JALAN raya masih menjadi pembunuh nomor wahid yang kian menakutkan. Menakutkan karena 90% kecelakaan lalu lintas ternyata akibat faktor manusia, si pengendara. Apalagi kalau si pengendara berada di bawah pengaruh alkohol dan narkoba, jalan raya pun menjadi ladang pembunuhan.
Faktor manusia itulah yang menyebabkan tragedi maut di Jalan MI Ridwan Rais, dekat Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Minggu (22/1). Saat itu, Afriani Susanti yang masih berada dalam pengaruh alkohol dan narkoba mengendarai mobil. Ia bersama tiga temannya baru saja selesai berpesta minuman keras dan narkoba jenis ekstasi di sebuah kelab malam.
Afriani yang tidak memiliki surat izin mengemudi tidak bisa mengendalikan mobil yang dipacunya dalam kecepatan tinggi. Mobil itu menabrak pejalan kaki yang berada di trotoar dan halte. Tabrakan maut itu mengakibatkan sembilan nyawa melayang sia-sia.
Kasus Afriani semakin membuktikan betapa ancaman narkoba semakin mengerikan. Bertambah mengerikan bila kita melihat fakta dengan mata telanjang bahwa peredaran narkoba di kelab malam Ibu Kota semakin bebas.
Adalah benar polisi dalam sepekan terakhir berhasil mencokok anggota jaringan narkoba internasional. Pada 16 Januari polisi menangkap anggota jaringan Belanda-Iran yang mengedarkan narkotika jenis sabu melalui perairan internasional. Hanya selang tujuh hari, pada Minggu (22/1), polisi menangkap anggota jaringan internasional dari Malaysia.
Harus jujur dikatakan bahwa masih jauh lebih banyak narkoba yang dapat diselundupkan ke Indonesia daripada barang haram yang gagal disusupkan. Itu sebabnya perang semesta melawan narkoba tidak boleh lengah sedetik pun, terutama di kelab malam.
Negara tidak boleh kalah, apalagi mengalah, terhadap bandar, cukong, dan mafia narkoba di kelab malam. Perang melawan narkoba di kelab malam, sejauh ini, hanya hangat-hangat tahi ayam.
Sudah menjadi fakta publik, Indonesia naik status dari daerah transit menjadi produsen narkoba tingkat dunia. Lebih miris lagi, narkoba justru diproduksi di dalam penjara.
Narkoba tidak bisa diatasi semata dengan pidato atau spanduk. Itu kejahatan paling hitam karena ia membunuh pemakai secara perlahan. Lebih jahat lagi, pemakai bisa membunuh orang lain yang tidak berdosa secara massal seperti yang terjadi dalam tragedi maut di Tugu Tani.
Senyatanya, narkoba telah menjadi musuh nasional karena ia telah menjadi monster pembunuh. Namun, kesadaran politik mengenai soal itu masih rendah, sangat rendah. Tragedi maut di Tugu Tani mestinya menyadarkan para pemimpin negara ini betapa parahnya narkoba telah merusak anak bangsa.