Serangan cuaca dingin ekstrem di Eropa menerbitkan kekhawatiran akan bencana kelaparan karena jalur terputus atau suplai makanan berkurang.
Di Bosnia, pemerintah setempat harus mengerahkan dua helikopter untuk mengirimkan makanan dan perlengkapan lain ke desa-desa yang jalurnya terisolasi di wilayah timur. Operasi pengiriman pasokan makanan itu dilakukan dua hari hingga kemarin.
Di Ukraina, ratusan warga harus berlindung di sekitar 3.000 pos penampungan yang dibuat pemerintah. Tempat itu memberikan perlindungan kehangatan dan jaminan makanan bagi warga menghadapi suhu anjlok hingga minus 32 derajat celsius di Kiev, ibu kota Ukraina.
"Saya memiliki tempat untuk tinggal, tapi tidak ada yang bisa dimakan. Saya terpaksa datang ke sini untuk mendapatkan makanan. Ada roti dengan sepotong daging dan bawang, serta bubur," ujar Olexander Shemnikov di luar pos penampungan Kiev, kemarin.
Sedikitnya sudah 160 korban tewas akibat cuaca dingin di berbagai negara Eropa, dari Ukraina hingga Italia. Kemarin, Kementerian Situasi Darurat Ukraina menyatakan ada 38 orang lagi yang ditemukan tewas akibat cuaca dingin. Jumlah itu menambah daftar korban tewas akibat cuaca dingin di negara tersebut menjadi 101 orang dalam sepekan terakhir. Selain itu, 1.200 orang dinyatakan sedang dalam perawatan karena terserang hipotermia,
frost bite, dan penyakit lain yang berhubungan dengan cuaca dingin. "Ini waktu yang sangat menyulitkan bagi negara ini," ujar Perdana Menteri Ukraina Mykola Azarov.
Di Serbia, tujuh orang dilaporkan tewas karena kedinginan. Selain itu, sekitar 11 ribu penduduk desa masih terisolasi akibat hujan badai salju yang menimbulkan timbunan salju hingga 5 meter.
"Kami mencoba segalanya untuk membuka blokade jalan karena lebih banyak salju yang diperkirakan akan terus tertimbun dalam beberapa hari mendatang," kata salah satu polisi Serbia, Predrag Maric.
Maric mengatakan para warga mungkin memiliki cadangan suplai makanan untuk musim dingin. Namun, mereka akan sulit mendapatkan bantuan untuk keadaan darurat akibat jalan yang terputus.
Di Rusia, 64 orang dikabarkan tewas sepekan terakhir. Di Bulgaria, 16 kota mencatat suhu terendah dalam 100 tahun terakhir. Sebanyak 1.070 sekolah di negara itu ditutup sejak Kamis (2/2).
Pakar meteorologi asal Jerman Helmut Malewski mengatakan cuaca dingin akan berlanjut ke wilayah Eropa Tengah dalam sepekan ke depan.
Di Polandia, otoritas setempat mengumumkan jumlah korban tewas bertambah sembilan orang lagi. Total sejak sepekan terakhir sebanyak 38 orang tewas akibat cuaca dingin di Polandia. Di Rumania, delapan orang tewas akibat kedinginan. Kementerian Kesehatan Rumania menyatakan jumlah korban tewas menjadi 22 orang.
Eropa Barat pun mulai bersiap mengalami bencana. Di Italia, Wali Kota Roma memerintahkan semua sekolah ditutup sejak kemarin. Pakar cuaca menyebutkan kondisi pekan lalu merupakan yang terdingin di Eropa dalam 27 tahun terakhir. Selain kekhawatiran atas suplai makanan, Uni Eropa berpotensi mengalami krisis energi akibat cuaca dingin. (AP/BBC/DK/X-9)