Ilustrasi -- AP/Keystone/Steffen Schmidt/wt
DAMASKUS--MICOM: Runtuhnya rezim Moammar Khadafi ternyata tak hanya membuat cemas para pendukungnya.
Jauh dari hiruk pikuk pertempuran di Libia, pemilik peternakan buaya Hamat Kader di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang dicaplok Israel, juga mencemaskan perkembangan terbaru di Libia itu.
Mengapa? Ternyata di peternakan ini ada seekor buaya yang diberi nama Moamar Khadafi. Para pengelola peternakan pun berencana mengganti nama buaya seberat 230kg dan sepanjang tiga meter ini setelah Khadafi benar-benar tersingkir dari kekuasaannya.
Alasan penggantian nama ini karena peternakan tersebut memiliki 'pengalaman buruk' dengan buaya yang menyandang nama tokoh ternama dunia.
Pada tahun 2004, peternakan ini memiliki buaya bernama Yasser Arafat, presiden Palestina.
"Arafat buaya mati, hanya beberapa pekan setelah Yasser Arafat meninggal dunia di Paris, November 2004," kata juru bicara peternakan, Meital Dana.
Nah, tak ingin peristiwa kematian 'Arafat buaya' terulang, pengurus peternakan buaya ini berencana mengganti nama Khadafi si buaya.
Padahal, buaya ini sudah menyandang nama Khadafi sejak lahir pada 1975. Pada tahun yang sama Khadafi menerbitkan buku hijaunya yang terkenal.
Hamat Gader adalah peternakan buaya terbesar di Timur Tengah yang memiliki sekitar 200 ekor buaya yang didatangkan dari seluruh dunia.
Lucunya, beberapa ekor buaya diberi nama para pemimpin dunia, seperti Vladimir Putin dari Rusia.
"Ada buaya yang bernama Berlusconi (PM Italia Silvio Berlusconi) dan dia juga selalu mengejar buaya betina," kata Dana, merujuk pada PM Berlusconi yang sering terlibat skandal seks. (BBC/OL-3)