ANTARA/Widodo S. Jusuf/sa
JAKARTA--MICOM: Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Azhar Lubis mengatakan, belum ada pengaruh langsung sejumlah aksi buruh terhadap investasi di Indonesia.
Kendati demikian, sejumlah investor sudah menanyakan mengenai maraknya aksi buruh yang belakangan mewarnai sejumlah daerah industri di Indonesia.
Menurut Azhar, pemodal langsung pada dasarnya tidak akan serta merta pergi karena asetnya sudah ada di Indonesia. Sejauh ini, mereka yang menyatakan minat belum ada yang membatalkannya.
"Sampai sekarang kita belum ada yang meng-cancel, laporan terhadap BKPM. Yang menyurati, mempertanyakan, sudah banyak. Tapi kami sudah menjawab, demo seperti ini kan sudah banyak, terjadi di seluruh dunia," ungkap Azhar kepada
Media Indonesia
Azhar melihat, tuntutan buruh sebetulnya masuk akal. Ia pun memandang buruh punya hak untuk kenaikan upah ketika perusahaan mendapatkan keuntungan lebih. Terlebih, pendapatan perkapita Indonesia memang naik dan buruh berhak ikut menikmati tingkat ekonomi yang lebih baik.
"Tapi kan harus dilihat kemampuan perusahaannya. Sebenarnya kan buruh dan perusahaan sama-sama tidak ingin perusahaannya tutup," katanya.
"Yang kita harapkan, kalau perusahaan untung jangan hanya memberi upah minimum. Tapi, kalau perusahaan tidak bisa juga jangan dipaksa. Nanti malah tutup."
Adalah aksi anarkis, aksi pemblokiran jalan tol, ancaman, hingga pemogokan total yang membuat produksi berhenti yang disesalkan Azhar. Sebab, roda perekonomian terganggu dengan aksi semacam itu.
"Kalau itu semua dilakukan, semua terganggu, arus orang, arus barang," sergahnya.
Indonesia selama ini dikenal sebagai negara dengan upah buruh yang cukup rendah sehingga investasi untuk industri padat karya cukup besar. Namun, Azhar mengatakan, saat ini kondisinya tidak seperti itu lagi. Untuk daerah industri seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Batam, upah buruh sudah cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain di ASEAN maupun Brazil, Rusia, India, China (BRIC). Sementara itu, upah buruh di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih tergolong rendah.
"Itu pun perbandingannya perlu dilihat lebih jelas. Kalau dengan China, dibandingkan dengan Shenzhen tentu upahnya lebih tinggi di sana. Tapi kalau di tempat lain bisa rendah. Upah buruh kita secara umum tidak bisa lagi dikatakan rendah," jelas Azhar.
Ia menambahkan, dibandingkan dengan Laos, Kamboja, Myanmar, dan Vietnam, upah buruh Indonesia juga lebih tinggi. Namun upah belum setinggi di Singapura dan Malaysia.
Azhar mengaku akan mencermati evaluasi perkuartal pertama penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalan negeri (PMDN). (GA/OL-3)