AS Bantu US$1 Juta Tangani Kejahatan di hutan
Penulis : Fidel Ali Permana
Kamis, 26 Januari 2012 08:52 WIB     
komentar
0 Like Dislike 0

JAKARTA--MICOM: Pemerintah Amerika Serikat menggelontorkan dana US$1 juta pada Kementerian Pertanian untuk membantu pemerintah Indonesia memerangi kejahatan di hutan. Dana tersebut akan digunakan untuk memberikan pelatihan dan mendidik polisi kehutanan serta membangun pusat data kejahatan di hutan.

"Kita berikan donasi sekitar US$ 1 juta, ini untuk pengembangan perlindungan hutan serta pembangunan pusat data," kata Theodore G. Osius selaku Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar AS, usai menandatangani kesepakatan kerja sama Implementation Arrangement International Crime Training Assistance Program (IA ICITAP) atau kerja sama penanganan kejahatan kehutanan di Komplek Kementerian Kehutanan, Rabu (25/1).

Kerja sama tersebut dilakukan selama tiga tahun dengan kucuran dana US$1 juta yang bersifat hibah. Menurut Direktur Penyidikan dan Pengamatan Kemenhut, Raffles Panjaitan, dana yang dikucurkan oleh AS tersebut hanya diperuntukan bagi Kemenhut.

"Ini buat kami saja. Mereka sifatnya membantu teknikal asisten, membantu polisi kehutanan, jaksa, polisi," kata Raffles, usai penandatanganan.

Salah satu poin kerja sama itu, yakni membangun database management system (DMS) register perkara secara online. Aplikasi dibuat oleh Departemen Kehakiman AS. Tujuan dari DMS perkara online adalah untuk mencatat dan memonitor kasus serta menganalisisnya.

DMS online tersebut memiliki data yang beragam, mulai dari penginputan hingga identitas dan analisis dari kasus yang ditangani Kemenhut. Data tersebut dimasukkan dalam server dan diperbaharui.

Ketika ditanyakan apakah data yang dimiliki dalam Pusat Data Kriminal tersebut dapat diakses oleh pihak AS, Raffles menjawab akses tersebut tertutup untuk pihak luar. Bantuan AS sempat dicurigai membawa misi tersembunyi dari AS mengingat kerja sama tersebut melibatkan Kongres AS, Departemen Kehakiman, Departemen Dalam Negeri.

Raffles mengakui, meski data tidak dapat diakses oleh pihak AS, mereka dapat meminta data tersebut.

"Memang datanya tidak bisa diambil, kecuali mereka minta, kita kasih boleh. Tapi buat apa dia datanya, tidak ada gunanya," sebut Raffles.

Saat ini server DMS sudah terpasang di Jakarta, serta lima lokasi lainnnya, yakni di Kalimantan Timur, Sumatra Utara, Aceh, Taman Nasional Kutai, dan Taman Nasional Gunung Leuser. (Fid/OL-10)

Share |

Advertisement
Advertisement