JAKARTA Fashion Week (JWF) berhasil menunjukkan jati dirinya di mata dunia. Perhelatan fashion terbesar Se-Indonesia tersebut, berhasil masuk dalam daftar event fashion dunia.
"JFW sudah masuk agenda fashion dunia bersama dengan Paris Fashion Week, New York Fashion Week, dan event lainnya seperti Milan, Australia, dan lain-lain. Ini suatu hal yang membanggakan," ungkap Wakil Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta Tinia Budiati, Jumat (10/12).
Event yang dihelat sejak tahun 2008 tersebut, harus diakui berperan besar dalam mendorong perkembangan industri fashion dan terutama kreatifitas para desainer-desainer Indonesia.
Terakhir, JFW 2010/2011, yang berlangsung di Pacific Place, 12 November lalu, telah berhasil menarik pengunjung sekitar 25.000 orang. Sebanyak 43 buyer dalam dan luar negri, menyaksikan kurang lebih 7000 potong busana indah karya dari 150 perancang. Tema fashion pun berganti-ganti setiap tahun sesuai dengan tren fashion dunia yang sedang updated.
Acara ini, jelas Tinia, merupakan industri kreatifitas jadi tidak ada ukuran prestasi. Namun, dengan kreasi-kreasi yang ditunjukkan oleh para desainer tanah air yang mampu mengikuti tren perkembangan fashion dunia, itu merupakan prestasi tersendiri. Ditambah, JFW bukan lagi bertaraf nasional, melainkan berhasil menjadi event bertaraf internasional.
"Event ini menunjukkan bahwa desainer-desainer Indonesia tidak kalah saing dengan desainer dunia lainnya. Kita tunjukkan pada masyarakat Indonesia, terutama dunia, bahwa desainer-desainer kita tidak selalu mencontoh dan meniru tapi mampu menciptakan berbagai kreasi-kreasi baru," ujarnya.
Kesuksesan dari JWF memang tidak terlepas dari peran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui Disparbud yang memberikan berbagai kemudahan dalam proses penyelenggaraan JWF. Pemda DKI sendiri, mulai ikut serta di tahun sejak 2009.
Namun, Pemprov DKI akhirnya memutuskan untuk absen mendanai JFW mulai tahun 2010. Keterbatasan dana di Dinas Pariwisata DKI Jakarta, menjadi salah satu alasan keputusan tersebut.
"Mulai tahun 2010, kita tidak lagi turut mendanai JFW. Dana kami terbatas. Lagi pula JFW sudah berjalan terus-menerus, jadi tidak perlu dana lebih untuk promosi dengan Pemda," ungkap Tinia.
Disparbud DKI memang mengantongi banyak permohonan bantuan dan promosi dari event-event lainnya yang memerlukan keterlibatan pihaknya lebih besar. Sementara, JFW sudah menjadi event besar dan kuat di masyarakat.
"Dananya akan dialirkan ke program atau event pariwisata Jakarta lainnya yang lebih memerlukan. Lagipula. JFW sudah jadi event besar jadi kita serahkan lebih ke masyarakat," ujarnya.
Meski Disparbud tidak lagi mengucurkan dananya ke festival desain fashion bertaraf international tersebut, pihaknya tetap mendukung penuh event yang diikuti oleh ratusan desainer Indonesia tersebut.
"Kami tetap medukung penuh kegiatan ini. Kami beri bantuan kemudahan fasilitas dan pengurusan berbagai ijin, baik tempat maupun pemasangan baliho, dan lain-lain," katanya.
Kemudahan proses yang diberikan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta inilah yang menghasilkan kesuksesan berbagai event-event atau expo bertaraf internasional.
"Banyak event internasional yang berhasil dihelat di Jakarta. Perbulan bisa puluhan event lewat dukungan kami," tambah Tinia.
Bantuan tersebut pun, diakui pihak penyelenggara sudah cukup membantu perhelatan festival ini.
"Yang dibutuhkan festival besar adalah media promosi. Berbagai pajak pemasangan iklan, dan perijinan lainnya dibantu banyak oleh Pemda. Itu sangat membantu," ungkap Yudha Kartohadiprodjo dari Femina Group yang merupakan Event Organizer acara tersebut.
Tiga kali pelaksanaan JFW, mampu memang memberi gaung ke berbagai pelosok dunia. Tak tanggung-tanggung, berbagai media luar negeri berlomba-lomba memberitakan event yang diorganisasi oleh Femina Group tersebut. Selain itu, mode fashion Indonesia mulai mencuri perhatian masyarakat dunia.
"Baru-baru ini kami mendapatkan surat dari CNN mengenai pemetaan busana muslim di Indonesia. Belum lagi, jumlah media luar meliput event ini makin meningkat," ungkap Presiden Direktur Femina Group Svida Alisjahbana.
JFW 2010/2011 memang mulai memancing perhatian media luar. Selain CNN, berbagai media cetak dan media elektronik dunia banyak meliput event ini, seperti Lifestyle TV (Malaysia), Fashion TV (Italia), Sky TV (London), dan media luar negeri lainnya.
"Tahun lalu belum ada media-media luar negeri itu. Ini kemajuan yang sangat baik," tambahnya.
Sesuai dengan visinya, ungkap Svida, JFW merupakan wadah berkumpulnya para desainer Indonesia menjadi satu kekuatan baru. Sebelumnya, desainer-desainer terbagi menjadi kubu-kubu tertentu. Seperti, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), dan sebagainya.
"Sebelumnya dunia desain Indonesia bagai terkotak-kotak. Dengan JFW ini, semua dapat terpusat menjadi satu kekuatan," katanya.
Selama ini, jelasnya, Indonesia memiliki aset yang melimpah dan bakat-bakat desainer yang baik. Namun, membutuhkan festival yang bergengsi dan dapat diakui oleh dunia, terutama dalam mendorong para desainer muda untuk berkesempatan terjun ke dunia desain internasional.
"JFW merupakan corong bagi desainer-desainer muda, disinilah terlahir desainer-desainer muda. Dan terbukti banyak desainer yang bisa terjun ke dunia internasional. Dan JFW diakui oleh dunia," katanya.
Contoh desainer yang menanjak berkat JFW yakni, Desainer kenamaan Oscar Lawalata yang berhasil kolaborasi desain tenun dengan desainer tenun asa; Inggris Laura Miles. Sebelumnya di bulan Febuari 2010, Oscar menerima penghargaan dari British Council atas upayanya melestarikan dan menghidupkan bisnis wiraswasta berbasis komunitas penenun di NTT, Sumatera Selatan, dan Jawa.
Selain itu juga ada, Kleting Titis Wigati, desainer yang sekarang sudah mempunyai brand sendiri yakni Kie Divisione Donna, rancangannya merambah ke berbagai negara termasuk Hongkong.
"Ini berkat perjalanan panjangnya, yang diawali dari JFW tiga tahun lalu," ujarnya.
Tahun ini, baik JFW dan kota Jakarta memang terbukti mampu menjadi tujuan kota mode yang diperhitungkan di mata dunia. Penyatuan kekuatan lewat JFW, diharapkan mampu menjadi kekuatan fashion Indonesia di masa akan datang.
"Kota-kota besar di dunia seperti Paris, New York, dan lain-lain menjadi kota mode. Jadi kenapa Jakarta tidak membuat Fashion weeknya sendiri. Dengan begitu kita menyatukan kekuatan fashion yang menyebar dan membangun stakeholder yang kuat," katanya. (OL-3)