Mr Clean ataukah Mr Bean?
Penulis : M Bashori Muchsin, Guru besar dan Pembantu Rektor II Universitas Islam Malang
Jumat, 08 April 2011 00:00 WIB     
komentar
0 Like Dislike 0

DI negeri ini, sedang terjadi 'kelangkaan' sosok manusia yang berhati jernih, yang di dalam dirinya benar-benar bersih, bening nuraninya, atau tidak berpenyakitan jiwanya. Sosok bersih ini dikenal dengan 'Mr Clean', yang di tengah masyarakat ternyata tidak mudah ditemukan, ibarat mencari jarum di tengah lautan.

Di tengah masyarakat atau di lingkungan pemerintahan, sosok bergelar 'Mr Clean', bukan 'Mr Bean' (tokoh film serial yang suka berperan 'bisu') sepertinya mudah ditemukan, tetapi kenyataannya sangat sulit.

Sosok ini seperti ditelan bumi sehingga tidak gampang ditemukan. Mr Clean menjadi sosok yang selalu dituntut kehadirannya di tengah pemerintahan yang sarat virus korupsi, namun setelah dilakukan 'audisi' atau ijtihad ke sana-kemari, misalnya, ternyata tidak gampang menemukannya.

Yang paling gampang dijumpai adalah deskripsi sosok 'Mr Bean' atau sejumlah sosok manusia yang bergelar politisi oportunis atau birokrat monologis dan anomalis yang suka mendiamkan atau mengamini penyimpangan yang dilakukannya dan berbagai model penyimpangan yang dilakukan koleganya, yang dikalkulasi bisa menguntungkannya.

Kenyataannya, sosok yang suka 'memproduksi' banyak penyakit di negeri ini mudah ditemukan di berbagai lapisan sosial, politik, struktural, dan strata lainnya, khuisusnya penyakit berpola 'Mr Bean' atau penyimpangan kronis berlapis, yang pernah digambarkan Sosiolog kenamaan Loeman Sutrisno dengan ungkapan "Selamat datang di republik drakula" (republic of vampire). Ia menggambarkan negeri ini sebagai tempat bersemainya manusia-manusia saling 'mengisap' layaknya drakula, yang saling mencucup darah korbannya (rakyat).

Tolok ukur lain yang membenarkan argumen itu adalah potret manusia Indonesia sekarang, yang tidak sedikit menggambarkan elemen sosialnya yang ambigu, politisi yang bermental parasit, birokrat berpribadi ganda (split personality), atau sekumpulan orang yang tidak seirama antara apa yang diperbuat dan apa yang terucap, antara 'bahasa' dan realita, antara das sollen dan das-sein-nya atau antara pernyataan dan kenyataan tidak saling paradoks.

Kita belum memiliki hati seputih kapas. Dalam diri kita terkadang masih suka memelihara virus, penyakit, atau noktah yang menjijikkan. Ironisnya lagi, terkadang kita bangga dan arogan dengan virus yang menjangkiti dan merusak hati. Kita terperangkap tendensi, kepentingan, dan target, sehingga membiarkan hati berlumuran dengan berbagai bentuk penyakit (virus) seperti kecenderungan dan maksud mengamankan berbagai bentuk penyimpangan.

Kita belum memiliki 'hati seluas samudra', hati yang rela, hati yang ikhlas, hati yang suci, atau hati yang berbingkai digital spiritualitas, yang bersih dari penyakit dengki, dendam, berpraduga salah (presuption of guilt), hasrat merusak, ambisi menjadikan orang lain sebagai korban dan tumbal, termasuk rbelum mencerahkan hati yang cenderung menempatkan 'kekayaan publik' atau 'kemaslahatan rakyat' sebagai proyek pembumian pengabdian atau kepejuangan, dan bukan proyek pengembaraan berbagai bentuk penyimpangan kekuasaan.

Saat hati kita masih berlumuran dan melestarikan berbagai bentuk penyakit, rasanya ketenangan dan kedamaian sejati benar-benar sulit kita temukan di tengah masyarakat. Pasalnya, di dalam diri kita sama halnya menyimpan dan bahkan menghidupsuburkan kecenderungan untuk menabur bibit-bibit penyakit baik dalam lingkup kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bernegara.

Gampang rusaknya keharmonisan sosial, ternodanya bangunan kehidupan keluarga (suami-istri), hubungan persaudaraan, runyamnya ketahanan mental pilar-pilar struktural, dan hancurnya berbagai hak-hak publik, adalah beberapa bukti yang menunjukkan bahwa penyakit hati masihlah menjadi penyakit laten bangsa Indonesia. Kita masih menjadi bagian dari sumber daya manusia yang belum sehat lahir dan khususnya batin.

Kita berusaha menciptakan budaya penyehatan diri di tengah masyarakat, tetapi kita belum sungguh-sungguh menciptakan budaya merawat hati. Kita bisa mengundang politisi yang berbeda haluan duduk satu meja, namun di tempat lain, pendukung masing-masing dibiarkan atau 'diprovokasi' dengan klaim kebenaran supaya tetap saling bertikai, menyuburkan radikalisasi, dan menganyam dishamonisasi.

Akibat sikap itu, antara apa yang di hati dan apa yang terjadi tidaklah berjalan dengan baik, serasi, dan sejiwa. Ada kondisi paradoksal yang terbentuk. Ada disharmonisasi yang dikomoditas sebagai proyek meraih dan mendatangkan keuntungan besar. Ada penderitaan sesama yang dijadikan sebagai lahan memperkaya diri dan golongan.

Dalam buku ESQ Power (2006) disebutkan bahwa angka nol adalah lambang kesucian hati dan pikiran, sedangkan angka satu adalah lambang Tuhan, atau hanya berprinsip kepada Dia Yang Maha Esa, atau dengan kata lain: Laa (0) ilaha Illallah (1). Inilah yang dinamakan era digital manusia, yaitu suatu era di mana manusia menjadi tulus dan ikhlas (0), karena berprinsip kepada Allah (1), dan tidak menuhankan yang lainnya (0).

Spiritualitas berasal dari kata spirit, yang artinya murni. Apabila menggunakan bilangan biner, setelah melalui proses penyaringan hati (melalui bilangan nol), manusia akan menemukan kemurnian spiritualitas, artinya, apabila manusia berjiwa jernih (0), ia akan menemukan potensi mulia dirinya, sekaligus menemukan siapa tuhannya (1), atau prinsip yang sesungguhnya.
Dalam suatu hadis, kita diingatkan "Apabila engkau mengenal dirimu, engkau akan mengenal siapa Tuhanmu." Hadis ini menunjukkan kepada kita, manusia punya kewajiban utama dalam mengenal dirinya. Manusia harus cerdas membaca eksistensi dirinya, kenapa dirinya diciptakan Allah? Kenapa Allah mendaulatnya sebagai khalifah fil-arld? Kenapa di dalam dirinya ada hati, yang tidak sama dengan yang diberikan Tuhan kepada makhluk lainnya?

Itulah beberapa pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk mengkritik peran yang dilakukan manusia supaya peran-peran yang dimainkannya tidak kehilangan orbit hati. Orbit hati ini menjadi penting ketika manusia menghadapi berbagai bentuk godaan (tawaran) yang mengajaknya atau berupaya mencondongkannya pada kolaborasi bergaya kriminalisasi semisal pengamanan dan pelestarian berbagai bentuk perilaku menyimpang dan mendehumanisasikan hak-hak rakyat.

Hati pejabat atau pemimpin idealnya harus menyuarakan 'bilangan nol'. Pasalnya, bilangan ini mencerminkan suatu pribadi kepemimpinan yang bersih, mengutamakan kemuliaan hidup, orientasi dan komitmen kerakyatan, loyalitas kemanusiaan, atau jernih dalam membaca perubahan di tengah kehidupan makro dan plural. Ketika stigmatisasi negara ini belum bergeser dari status 'darurat korupsi', ini mengindikasikan kalau sosok pemimpin atau pejabatnya belum memiliki 'bilangan nol'.

'Bilangan nol' itu jugalah yang harus dikampanyekan dan disuburkan dalam hidup keseharian elite fundamental kepemerintahan. Hanya dengan terus-menerus mengampanyekan 'bilangan nol' atau idealisme menjadi 'manusia nol', negeri ini akan semakin dihiasi atau dibanjiri manusia-manusia berprofil 'Mr Clean' , yang kinerjanya terkuras (maksimal) untuk memediasi terbentuknya negara yang kuat, bersih, dan berwibawa. Dari konstruksi negara yang kuat ini, tidak akan sulit membentuk elemen sosial yang bermental militan dalam membela keberlanjutan dan pencerahan negaranya.

Dalam hati yang sudah berbilangan 'nol' itu, manusia akan menempatkan Allah SWT hanya sebagai Tuhan satu-satunya. Tiada kekuatan lain di muka bumi ini yang akan dipilih sebagai Tuhannya, sebagai saingannya, atau sebagai 'berhala', termasuk kursi yang didudukinya. Sebab, di dalam hatinya hanya ada satu pengakuan, persaksian, dan pembuktian, semata hanya kepada Allah, dan bukan kekuasaanlah yang menjadi tuhan baru dan abadinya.

Share |

Advertisement
Advertisement
MORE NEWS»
Jumat, 15 April 2011 00:00 WIB
Jumat, 15 April 2011 00:00 WIB
Kamis, 14 April 2011 00:00 WIB
Kamis, 14 April 2011 00:00 WIB
Jumat, 08 April 2011 00:00 WIB
Kamis, 07 April 2011 00:00 WIB
Rabu, 06 April 2011 00:00 WIB
Rabu, 06 April 2011 00:00 WIB
Selasa, 05 April 2011 00:00 WIB
Selasa, 05 April 2011 00:00 WIB
Jumat, 01 April 2011 00:01 WIB
Jumat, 01 April 2011 00:01 WIB


   Index Berita