JAKARTA--MICOM: Para analis pasar minyak memperkirakan potensi terjadinya lonjakan harga minyak hingga menyentuh US$150-US$175 per barel jika ketegangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran memuncak pada penutupan Selat Hormuz di Timur Tengah.
Hal tersebut terungkap dalam kunjungan rombongan Indonesia yang terdiri atas wakil dari Kementerian ESDM, Hufron Asrofi dan Susyanto serta wakil dari BP Migas, Amrizal Syahrin, Gde Pradyana dan Putut Prabantoro ke Sekretariat OPEC di Wina, Austria, Jumat (27/1) lalu.
Menurut Penasihat Ahli Kepala BP Migas Bidang Komunikasi Putut Prabantoro, para analis pasar minyak memperkirakan akan terjadi lonjakan harga minyak yang menyentuh US$150-US$175. Meski demikian diperkirakan lonjakan harga minyak itu bersifat sementara dan harga minyak akan segera kembali normal ke level US$100.
"Hal ini dimungkinkan karena negara-negara IEA akan melepas cadangan minyak strategis mereka," ujar Putut dalam keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia, Jumat (3/2).
Seperti diketahui, Selat Hormuz menjadi menarik dibicarakan karena pemerintah Iran akan mengancam menutup selat tersebut jika negara Barat bersikeras ingin meninjau fasilitas nuklir di negara itu. Menjawab ancaman pemerintah Iran, pemerintah AS merespon dengan mengirim kapal induknya ke daerah konflik tersebut.
Jika ancaman Selat Hormuz benar-benar terjadi, selain akan mengundang AS dan sekutunya untuk membuka paksa pemblokadean tersebut, akibat yang akan sangat terasa bagi dunia termasuk Indonesia adalah harga minyak yang akan membumbung tinggi. (Atp/OL-2)