JAKARTA-MI: Perjanjian perdagangan bebas yang telah berlangsung antara negara-negara ASEAN dengan China (AC-FTA) dinilai tidak akan efektif tanpa adanya revaluasi mata uang Yuan. Pasalnya, dengan nilai Yuan yang rendah, produk negara-negara ASEAN akan sulit bersaing dengan produk China.
"Jika tidak ada perubahan kebijakan mata uang China, ASEAN akan sulit bersaing dari sisi perdagangan," kata Direktur dan Ekonom senior Deutsche Bank Taimur Baig kepada wartawan di Jakarta, Selasa (19/1).
Baig menjelaskan, perbedaan kebijakan mata uang dalam merespon pergerakan dolar AS menjadi kendala kerjasama perdagangan karena China mempertahankan nilai tukar Yuan tetap rendah. Nilainya Yuan saat ini, menurut dia, berada di bawah rata-rata mata uang internasional. Hal tersebut ditujukan untuk membuat harga barang-barang produksi negeri Tirai Bambu tersebut tetap rendah sehingga lebih kompetitif di pasar.
Di saat mata uang Yuan rendah, mata uang 10 negara Asean mengalami terus mengalami apresiasi. Ia mengambil contoh mata uang rupiah. Belakangan ini nilai tukar rupiah secara bertahap menguat terhadap dolar AS. Deutsche Bank sendiri memperkirakan rupiah akan menguat ke level Rp9.130 terhadap dolar AS pada 2010.
"Namun untuk jangka panjang kesepakatan ini akan membawa dampak positif. Negara-negara Asean hanya memerlukan waktu untuk mencapai manfaat penuh dari kerjasama ini," kata dia.
Lebih jauh, Baig memandang, ketahanan ekonomi Indonesia akan semakin kuat pada 2010. Menurut dia, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang dipatok oleh pemerintah tahun ini sebesar 5,55 diperkirakan akan tercapai. Pertumbuhan ekonomi global yang mulai pulih sejak akhir tahun 2009 akan memengaruhi Indonesia untuk membangun ketahanan ekonominya terhadap dampak krisis ekonomi global. Investasi dan perdagangan bakal menjadi pendorong utama pertumbuhan PDB di 2010.
"Tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan pasar keuangan domestik yang kuat membuat Indonesia relatif kebal terhadap krisis keuangan global. Ini menjadi landasan kuat bagi perekonomian yang stabil dan pertumbuhan yang berkelanjutan di 2010," kata dia.
Deutsche Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2010 akan didorong oleh investasi dan sektor perdagangan. Ini berbeda dengan pertumbuhan ekonomi 2009 sebesar 4,3% yang sebagian besar didorong oleh pertumbuhan konsumsi.
"Dengan sektor perekonomian dan manufaktur yang semakin kokoh sepanjang tahun lalu, perekonomian Indonesia di tahun 2010 semakin kuat," tuturnya.
Adapun tingkat inflasi diperkirakan mencapai rata-rata 6% tahun ini atau berada pada kisaran yang ditargetkan Bank Indonesia (BI), yaitu 4-6%. Suku bunga perbankan nasional tahun 2010 ini diperkirakan akan naik menyusul suku bunga acuan atau BI Rate yang diproyeksikan akan naik sebesar 1% menjadi 7,5% hingga akhir tahun.
"Suku bunga global akan mulai naik. Perbankan nasional juga akan menaikkan suku bunga dan BI rate sebesar 7,5%. Itu masih rendah," jelasnya.
Ia menambahkan, pihaknya memperkirakan pertumbuhan kredit tahun 2010 ini akan meningkat sebesar 18%. Pertumbuhan kredit ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan belanja pemerintah untuk pembangunan sektor infrastruktur.
Pihaknya pun yakin jika Indonesia tidak akan rentan kembali terhadap potensi dampak arus dana keluar dari investor asing seperti sebelumnya.
"Penandatanganan perjanjian transaksi pertukaran mata uang asing dengan China untuk memfasilitasi perdagangan bilateral, penggandaan transaksi pertukaran mata uang asing Indonesia-Jepang yang mencapai US$ 12 miliar serta fasilitas dana siaga senilai US$ 2 miliar dari Bank Dunia telah memberikan tingkat stabilitas ekonomi yang dapat meminimalisir akibat volatilitas yang terkait dngan arus keluar modal di masa lalu," terang Baig.
Secara global, pihaknya memperkirakan pertumbuhan PDB dunia mencapai 3,9% pada tahun 2010. Sementara PDB Amerika Serikat diperkirakan tumbuh 3,6% pada 2010, Jepang tumbuh 1,1%, dan negara-negara Uni Eropa yang menggunakan mata uang euro 1,5%. (Ant/OL-7)