Advertisiment
Asosiasi Tekstil Tolak Bea Masuk Antidumping Polyester Staple Fiber
Jumat, 11 Juni 2010 03:33 WIB      0 Komentar     0   0
Penulis : Rini Widuri Ragillia

CETAK

KIRIM

FACEBOOK

JAKARTA--MI: Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menolak rencana penerapan bea masuk antidumping (BMAD) atas impor polyester staple fiber (PSF). Pasalnya, penerapan BMAD tersebut berdampak negatif terhadap industri spinning (pemintalan) dan sektor turunannya di Indonesia. Ini dikhawatirkan menekan daya saing manufaktur tekstil dan produk tekstil (TPT) lainnya.

Ketua Umum API Ade Sudrajat mengatakan, PSF merupakan bahan baku utama untuk memproduksi benang. Dia menuturkan, pada 2009, industri PSF di dalam negeri ada 30 perusahaan, sektor turunannya berjumlah 225 perusahaan (pemintalan), perusahaan produsen kain sebanyak 1.067 unit, dan industri garmen sebanyak 996 unit.

"Kami tidak akan memaksakan kehendak. Silakan pemerintah melihat kondisi yang ada. Silakan pemerintah mempertimbangkan mana yang dijadikan sebagai kepentingan nasional," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (10/6).

Selain itu, jika BMAD diterapkan, maka akan mengganggu ketersediaan pasokan PSF bagi industri TPT pengguna. Produsen PSF nasional berencana overhaul sehingga dapat semakin memperparah kekurangan pasokan.

"Sebanyak 30 perusahaan PSF nasional memproduksi sekitar 500 ribu, 286 ribu ton diekspor (data 2009). Untuk memasok kebutuhan industri pemintalan benang, dipasok dari dalam negeri sebesar 214 ribu ton dan impor sekitar 749 ribu ton. Jadi, ketergantungan impor PSF memang besar. Sepertinya, kondisi ini tidak jadi pertimbangan KADI," jelasnya.

Menurut Ade, akibat penerapan BMAD, kinerja industri pengolahan di dalam negeri akan menurun. Ini semakin menggerus ekspor nasional dengan akan naiknya harga PSF di dalam negeri. Harga PSF pada 9 Juni 2010 di Malaysia, Taiwan, dan Thailand senilai US$1,32 per kg, di China senilai US$1,28 per kg. Harga lokal saat ini sekitar US$1,48-1,52 per kg.

"Jika dihitung, harga lokal seolah-olah sudah memperhitungkan BMAD. Ada upaya produsen PSF lokal untuk menaikkan harga secara tidak rasional," ujarnya. Sebelumnya, pada 11 Mei 2010, Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) merekomendasikan pengenaan BMAD atas PSF impor dari India, Taiwan, dan sebagian dari China.

Lebih lanjut Ade mengungkapkan, saat ini, pihaknya tengah mengidentifikasi sejumlah HS produk TPT yang membutuhkan instrumen pengamanan perdagangan (safeguard) atau antidumping. "Saat ini masih diidentifikasi. Mungkin, pekan depan sudah bisa diinformasikan detailnya," kata Ade.

Terkait kinerja ekspor selama semester pertama 2010, dia optimistis bertumbuh sekitar 10% menjadi US$4,5 miliar dibandingkan periode sama 2010. Saat ini, sekitar 57% ekspor TPT nasional diserap oleh Amerika Serikat. (Ndu/OL-5)

Bookmark and Share  

KOMENTAR
Nama :
E-mail :
Judul Komentar :
Komentar :
   
Lihat Komentar
Klik pada tombol + untuk melihat komentar pada article ini !

MORE NEWS
Kamis, 02 September 2010 22:34 WIB
Kamis, 02 September 2010 16:11 WIB
Kamis, 02 September 2010 12:56 WIB
Kamis, 02 September 2010 01:49 WIB
Rabu, 01 September 2010 22:40 WIB
Rabu, 01 September 2010 20:10 WIB
Rabu, 01 September 2010 19:11 WIB
Rabu, 01 September 2010 18:40 WIB
Rabu, 01 September 2010 18:33 WIB
Rabu, 01 September 2010 17:59 WIB
Rabu, 01 September 2010 17:00 WIB
Rabu, 01 September 2010 14:47 WIB


   Index Berita