KARIMUN--MICOM: Kabupaten Karimun di perbatasan negara dengan Malaysia dan Singapura, rawan menjadi daerah transit perdagangan orang, kata Widyaiswara Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan dan Sumber Daya Manusia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Redya Betty D Sinaga.
"Karimun bukan daerah yang warganya menjadi sasaran pelaku trafficking, tetapi menjadi daerah transit dengan korbannya berasal dari daerah lain," katanya dalam acara sosialisasi pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di aula SDN 001 Tanjung Balai Karimun, Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Senin (6/2).
Dalam sosialisasi yang dihadiri sejumlah lurah, guru, pelaku pendidikan anak usia dini, pusat kegiatan belajar masyarakat serta LSM itu, Betty mengatakan, letak Karimun yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia sangat strategis bagi pelaku human trafficking.
"Dari Karimun ke mana-mana dekat, ke Singapura atau Malaysia dekat, Dumai juga dekat. Posisi seperti inilah yang dimanfaatkan para pelaku trafficking, korbannya transit di sini kemudian dikirim ke luar negeri dengan menggunakan berbagai modus yang antara lain sebagai tenaga kerja Indonesai (TKI), job training dan banyak lagi modus lain," katanya.
Atas dasar itulah, menurut Betty, Kemendikbud memilih Karimun sebagai salah satu daerah sasaran sosialisasi PPTPO kepada Sub Gugus Tugas TPPO yang beranggotakan praktisi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, sosial, LSM serta aparat pemerintahan.
"Salah satu modus trafficking adalah memalsukan identitas korban dengan membuat KTP atau paspor di daerah transit sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Modus ini bisa terjadi akibat perilaku korup oknum pegawai yang berkonspirasi memalsukan identitas korban dengan menerima uang sogokan," ucapnya.
Dia menuturkan sosialisasi yang akan digelar selama dua hari itu bertujuan untuk merevitalisasi peranan SGT TPPO yang diharapkan melakukan aksi nyata dengan menyusun rencana aksi daerah dalam mencegah TPPO. (Ant/OL-2)