Advertisiment
Metode Baru Pertanian Hasilkan Panen Gabah 17 ton/Hektare
Senin, 09 November 2009 12:34 WIB      9 Komentar     1   0
Penulis : Akhmad Safuan

CETAK

KIRIM

DIGG

FACEBOOK

Metode_Baru_Pertanian_Hasilkan_Panen_Gabah_17_tonHektare

Antara/Seno Soegondo

PATI--MI: Kelompok tani Tani Rukun di Dusun Cepoko, Desa Nagel, Kecamatan Dukuh Sekti, Kabupaten Pati, Jawa Tengah temukan metode baru penanaman padi berhasil menghasilkan panenan mencapai 16 - 17 ton/hektare diatas rata-rata 6 - 7 ton/hektare gabah kering giling.

Ketua Serikat Petani Pati Mohammad Farid Makruf sebagai pembina kelompok tani tersebut mengatakan hasil penan ujicoba metode baru bidang pertanian ini sangat mengejutkan, selain hasil panen jauh di atas rata-rata panen pada umumnya, juga terjadi penghematan pengeluaran (modal) hingga 30 - 40 persen dari kebiasaan petani di Indonesia.

Metode baru bidang pertanian ini, demikian Farid, merupakan upaya dilakukan kelompok tani Tani Rukun, Pati dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan nasional, dimana pada tahun 2020 mendatang sesuai bertumbuhan penduduk Indonesia paling tidak dengan luas lahan yang ada sekarang ini harus bisa menghasilkan 15 ton/hektare.

"Saya melakukan penelitian dan menimba ilmu dari berbagai pakar pertanian di Bogor, Bandung, Yogyakarta dan bahkan luar Jawa selama empat tahun untuk dapat menghasilkan produksi gabah yang cukup baik ini," kata farid.

Ditanya tentang metode dan penghematan yang dilakukan, menurut Farid ternyata sangat sederhana yaitu selain sistem pengolahan lahan dari mulai pencangkulan yang berbeda dengan penggunaan traktor dan juga sistem penanaman yang dilakukan seperti pada umumnya berjarak maksimum 20 cm tetapi kini direnggangkan menjadi 23 0 40 cm/padi dengan jumlah tanaman hanya 1 - 2 batang saja.

Demikian dalam pemanfaatan pupuk kandang dan kencing sapi dilakukan, ujar Farid, namun penggunaan pupuk urea tetap dilakukan meskipun dalam jumlah yang jauh dikurangi, yaitu dari kebiasaan petani menggunakan 250 kg/Ha menjadi 150 kg/hektare. "Sedangkan pengusir hama atau pengganggu tanaman, kita menggunakan empon-empon dan bumbu dapur seperti laos, jahe, kunyit, bawang," tambahnya.

Pada uji coba pertama ini sebanyak 22 Hektare sawah yang ada di dusun Cepoko, demikian farid, satu hektare dilakukan dengan metode baru dan pengawasan ketat dan menghasilkana panenan sebanyak 17,5 ton, sedangkan 21 hektare lainnya hanya menggunakan setengah metode dan pengawasan standar menghasilkan 8 - 10 ton/hektare. (AS/OL-02)

Sent from my BlackBerry® powered by

Bookmark and Share  

KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
Lihat Komentar
Klik pada tombol + untuk melihat komentar pada article ini !

07-02-2010 20:55:39 WIB
Oleh: juju
Pati mina tani

Syukur alhamdulillah ................manusia berusaha allah akan mengabulkan...selamat atas karya cipta semoga pati bisa memenuhi pangan dari daerahnya sendiri ...........




18-01-2010 22:01:18 WIB
Oleh: gemblung pamuji
Raskin apa kekerasan untuk orang miskin?

Oleh karena miskin, lantas beras jatah yang dibeli sering dengan jalan pinjam uang sama tetangga, kurang memenuhi standard gizi, pun begitu raskin apapun alasannya masih sangat dibutuhkan, khususnya bagi yang berkepentingan menjual beras kedaluwarsa. hal itu terjadi pada 4 bulan terakhir jatah raskin 2009 di kecamatan margoyoso pati.




07-12-2009 15:33:46 WIB
Oleh: nasih
Harapan itu memang ada

Semoga saja metode tersebut cocok untuk areal lain dalam skala yang lebih luas dan untuk waktu yang berkelanjutan ke depan. Kita tunggu kabar sukses berikutnya !




03-12-2009 19:51:18 WIB
Oleh: sulipartono
jadi tani aja

pa'de saya pingin kawruhnya dari metodenya gimana, tapi seingatku pati itu kantong ternak jadi ya wajar dengan hasil segitu. kotoran sapi pasti murah, urine apa lagi. ponakanne iki kasih tau rahasianya biar mantap keluar dari pekerjaan sekarang ini ( jadi kuli peternakan ) jadi petani aja sekalian pelihara sapi.jadi kumpul keluargo tentu saja. mosok nyugihkan wong wis sugih terus.




02-12-2009 13:58:45 WIB
Oleh: Nugraha
Ilmu yang bermanfaat

Pa' de, ini sangat bermanfaat bisa ga kita mendapatkan info yang detail....., mengenai hal ini. dan kt dapat menghubungi pa de, kenomer brapa ya?




28-11-2009 12:17:42 WIB
Oleh: imam
luar biasa

bos kadar tanahnya gimana, terus benihnya pakai vareitas, apa kaya nga masuk akal dan perawatanya gimana dari pra tanam sampai panen. mohon pencerahannya




25-11-2009 16:47:57 WIB
Oleh: jokosantoso
tolong bagi rahasianya

assalamualaikum, gembira sekali bisa dapat info ini,panen 1 are bisa sampai 17 ton,tapi mohon info ini di bagikan ke kami -kami ini ya,bapak saya petani,tentu akan sangat membantu perekonomian kami,walaupun sawah kami tidak sampai setengah hektar.nuwun




23-11-2009 21:15:07 WIB
Oleh: Abilyudi
Hebat

Salut, hebat. Mohon penjelasan jarak tanam yg dimaksud apa 23cm x 40cm.? Terus urea di tebar rata atau di berikan per batang.
Pemupukanya pada hari ke berapa? Pupuk kandang berapa kg, dan kencing sapi brp liter. Komposisi empon2 berapa per tangki semprot.




22-11-2009 01:03:36 WIB
Oleh: M. Farid Ma'ruf
Ralat

1. Hasil panen bukan gabah kering tapi gabah basah. 2. Lahan yang lain (21 hektar) yang tidak sepenuhnya melakukan aturan-aturan yang disepakati menghasilkan antara 13-15 ton gabah basah/ha. Terima kasih. Salam, Farid Pati




MORE NEWS
Sabtu, 06 Februari 2010 23:28 WIB
Jumat, 05 Februari 2010 12:50 WIB
Rabu, 03 Februari 2010 14:32 WIB
Sabtu, 30 Januari 2010 17:40 WIB
Sabtu, 30 Januari 2010 14:08 WIB
Jumat, 29 Januari 2010 13:12 WIB
Jumat, 29 Januari 2010 12:08 WIB
Jumat, 29 Januari 2010 11:37 WIB
Kamis, 28 Januari 2010 20:07 WIB
Kamis, 28 Januari 2010 12:32 WIB
Selasa, 26 Januari 2010 15:31 WIB
Senin, 25 Januari 2010 21:50 WIB


   Index Berita