Advertisiment
Pentas Wajah tidak Bersalah
Sabtu, 07 November 2009 00:01 WIB      61 Komentar     0   0

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

HEBOH kasus Bibit dan Chandra, yang oleh publik dianggap pantas disebut sebagai skandal, sedang mengganggu pikiran, nurani, dan akal sehat. Apa yang berkecamuk dalam pikiran publik tentang keadilan, kebenaran, dan nurani, bertolak belakang dengan apa yang dengan gigih dipertontonkan oleh konstruksi berpikir hukum para pejabat negara.

Publik yang bagian terbesar adalah khalayak yang tidak mengerti hukum, tetapi memiliki nurani, menganggap kepolisian dan kejaksaan sebagai pihak yang bersalah. Tuduhan itu semakin meyakinkan ketika rekaman pembicaraan Anggodo Widjojo dengan sejumlah pejabat tinggi kejaksaan dan kepolisian diperdengarkan secara terbuka di Mahkamah Konstitusi.

Proses kebenaran formal yang dicari sampai hari ini buntu, sementara publik semakin tidak percaya pada lembaga penegak hukum, khususnya kepada kejaksaan dan kepolisian.

Karena proses pengadilan terhadap Bibit dan Chandra, dua pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi yang dinonaktifkan, berjalan amat lamban, maka yang terjadi adalah pengadilan oleh dan di depan publik. Bibit, Chandra, Kapolri, Susno Duadji, Jaksa Agung, dan Anggodo berlomba-lomba memberi tahu publik bahwa mereka tidak bersalah. Yang paling kentara melakukan safari untuk memenangkan kebenarannya adalah kepolisian.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri bersafari ke forum pemimpin redaksi media massa, lalu ke Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat. Bahkan Tim 8, tim yang dibentuk untuk mencari kebenaran skandal ini, juga dimanfaatkan untuk mengukuhkan kebenaran.

Dari tiga titik safari kebenaran itu, baru Komisi III DPR yang kelihatan memuji kepolisian. Karena, tentu, inilah lembaga yang mendewakan konstruksi berpikir prosedural.

Kapolri gagal memperoleh dukungan di media massa dan Tim 8, apalagi publik. Istilah cecak dan buaya yang diminta agar tidak lagi digunakan, malah kian gencar dipakai dengan beragam ejekan yang menggelikan.

Ketika berbicara tentang kredibilitas publik, polisi, dan DPR tidak bisa hanya bertopang pada konstruksi berpikir legalistik formal. Tidak ada wajah yang menyesal karena tidak memperoleh dukungan publik. Atau karena tidak mampu berpikir dan bertindak searah dengan nurani, jiwa, dan akal sehat publik.

Berbicara buka-bukaan di DPR yang dilakukan Kapolri malah menuai ketidakpercayaan baru kepada kepolisian. Karena semua orang yang disebut dalam pertemuan itu membantah. Yang percaya dan bertepuk tangan hanya anggota DPR, khususnya Komisi III.

Jadi, skandal yang amat menyakiti hati publik ini janganlah dipersempit seakan hanya perseteruan polisi, KPK, dan kejaksaan. Kalau kepolisian dan kejaksaan, termasuk DPR, tidak memperoleh kepercayaan publik, itu karena kegagalan mereka memberantas korupsi.

Publik merasa dan menyaksikan korupsi yang menjadi-jadi, tetapi kepada mereka dipertontonkan wajah-wajah yang tidak bersalah. Polisi yang tidak bersalah, DPR yang tidak bersalah, kejaksaan yang tidak bersalah. Ini justru kesalahan amat fatal dari eksistensi kita bernegara.

Sent from my BlackBerry® powered by

Bookmark and Share  

KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
Lihat Komentar
Klik pada tombol + untuk melihat komentar pada article ini !

17-11-2009 17:58:47 WIB
Oleh: fitrianingsih
negara hancur

saya termasuk orang yang sudah tidak percaya dengan kepemimpinan di Indonesia. mulai dr sidang, sampai debat pendapat di tv dan apa lah yang tidak pernah ketemu ujung masalahnya. Kasihan negara ku Indonesia ini yang seharusnya mewangi menjadi bau karena bobroknya orang-orang yang duduk diatas sana. Harus segera bertobat ya wahai pemimpin-pemimpin ku sebelum Allah menurunkan azabNya. jangan sampai negara ini hancur karena ulah segelintir orang.




10-11-2009 16:27:18 WIB
Oleh: Haryono
Wajah=wajah yang tidak

Sebetulnya yang dipertontonkan adalah wajah-wajah yang tidak "merasa" bersalah - meski tanpa didukung nurani & rasa keadilan. Sayang kita membayar dengan biaya tinggi untuk semua kemegahan yang nggak bermutu ini - apa lagi kalau masih pada ngotot melangkah ke-jalan yang salah & berlarut-larut diniarkan karena RI-1- nya yang notabene diberi mandat penuh oleh rakyat "merasa" tidak berwenang... Atau harus dengan "tangan Tuhan" ??




10-11-2009 05:42:32 WIB
Oleh: Iwan
PAKAI CARA HIPNOTIS

Salah satu tim pencari fakta harusnya ahlii hipnotis, yang bisa menuntun orang yang terlibat dalam kasus ini untuk menjawab pertanyaan dengan jujur.




08-11-2009 22:59:00 WIB
Oleh: galuh
dengarkan rakyat

Anggota DPR dipilih rakyat, kapolri dan jaksa agung dipilih presiden, presiden dipilih rakyat, dengarkan suara rakyat aja biar aman




08-11-2009 22:22:44 WIB
Oleh: najwa not shihab
absurd

..tidak banyak komentar yg mau saya tulis,cukup enam kata..i dont care with this case...




08-11-2009 21:46:16 WIB
Oleh: nurdin
bangsa yg di telan oleh bumi

inilah tanda2nya kehancuran suatu bangsa.rasulullah S A W bersabda : dipintu gerbang hari kiamat akan muncul tahun kepalsuan ( kehidupan yg penuh kepalsuan ),dimana orang-orang jujur akan menjadi tertuduh dan orang-orang yg mestinya tertuduh dipercayai,dan pada massa itu pula muncul " arrawaibidhah "lalu sahabat bertanya apakah itu " arrawaibidhah " ya rasulullah ?, yaitu : orang bodoh yang berbicara tentang urusan-urusan masyarakat umum ( HR AHMAD )




08-11-2009 21:45:09 WIB
Oleh: nurdin
bangsa yg di telan oleh bumi

inilah tanda2nya kehancuran suatu bangsa.rasulullah S A W bersabda : dipintu gerbang hari kiamat akan muncul tahun kepalsuan ( kehidupan yg penuh kepalsuan ),dimana orang-orang jujur akan menjadi tertuduh dan orang-orang yg mestinya tertuduh dipercayai,dan pada massa itu pula muncul " arrawaibidhah "lalu sahabat bertanya apakah itu " arrawaibidhah " ya rasulullah ?, yaitu : orang bodoh yang berbicara tentang urusan-urusan masyarakat umum ( HR AHMAD )




08-11-2009 21:22:41 WIB
Oleh: john
pentas wajah tak bersalah

begitulah wajah penegak hukum kita,baru sekarang smua terbuka,tak ada bangkai yg tak tercium walaupun disembunyikan




08-11-2009 21:16:47 WIB
Oleh: titik W
jangan suka menghakimi

seluruh saudaraku WN Indonesia,sudah sering kita lihat sejak pilpres kemarin siapa media media yg mengatasnamakan kebenaran membuat ulasan ulasan yg akhirnya mereka malu sendiri,siapa tokoh tokoh yg kerjanmya menyebar kewbencian dan fitnah akhirnya frustasi,coba perhatikan orang yg bikin kacau ya itu itu saja,jadi kita harus cerdas menghadapi situasi ini jgn mau dibohongi lagi




MORE NEWS
Selasa, 09 Februari 2010 00:01 WIB
Senin, 08 Februari 2010 00:01 WIB
Sabtu, 06 Februari 2010 00:01 WIB
Jumat, 05 Februari 2010 00:00 WIB
Kamis, 04 Februari 2010 00:01 WIB
Rabu, 03 Februari 2010 00:01 WIB
Selasa, 02 Februari 2010 00:00 WIB
Senin, 01 Februari 2010 00:00 WIB
Sabtu, 30 Januari 2010 00:00 WIB
Jumat, 29 Januari 2010 00:00 WIB
Kamis, 28 Januari 2010 00:00 WIB
Rabu, 27 Januari 2010 00:00 WIB


   Index Berita