ANTARA/Rosa Panggabean/wt
DI tengah kontroversi baru mengenai adanya kerugian negara dalam proses penyelematan Bank Century yang kini berganti nama menjadi Bank Mutiara, tiba-tiba menyeruak berita ada satu institusi yang berminat membeli bank itu di harga penyelematannya yakni US$750 juta atau setara Rp6,7 triliun.
Yawadwipa, dalam rilis yang dikeluarkan kemarin, menyatakan bahwa pihaknya siap mengakuisisi 100% saham Bank Mutiara dengan harga aman dan menyediakan penambahan modal langsung untuk meningkatkan rasio modal dan mempercepat pertumbuhan Bank Mutiara.
Berdasarkan penelusuran
Media Indonesia, pada website perusahaan yakni
www.yawacompanies.com ditemukan bahwa perusahaan ini baru didirikan pada 9 Januari 2012. Dalam rilis pendirian perusahaan itu disebutkan bahwa pendiri perusahaan itu adalah Christoper Holm, seorang banker senior yang telah menghabiskan waktunya di Bank Of America Merryl Linch, Citigroup dan Lazard.
Disebutkan juga Holm memiliki segudang pengalaman sebagai
dealmakers. Ia telah merampungkan sekitar 50 transaksi senilai US$150 miliar di mana US$35 miliar di kawasan Asia dan sisanya lebih dari US$100 miliar di berbagai negara di kawasan lainnya.
Sebagai partner lokal, ditunjuk Prasetyo Singgih sebagai Chief Operation Officer. Singgih saat ini merupakan Ketua Kadin Komite Tiongkok. Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Direktur Manulife.
Dalam rilis itu disebutkan, sejumlah pihak memberikan apresiasi terhadap kehadiran Yawadwipa. Menteri Perdagangan Gita Wiryawan yang dikenal dekat dengan kalangan private equity menyatakan kehadiran Yawadwipa tepat guna memberikan kontribusi dalam menarik investasi dari luar masuk ke Indonesia. Terlebih lagi saat ini Indonesia telah memperoleh investment grade sehingga dana-dana berkualitas bisa mengalir ke Indonesia.
Ketua Kadin Indonesia Suryo B Sulisto tidak luput memberikan komentar. Senada dengan Gita, ia juga menilai kehadiran Yawadwipa memberi angin segar bagi dunia usaha di Indonesia.
Saat ini Yawadwipa sedang menggalang dana sebesar US$1 miliar atau setara Rp9 triliun yang akan dikumpulkan dalam Java Fund. Rencananya Java Fund akan dipergunakan oleh perusahaan untuk berinvestasi di Indonesia guna membiayai pembangunan infrastruktur dan juga bisnis lainnya yang prospektif. (Uud/OL-3)