Lantaran dosis yang diberikan sangat terbatas, Kemenkes memutuskan prioritas pemberian diberikan pada tenaga medis kesehatan serta petugas layanan umum. Sisanya baru diberikan pada penduduk yang hidup dengan risiko tinggi virus influenza A H1N1.
Terkait dengan besaran dosis bantuan, Tjandra mengaku tidak paham kriteria hitungan WHO. "Namanya saja bantuan, ya terserah yang memberi," komentarnya. Indonesia terus berupaya membuat vaksin influenza secara mandiri di perusahaan farmasi Biofarma.
Kampanye massal vaksinasi influenza A H1N1 sejatinya telah digencarkan terlebih dahulu di sejumlah negara seperti China, Australia, Amerika Serikat, dan sebagian negara Eropa. Idealnya, setiap penduduk mendapat vaksinasi agar kebal dari virus. Individu yang telah mendapat vaksin dipastikan secara medis lebih kuat dalam menghadapi fase pandemi gelombang kedua dan ketiga.
Tidak semua negara memiliki industri yang mampu membuat vaksin influenza A H1N1. Satu perusahaan farmasi, GlaxoSmithKline, produksi vaksinnya saja telah dipanjar oleh 22 negara lantaran terbatasnya jumlah vaksin dan sebaran penyakit ini yang makin meluas. Terakhir, total dosis yang dipesan mencapai 440 juta dosis dengan perkiraan nilai transaksi Rp35 triliun. Beberapa perusahaan lain yang mengklaim bisa membuat vaksin adalah Sanovi-Aventis, Baxter, AstraZeneka, dan Novartis. (Tlc/OL-04)
|
Kamis, 02 September 2010 17:43 WIB
|
|
Sabtu, 28 Agustus 2010 14:25 WIB
|
|
Sabtu, 28 Agustus 2010 09:49 WIB
|
|
Jumat, 27 Agustus 2010 13:22 WIB
|
|
Kamis, 26 Agustus 2010 14:01 WIB
|
|
Kamis, 26 Agustus 2010 13:28 WIB
|
|
Kamis, 26 Agustus 2010 12:52 WIB
|
|
Senin, 23 Agustus 2010 10:27 WIB
|
|
Minggu, 22 Agustus 2010 16:34 WIB
|
|
Sabtu, 21 Agustus 2010 17:39 WIB
|
|
Kamis, 19 Agustus 2010 17:31 WIB
|
|
Selasa, 17 Agustus 2010 15:24 WIB
|
Index Berita |