JAKARTA--MICOM: Pemerintah sebaiknya lebih mengambil kebijakan menaikkan harga BBM dibanding melakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi yang prasarananya belum siap.
Pengamat ekonomi Tony Prasetiantono di Jakarta, Jumat (3/2), mengatakan menaikkan harga BBM lebih realistis dan mudah dibanding membatasi konsumsi BBM bersubsidi dan melakukan konversi dari BBM ke Bahan Bakar Gas.
"Konversi BBM ke BBG kan perlu waktu, tidak bisa 2 atau 3 bulan. Setidaknya 3 tahun," kata komisaris independen Bank Permata ini.
Sementara untuk menaikkan harga BBM, bisa dilakukan dengan beberapa opsi yaitu pertama ke harga yang terjangkau RP5.500 per liter atau naik Rp1.000, dan membedakan kenaikan harga BBM untuk motor, kendaraan umum, dan kendaraan pribadi.
"Yang paling terjangkau menaikkan Rp1.000 per liter. Dampak inflasinya sekitar 1 persen," kata Tony.
Ekonom dari UGM ini juga mengatakan bahwa seharusnya Pemerintah menaikkan harga BBM pada tahun lalu, saat inflasi dalam posisi rendah yaitu 3,79 persen sampai akhir 2011.
Sedangkan untuk tahun ini, Tony menilai kenaikkan BBM sebaiknya dilakukan antara Maret - April, saat inflasi diperkirakan di posisi rendah karena masa panen.
Secara umum, Tony memperkirakan ekonomi Indonesia jauh dari dampak krisis keuangan Eropa dan akan tetap tumbuh antara 6 - 6,3 persen, meski harus tetap waspada karena pasar keuangan akan terus bergejolak.
Sebelumnya pengamat energki Kurtubi juga menilai opsi menaikkan harga premium seharusnya lebih dipilih Pemerintah dibandingkan pembatasan penggunaan premium.
"Lebih baik naikkan harga premium sebesar Rp1.500, sehingga harga hanya naik 33 persen, dibandingkan bila rakyat dipaksa pindah dari premium ke pertamax, artinya harga naik 100 persen," kata Kurtubi. (Ant/Ol-3)