ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/bo
BANDARLAMPUNG--MICOM: Volume ekspor biji kopi dari Provinsi Lampung sepanjang tahun 2011 merosot tajam. Cuaca yang tidak mendukung dan harga kopi yang stagnan menjadi penyebabnya.
Data Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Daerah Lampung yang diterima dari Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung menyebutkan volume ekspor biji kopi Lampung sejak Januari hingga Desember 2011 sebesar 195.605 ton senilai 396,981 juta dolar AS. Angka itu turun 25,33% dibandingkan 2010 sebanyak 261.969 ton dan menghasilkan devisa senilai 392,619 juta dolar AS.
Bahkan, angka itu turun drastis hingga 43% dibandingkan ekspor tahun 2009 sebanyak 342.313 ton lebih yang menghasilkan devisa sebesar 475,360 juta dolar AS.
Ketua Kompartemen Penelitian dan Pengembangan AEKI Lampung Muchtar Lutfie memprediksi terus menurunnya volume ekspor kopi Lampung karena faktor cuaca yang tidak mendukung.
"Pada 2009 terjadi kemarau panjang sehingga panen kopi tahun 2010 merosot. Demikian pula tahun 2010 justru hujan berkepanjangan, akibatnya produksi kopi juga tidak bagus," ujar Muchtar kepada SH di Bandarlampung, Senin (6/2) sore.
Menurut dia, produksi kopi akan bagus jika cuaca mendukung, yakni musim kemarau dan musim hujan teratur.
"Jika kemarau terlalu lama kopi tidak berbunga atau hujan terlalu banyak, bunga kopi rontok tidak jadi putik," lanjutnya.
Selain itu, sambungnya, harga kopi yang stagnan sekitar Rp14 ribu sampai Rp16 ribu/kg di tingkat petani selama tiga tahun terakhir juga menyurutkan animo petani merawat tanamannya.
"Sudah menjadi hukum ekonomi, jika harga tinggi, petani akan merawat tanaman agar panen berikutnya melimpah. Tetapi, sebaliknya jika harga kurang bagus, petani membiarkan kopinya," ungkap mantan Dirut PD Wahana Raharja ini.
Berdasarkan angka sementara Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, produksi kopi robusta tahun 2011 mencapai 143.465 ton dan kopi arabika 10 ton. Sedangkan, pada 2010 produksi kopi robusta mencapai 145.009 ton dan arabika mencapai 16 ton. Areal perkebunan kopi di Lampung seluas 163.837 hektare yang dikelola oleh 218.447 kepala keluarga petani. (NV/OL-10)