JAKARTA--MICOM: Hujan deras dan angin kencang yang menyebabkan banyaknya pohon tumbang membuat Pemkot Jakarta Selatan kerap melakukan pemangkasan dan penebangan pohon. Namun upaya ini terkendala alat yang tidak memadai.
"Berdasarkan data yang ada, 2.500 pohon di Jakarta Selatan berpotensi tumbang. Namun, setiap kecamatan hanya memiliki 1 unit gergaji mesin. Hanya di Kecamatan Kebayoran Baru yang memiliki 2 unit," ujar Heru Bambang Ernanto, Kepala Sudin Pertamanan Jakarta Selatan, Jumat (3/2).
Minimnya jumlah peralatan tersebut berbanding terbalik dengan jumlah pohon di Jakarta Selatan. Sehingga ia melaporkan bahwa pemangkasan dan penebangan pohon tidak efektif dan efisien. Ia akui kerap membutuhkan waktu lama untuk memangkas sebuah pohon dan membersihkan bekas pemangkasan.
"Idealnya itu setiap kecamatan minimal punya 2 unit gergaji mesin, bahkan lebih bagus 3. Satu untuk potong di atas, dan 2 lagi merapikan batang-batang di bawah," paparnya.
Kendala tidak berhenti di peralatan saja. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa ada kekurangan SDM terutama untuk posisi pemotong pohon. Berdasarkan fakta di lapangan, setiap kecamatan hanya memiliki 3-4 orang pemotong pohon.
"Itupun yang spesialis berani naik ke pohon tinggi hanya 1 orang. Kan tidak mungkin kita paksakan dia terus-terusan kerja," ucapnya.
Keterbatasan peralatan dan SDM membuat pihaknya membuat prioritas. Ia membantah pihaknya lamban dalam merespon berbagai ancaman pohon tumbang di Jakarta Selatan.
Menurutnya pepohonan di jalur padat lalu lintas menjadi prioritas. Misalnya saja di Jalan Sultan Iskandarmuda, Jalan Sisingamangaraja, dan Jalan TB Simatupang.
"Tapi kita harus koordinasi dengan Satlantas Polres Jaksel. Sebab kalau di jalan itu lalu lintasnya padat, sudah pasti akan menimbulkan kemacetan. Makanya sering dilakukan ketika lalu lintas lebih sepi," tutupnya. (NY/OL-04)