Advertisiment
2012 tidak Perlu Dilarang
Selasa, 17 November 2009 14:52 WIB      0 Komentar     0   0

CETAK

KIRIM

FACEBOOK

2012 tidak Perlu Dilarang

ANTARA/Ari Bowo Sucipto

SURABAYA--MI: Sosiolog Islam Prof Dr H Nur Syam MA menilai film 2012 tak perlu dilarang, karena masyarakat hanya ingin tahu dan mereka pun pasti akan tetap berpikir rasional.

"Tahun 1990-an sudah pernah ada film serupa dengan judul The Day After Tomorrow yang menggambarkan kerusakan yang menyisakan beberapa orang untuk kehidupan baru," katanya di Surabaya, Selasa (17/11).

Di sela-sela menerima kunjungan Dubes Kanada Mackenzie Clugston ke rektorat IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Nur Syam yang juga Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya itu mengemukakan hal itu menanggapi 'larangan' MUI Kabupaten Malang untuk film itu.

"Mengenai kapan terjadinya hari kiamat merupakan kuasa dari Sang Pencipta. Jadi, kita tidak boleh menentukan hari ataupun tahunnya. Jika hal itu terjadi maka bisa menyesatkan," kata Ketua MUI Kabupaten Malang KH Mahmud Zubaidi di Malang (16/11).

Menurut Prof Nur Syam, larangan itu tidak perlu, karena film itu tidak akan menduniawikan kiamat atau mendangkalkan akidah, sebab masyarakat yang menonton film itu sudah tahu bahwa film itu hanya fiksi.

"Yang namanya fiksi itu hanya untuk memenuhi keingintahuan atau rasa penasaran orang, apalagi bila di dalamnya ada imbas dari media massa yang mendorong untuk menonton film itu, seperti media massa yang 'mengundang' paranormal untuk mengomentari," katanya.

Oleh karena itu, katanya, larangan untuk rasa ingin tahu itu akan sia-sia, sebab Al Quran juga tidak memberi gambaran secara rinci tentang kiamat, sehingga muncul pertanyaan eskatologis atau mau dibawa kemana dunia ini sebenarnya.

"Jadi, masyarakat ingin tahu kiamat secara empiris, sebab mereka sudah familiar dengan kata-kata kiamat, tapi film itu hanya gambaran yang bersifat fiksi, sehingga mereka yang menonton film itu pun tidak akan terlalu meyakini," katanya.

Ia menambahkan tahun 2012 yang disebutkan dalam film itu pun tidak akan dianggap sebagai kebenaran, karena tahun itu hanya menunjukkan judul.

"Soal ada gereja di dalam film itu pun akan dilihat sebagai kebetulan, karena pembuat film itu mungkin beragama nasrani. Jadi, semuanya wajar dan masyarakat tetap akan dapat memilah-milah informasi dari film itu. Yang penting, rasa ingin tahu sudah terpuaskan. Hanya itu," katanya. (Ant/OL-06)

Bookmark and Share  

KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
Lihat Komentar
Klik pada tombol + untuk melihat komentar pada article ini !

MORE NEWS
Kamis, 02 September 2010 06:21 WIB
Selasa, 31 Agustus 2010 10:12 WIB
Senin, 30 Agustus 2010 11:09 WIB
Jumat, 27 Agustus 2010 23:39 WIB
Kamis, 26 Agustus 2010 11:06 WIB
Selasa, 24 Agustus 2010 14:55 WIB
Senin, 23 Agustus 2010 10:06 WIB
Senin, 23 Agustus 2010 00:19 WIB
Jumat, 20 Agustus 2010 15:03 WIB
Selasa, 17 Agustus 2010 13:24 WIB
Senin, 16 Agustus 2010 06:05 WIB
Rabu, 11 Agustus 2010 15:23 WIB


   Index Berita