Mungkin Anda pernah mendengar ungkapan "...untuk apa menjadi kaya kalau tidak bahagia". Di kehidupan masyarakat Barat, ada suatu paradoks, 'semakin kaya mereka, justru rakyatnya semakin tidak bahagia'. Paradoks ini diungkapkan oleh Richard Layard (2005) dari the London School of Economics. Bisa dibayangkan, di banyak negara maju dengan indikator pengangguran dan inflasi yang rendah, pendapatan per kapita tinggi, dan rendahnya angka kemiskinan, justru masyarakatnya tidak bahagia. Padahal, pembangunan manusia di negara maju sudah sangat mapan, tingkat pendidikan dan kesehatan sudah sangat baik. Ini menjadi sinyal bahwa berbagai indikator ekonomi makro dan tingkat pembangunan manusia yang baik, tidak serta-merta identik menciptakan masyarakat yang bahagia.
Benjamin Radcliff (2007), ahli politik dari Notre Dame University, mengungkapkan bahwa perekonomian yang terlalu berorientasi pasar, cenderung membuat masyarakatnya tidak bahagia. Masyarakat menjadi tidak bahagia karena kehidupan mereka dipengaruhi oleh berbagai faktor di luar kendali dirinya. Ancaman krisis ekonomi global yang dihadapi dunia saat ini akibat perang di Libia, naiknya harga minyak dan pangan dunia, serta bencana di Jepang, dapat berpengaruh nyata bagi kehidupan masyarakat kita. Begitu besar pengaruh pasar global terhadap kehidupan banyak orang di dunia. Padahal, mungkin hanya sebagian kecil orang di dunia yang punya pengaruh besar terhadap pasar global. Pengaruh pasar global tidak hanya bagi mereka yang mampu memengaruhi pasar, tetapi juga termasuk mereka yang bahkan tidak pernah mendengar istilah globalisasi.
Meningkatnya penggunaan narkoba di kalangan generasi muda, maraknya aksi bunuh diri, munculnya gejala depresi banyak orang, meningkatnya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, menjadi beberapa di antara banyak indikator masyarakat yang belum bahagia. Memang masih banyak perdebatan tentang definisi kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan dalam konteks ekonomi terkait dengan terpenuhinya harapan, ekspektasi, dan aspirasi, serta pengalaman sekarang yang lebih baik daripada masa lalu.
Harapan, ekspektasi, aspirasi, dan masa lalu
Setiap orang berharap untuk hidup lebih baik, punya ekspektasi yang jelas tentang masa depannya, aspirasi yang bisa diakomodasi dan sesuai preferensinya, serta cenderung membandingkan kondisi masa lalu dengan saat ini. Orang bisa bahagia karena ada harapan. Namun harapan bisa membuat seseorang menjadi depresi karena kenyataan yang tidak sesuai harapan. Orang akan mempersiapkan antisipasi terhadap berbagai kemungkinan di masa depan, dengan menggunakan ekspektasinya. Namun jika kejadian yang ada tidak dapat terantisipasi akibat ekspektasi yang salah, orang menjadi semakin jauh dari kebahagiaan. Orang akan merasa bahagia, jika aspirasinya dapat terwujud dengan baik. Demokrasi memungkinkan penyampaian aspirasi rakyat menjadi lebih baik. Namun demokrasi bukanlah alat untuk sekadar mengatasnamakan kelompok marginal. Beberapa pihak mungkin menggunakan isu orang miskin dan pengangguran untuk meraih simpati politik, dengan one man one vote. Namun, mereka dapat terabaikan saat pemilu usai. Ini tentu bisa membuat rakyat frustrasi dan tidak bahagia.
Seseorang juga dapat merasa tidak bahagia, jika melihat kondisi di masa depan yang lebih sulit jika dibandingkan dengan apa yang dirasakannya di masa lalu. Lalu bagaimana membuat rakyat bahagia? Kita harus mengatasi berbagai ketidakpastian (uncertainty) dalam perekonomian yang sulit untuk diprediksi dan diantisipasi rakyat. Ketidakpastian dalam era globalisasi seolah-olah menjadi 'barang' biasa yang sudah lumrah. Jika hanya sekadar mengandalkan mekanisme pasar, justru dapat menimbulkan ketidakpastian. Di sinilah dibutuhkan peran pemerintah untuk menjalankan fungsi stabilisasi.
Pilihan, ketimpangan, dan KB
Meskipun definisi ekonomi kebahagiaan masih diperdebatkan, tidak ada satu pun ilmuwan yang membantah bahwa kebahagiaan adalah hal yang penting. Kebebasan ekonomi (economic freedom) memiliki korelasi kuat dengan tingkat kebahagiaan. Apa yang dimaksud economic freedom? Economic freedom akan terjadi pada saat rakyat memiliki banyak pilihan. Semakin banyak pilihan, semakin mungkin ada pilihan yang sesuai dengan preferensi mereka. Di negara yang pilihan bagi rakyatnya terbatas, tingkat kebahagiaan masyarakatnya cenderung rendah. Amartya Sen, seorang peraih Nobel Ekonomi, mengungkapkan bahwa seseorang bisa menjadi miskin akibat tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki banyak pilihan pekerjaan akan jauh lebih bahagia daripada jika dirinya tidak memiliki pilihan pekerjaan.Faktor lain yang terkait erat dengan ketidakbahagiaan ialah ketimpangan horizontal (horizontal inequlity) dalam suatu perekonomian. Frances Steward dari Universitas Oxford (2008) menjelaskan bahwa ketimpangan horizontal dapat menciptakan instabilitas dalam perekonomian dan membuat depresi kelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan. Steward mengutip pernyataan seorang gerilyawan Guatemala yang mengatakan bahwa: "...poverty is bad enough, but when you are being discriminated, this strips away your dignity, it is much worse, you feel humiliated, you feel useless...." Adanya perbedaan kesempatan dan tingkat kesejahteraan antarkelompok masyarakat dapat memicu penurunan kebahagiaan bagi kelompok masyarakat yang termarginalkan. Pembangunan ekonomi harus menghasilkan ketimpangan horizontal yang minimal dalam masyarakat.
Konsep kebahagiaan tidak hanya dibangun di tingkat makro, tapi juga di tingkat keluarga (mikro). Kita perlu mengoptimalkan program keluarga berencana (KB) sebagai instrumen yang tepat untuk membangun keluarga bahagia. KB harus punya paradigma baru, dan tidak sekadar identik dengan alat kontrasepsi. Ekspektasi, harapan, masa depan yang lebih baik bisa diwujudkan jika setiap keluarga mampu menjadi keluarga yang berencana. Meskipun KB hanya salah satu instrumen, setidaknya KB dapat menjadi sarana untuk menciptakan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Kita tentunya tidak ingin pada saat Indonesia sedang berusaha menuju pendapatan per kapita yang lebih tinggi, pada waktu yang bersamaan tingkat kebahagiaan rakyat justru menurun. Meskipun jawaban untuk menciptakan kebahagiaan bagi rakyat tampaknya mudah, pelaksanaannya tentu tidak mudah dan membutuhkan komitmen yang kuat dari semua pihak di seluruh Indonesia. Kampanye ekonomi kebahagiaan dapat menjadi kunci menuju Indonesia yang lebih sejahtera, adil, makmur, dan bahagia.
Oleh Sonny Harry B Harmadi, Kepala Lembaga Demografi FEUI dan Ketua Umum Koalisi Kependudukan