PUBLIK semestinya yakin bahwa negeri ini sungguh tidak miskin. Buktinya banyak uang rakyat dihamburkan baik untuk proyek vital, proyek remeh-temeh, maupun proyek-proyek gincu untuk gengsi dan pencitraan.
Di antara proyek-proyek itu ialah pembelian pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet itu dibeli dengan harga Rp526 miliar.
Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi mengumumkan kabar itu dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR di Jakarta pada Selasa (24/1). Pesawat itu siap terbang pada 2013. Saat ini pesawat sedang dalam pengerjaan
cabin interior dan
security system.
Pesawat kepresidenan Indonesia itu bukan untuk menyamai--apalagi menyaingi--Air Force One, pesawat kepresidenan Amerika Serikat. Air Force One adalah pesawat kepresidenan paling kesohor sejagat.
Pesawat itu dirancang supercanggih. Misalnya, sistem komunikasi dari Air Force One mampu mencapai semua titik di Bumi. Pesawat itu juga sanggup melindungi Presiden AS dari segala jenis ancaman. Sebagai negara adidaya, Amerika Serikat layak memiliki pesawat seperti itu.
Tetapi Indonesia? Benar, negara ini luas. Namun, seberapa seringkah presiden berkeliling Nusantara menemui rakyatnya? Seberapa kerapkah presiden melakukan kunjungan kenegaraan ke luar negeri menemui mitra dan sahabat negara sehingga memerlukan pesawat khusus kepresidenan?
Jangan-jangan pesawat kepresidenan malah lebih sering
nongkrong dan
nangkring di hanggar daripada terbang. Jangan-jangan biaya parkir pesawat kepresidenan lebih besar daripada menyewa pesawat untuk tugas-tugas kenegaraan seorang presiden.
Kita bisa saja bergembira membayangkan efek positif kehadiran pesawat kepresidenan itu. Misalnya, bandara di seantero negeri bakal diperluas agar bisa didarati pesawat kepresidenan.
Namun, itu baru bayangan karena kenyataannya infrastruktur jalan saja masih bak kubangan kerbau. Anak-anak ke sekolah meniti jembatan gantung ala Lebak, Banten, karena jembatan permanen tidak kunjung dibangun.
Apakah negeri ini sudah saatnya memiliki pesawat kepresidenan? Apakah presiden bisa mempertanggungjawabkan bahwa pesawat kepresidenan menjadi cermin tingkat kemakmuran rakyat?