite bangsa.
Kebanyakan menteri bukanlah manusia yang merdeka. Sesungguhnya, para menteri masih budaknya feodalisme. Mereka masih orang jajahan.
Ciri-ciri mentalitas itu adalah berorientasi ke atas, menghamba kepada kekuasaan. Jusuf Kalla tidak layak lagi didekati, apalagi diikuti, sebab ia praktis telah lengser dari kekuasaan. Maka, habis manis sepah pun dibuang.
Para menteri umumnya memang hidup dengan reserve. Umumnya takut kehilangan jabatan. Yang masih ingin menjadi menterinya SBY lantas mengambil sikap menjauh dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Bukankah yang akan menjadi wapres adalah Boediono?
Menjadi menteri jelaslah orang pilihan. Inilah elite bangsa yang jumlahnya sangat sedikit. Tetapi, betapa celaka bangsa dan negara ini karena umumnya mereka tidak memiliki kedirian yang kuat.
Menjadi menteri menjadi pembantu presiden. Dan itulah pembantu yang superbody karena berwenang dan berkuasa mengambil kebijakan publik.
Karena memiliki wewenang dan kekuasaan untuk mengambil kebijakan publik, inilah pembantu yang menyandang etika dan tanggung jawab publik. Di sinilah ia berbeda dengan pembantu rumah tangga.
Namun, semua perihal kepublikan itu tenggelam mentalitas feodal, yang berorientasi ke atas, cantol kepada kekuasaan. Buat apa mendampingi wakil presiden yang bakal lengser?
Sebaik-baiknya perkara janganlah angkat menteri yang bermental terjajah seperti itu. Carilah menteri yang cakap secara konseptual dan fungsional, tetapi juga sosok yang telah menemukan dan memiliki dirinya sendiri untuk mengabdi kepada kepentingan publik.
Kiranya sosok seperti itu bukanlah sosok yang besar karena dikarbit, yaitu digendong partai yang berkoalisi. Menteri seperti itu akan berorientasi ke atas. Besar, tapi keropos.

Sent from my BlackBerry® powered by

Bookmark and Share  

KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
Lihat Komentar
Klik pada tombol + untuk melihat komentar pada article ini !

20-08-2009 12:57:19 WIB
Oleh: koko
Mental penjilat

Itulah Indonesia yang kita bangga banggakan, kalau yang diatas sana seperti itu bagaimana rakyatnya. Itulah namanya "PENJILAT" disuruh menjilat sepatupun mau demi jabatan . . . . kita masyarakat sanat prihatin. Sekarang nggak usahlah berbicara nasionalisme atau pancasila segala, yang jelas itu mentalitas manusia-manusia kardus. (kalau memang pernyataan diatas benar)




19-08-2009 00:19:39 WIB
Oleh: Hendrik Malonda
Mental, budaya versus jati diri

Menteri-menteri kabur ..... menjauh. ", bagaikan menghindari penderita kusta". Penyebabnya antara lain ; 1st Mental menteri, 2nd Budaya PENGEKOR, 3rd JATI DIRI (pemimpin ....), 4th Pengaruh CUACA domestik/lokal




18-08-2009 17:29:31 WIB
Oleh: Sunaryo
Tak pantas

Nampaknya integritas para Menterilah yang patut dipertanyakan. Mengapa mereka bisa jadi Menteri?




18-08-2009 17:23:49 WIB
Oleh: wawan
mentalitas mentri

sebab dari dulu sudah budaya bahkan ada pepatah ada gula pasti ada semut jadi kalau begitu mental semut ditumbuh kembangkan jadi seolah tidak ada perubahan pada mental setiap orang jadi reformasi cuma redaksi kata saja.




18-08-2009 16:19:52 WIB
Oleh: Yanto
Mental Kacung

Saya tak heran kok, memang sejak lama sebagian para menteri bangsa ini bermental kacung. Maklum warisan penjajah yang tak mudah hilang.




18-08-2009 15:48:57 WIB
Oleh: fajar
Masa Bodoh lah

Saya sebagai masyarakat kebanyakan masa bodoh dgn itu semua. Mau menterinya memble, mentalnya kacung sebodoh amat. Toh selama ini mereka ada dan tidak, tidak berpengaruh untuk hidup saya dan keluarga. Saya bisa mainkan saham.reksadana dgn baik.Kondisi buruk or baik tetap memberi keuntungan buat bisnis saya.




18-08-2009 15:27:11 WIB
Oleh: abc
memang begitu

Tidak heran kalau para menteri bersikap begitu, karena mereka dipilih berdasar sikap pejah gesang nderek..... Coba ingat ada Menteri dari Partai A tapi jadi tim suksesnya D. Kelihatannya hanya satu menteri yang punya harga diri. Cewek pula itu.




18-08-2009 14:53:51 WIB
Oleh: herman soesilo
besar tapi keropos

besar tapi keropos.... bandingkan dengan founding fathers yang saling bicara dan mendebat pemimpin tanpa beban pakai kacak pinggang dengan bahasa belanda, tata pikir modern, demokratis dan egaliter...saya masih menyaksikan itu di tahun 50-an.




18-08-2009 14:32:19 WIB
Oleh: Salman BIntang
Mentalitas Menteri

Wahai menteri......ingatlah ketika engkau diamanahkan untuk rakyat agar pengabdianmu tuntas buat rakyat. Ingatlah ketika engkau diambil sumpah agar "....(setia kepada atasanmu)". Ingatlah ketika engkau mengharapkan agar engkaulah yang ditunjuk oleh mereka untuk mendampingi dan membantu tugas mereka membangun negeri tercinta ini. Ingatlah......




MORE NEWS
Selasa, 09 Februari 2010 00:01 WIB
Senin, 08 Februari 2010 00:01 WIB
Sabtu, 06 Februari 2010 00:01 WIB
Jumat, 05 Februari 2010 00:00 WIB
Kamis, 04 Februari 2010 00:01 WIB
Rabu, 03 Februari 2010 00:01 WIB
Selasa, 02 Februari 2010 00:00 WIB
Senin, 01 Februari 2010 00:00 WIB
Sabtu, 30 Januari 2010 00:00 WIB
Jumat, 29 Januari 2010 00:00 WIB
Kamis, 28 Januari 2010 00:00 WIB
Rabu, 27 Januari 2010 00:00 WIB


   Index Berita