RI Negara Kunci Pelestarian Harimau
Penulis : Siswantini Suryandari
Senin, 19 Juli 2010 12:58 WIB     
komentar
0 Like Dislike 0

RI Negara Kunci Pelestarian Harimau
ANTARA/Yudhi Mahatma/ip
JAKARTA--MI: Perburuan harimau belum juga usai. Satwa langka itu terus diburu dan diselundupkan ke berbagai negara baik dalam kondisi hidup maupun mati. Bahkan anak-anak harimau sudah lazim dibunuh, dibekukan dan dikirim ke pasar satwa liar internasional.

Dari perhitungan WWF, spesies harimau di seluruh dunia hanya tersisa sekitar 3200 individu, yang meliputi enam sub spesies harimau Sumatra, Bengal, Amur, Indochina, China Selatan, dan Malaysia.

Kondisi harimau di habitatnya saat ini cukup kritis. Ancaman kepunahan mencakup hilang dan terfragmentasinya habitat yang tidak terkendali, berkurangnya jumlah mangsa alami, perburuan dan perdagangan ilegal, serta konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat harimau.

Sub-spesies yang ada di Indonesia, harimau sumatrra, dengan populasi sekitar 400 individu, mewakili 12% dari total populasi harimau di dunia. Kondisi ini telah menempatkan Indonesia sebagai negara kunci dalam pelestarian harimau di dunia.

Ancaman yang cukup serius ini, membuat 13 negara yang menjadi wilayah sebaran harimau dunia, mengadakan berbagai upaya untuk menghentikan laju kepunahan.

Menurut Direktur Kebijakan WWF Indonesia Nazir Foead menjelaskan, delegasi dari 13 negara sebaran harimau (tiger range countries) telah berhasil merumuskan dua naskah penting sebagai landasan pertemuan tingkat kepala negar di St Petersburg Rusia, 15-18 September mendatang.

Ketiga belas negara yakni Bangladesh, Bhutan, China, India, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Rusia, Thailand, dan Vietnam, telah menyusun draf Rencana Pemulihan Harimau Dunia (Global Tiger Recovery Plan), sebagai draf kesepakatan antarnegara untuk pelestarian harimau , serta konsep Deklarasi Para Kepala Negara (Leaders Declaration), dengan tujuan mendua kali lipatkan populasi harimau dunia di alam pada 2022, disesuaikan dengn penanggalan China bahwa pada tahun itu merupakan tahun Harimau.

Kedua naskah itu telah tuntas disusun oleh para delegasi saat berkumpul dalam acara Pre Tiger Summit Partners Dialouge Meeting, di Bali, 12-14 Juli lalu.

Adapun poin-poin penting yang menjadi landasan draf kesepakatan itu antara lain harimau merupakan satwa kunci bagi sehatnya sebuah ekosistem. Adapun upaya konservasi harimau merupakan tugas dan tanggungjawab masing-masing negara. Dukungan finansial dan teknis dari komunitas internasional dalam upaya penyelamatan harimau sangat dibutuhkan. (Nda/OL-9)

Share |

Advertisement
Advertisement