TIMIKA--MI: Direktur World Wildlife Fund (WWF)-Indonesia Region Sahul, Benja Mambai, mengingatkan 10 kabupaten di Papua yang wilayahnya masuk dalam kawasan Taman Nasional Lorentz perlu memperhatikan zonasi atau rencana pengelolaan kawasan itu dalam mengambil kebijakan pembangunan.
Hal itu dikatakan Benja Mambai saat kegiatan sosialisasi draf zonasi Taman Nasional Lorentz bertempat di Hotel Serayu Timika, Papua, Kamis (2/9).
"Semua pihak yang membuat kegiatan di dalam kawasan tersebut perlu memperhatikan zonasi yang telah dibuat agar kegiatan yang dilakukan tidak sampai mengorbankan bahkan merusak kawasan Taman Nasional Lorentz," kata Benja.
Ia menyebut 10 kabupaten yang berada dalam kawasan Taman Nasional Lorentz yaitu Mimika, Asmat, Paniai, Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya, Nduga, Lani Jaya dan Yahukimo. Kawasan Taman Nasional Lorentz sendiri memiliki luas sekitar 2.505.600 hektare yang berbatasan dengan Laut Arafura di selatan dan Taman Nasional Mamberamo di utara.
Menurut Benja, kebijakan pemekaran daerah (kabupaten) baru di wilayah Pegunungan Tengah Papua yang diikuti dengan pemekaran distrik serta kampung akan membawa dampak pada meningkatnya kebutuhan ruang atau lahan untuk pembangunan perkantoran, infrastruktur dan lainnya.
Karena itu, katanya, setiap kegiatan pembangunan apalagi yang dilakukan dalam kawasan Taman Nasional Lorentz perlu memperhatikan empat zonasi yang telah ditetapkan. Keempat zonasi itu mencakup zonasi inti dimana tidak boleh ada aktivitas apapun di dalamnya, zonasi rimba, zonasi pemanfaatan serta zonasi khusus.
Benja mengatakan sejauh ini kegiatan pemetaan kawasan Taman Nasional Lorentz belum seluruhnya selesai dilakukan mengingat luasnya area yang harus dipetakan sehingga hanya dipetakan tempat-tempat yang dianggap penting.
"Kita membutuhkan negosiasi dari semua pihak agar zonasi kawasan Taman Nasional Lorentz bisa dijadikan acuan bagi semua daerah terutama dalam hal pengambilan kebijakan pembangunan," harap Benja.
Kegiatan sosialisasi draf zonasi Taman Nasional Lorentz di Timika merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa di Jayapura pada 3-4 Maret lalu merupakan kerja sama WWF-Indonesia Region Sahul dengan kantor Balai Taman Nasional Lorentz.
Para pembicara yang hadir diantaranya Direktur Konservasi Kawasan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Wiratno, Yunus Rumbarar selaku Kepala Balai Taman Nasional Lorentz, Asisten III Setda Mimika Alfred Douw, dan Benja Mambai. (Ant/OL-2)