Cipto Adi Gunawan
Membina Nelayan Sahabat Ikan Hias
Minggu, 12 Februari 2012 00:00 WIB     
komentar
0 Like Dislike 0

Membina Nelayan Sahabat Ikan Hias
MI/Arnold Dhae/sa
KEMISKINAN selalu saja menghampiri kehidupan nelayan, tak terkecuali nelayan yang tinggal di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Mata pencaharian mereka menangkap ikan hias di laut dengan menggunakan potasium.

Kondisi itu sudah berlangsung turun-temurun. Akibatnya, lingkungan rusak, terumbu karang hancur, populasi ikan terus menurun, dan para nelayan di sana semakin miskin.

Setelah melihat kondisi warga nelayan di Desa Les seperti itu, seorang Cipto Adi Gunawan tergugah untuk berbuat sesuatu. Awal perkenalan Cipto dengan nelayan di Desa Les tersebut berasal dari keisengannya untuk menyelam.

Saat itu ia bertemu dengan seorang relawan dari sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal Buleleng bernama Bahtera Nusantara. Bahtera ternyata sudah bertahun-tahun melakukan investigasi terhadap para nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan potasium.

Mewakili LSM tersebut, Bahtera mengatakan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya mulai dari memberikan pelatihan, sosialisasi, sampai dengan pendekatan personal dan hukum untuk mencegah nelayan di sana melakukan penangkapan ikan dengan cara-cara ilegal.

Bahkan sampai ada yang ditangkap, dipenjara oleh pihak berwajib. Namun, aksi nelayan memburu ikan hias terus dilakukan dengan bom, potasium dan sebagainya. "Intinya mereka benar-benar pasrah, dan masyarakat tetap melakukan hal yang sama," ujarnya.

Pada 2000, Cipto yang kebetulan memiliki hobi menyelam itu mengunjungi Desa Les. Ia tertarik melanjutkan upaya Bahtera dan ingin menyejahterakan nelayan Desa Les tapi dengan cara yang berbeda.

Cipto menyamar menjadi pedagang ikan hias. Samarannya cukup ampuh. Para nelayan mulai bergaul dan akrab dengan pria asal Pekalongan ini karena dia berjanji akan memborong ikan hias dan mencarikan pengepul langsung dari luar negeri.

"Saya mulai bergaul dengan mereka, tinggal bersama mereka. Inilah awal mula saya mulai diterima oleh para nelayan," katanya. Namun Cipto tetap memegang misinya.

Setiap saat bertransaksi dengan nelayan, ia selalu mempersoalkan kualitas ikan yang mereka buru. "Saya sering katakan kepada mereka bahwa tangkapannya tidak sesuai dengan keinginan pengepul atau pedagang asal luar negeri," ungkapnya.

Apa yang dilakukan Cipto itu punya maksud lain. Yakni untuk menggugah kesadaran para nelayan di sana agar tidak menangkap ikan secara ilegal.
Pelan tapi pasti nelayan mulai mengurangi penggunaan potasium saat menangkap ikan.

Dari sinilah Cipto mulai merasa dirinya sudah benar-benar diterima di lingkungan nelayan. Kesempatan itu tidak ia sia-siakan. Mulailah dia beraksi dengan mulai memberikan penyadaran, pemahaman tentang bahaya penangkapan ikan dengan menggunakan potasium.

Pada suatu kesempatan, ia menjelaskan bahwa ada cara penangkapan yang lebih mudah, gampang, dan hasilnya lebih banyak serta kualitas ikannya lebih baik dan harganya tinggi.

Cara yang Cipto tawarkan ialah dengan menggunakan jaring kecil. Namun respons para nelayan sangat bertolak belakang. Mereka masih ada yang tetap menggunakan cara lama.

"Untung ada dua nelayan yang mencoba usulan saya tersebut. Mungkin karena faktor kebetulan, kedua nelayan tersebut mendapatkan ikan yang sangat banyak, kualitas ikan hiasnya sangat bagus, dan dia dibeli dengan harga yang tinggi," ujarnya.

Kondisi ini menjadi perhatian para nelayan lainnya. Akhirnya, semakin banyak nelayan di sana menggunakan jaring saat memburu ikan hias di seluruh wilayah perairan Bali.

Membuat wadah

Sedikit demi sedikit penghasilan warga Desa Les meningkat. Cipto yang aktif di berbagai kegiatan sosial itu mulai dikenal dan dicintai masyarakat nelayan di sana.

Kondisi itu dipakai Cipto untuk membentuk wadah nelayan bernama Mina Bakti Soansari yang beranggotakan 2.000 KK. Melalu wadah itu, Cipto berhasil mengubah nelayan yang sebelumnya sebagai perusak ekosistem laut akhirnya menjadi kelompok konservasi biota laut, terutama terumbu karang.

Lebih dari itu, secara adat sudah dibuat peraturan adat setempat atau yang dalam bahasa Bali disebut dengan awig-awig yang melarang warga menggunakan potasium saat menangkap ikan. Sanksinya tegas, warga akan dikeluarkan dari desa adat setempat jika melanggar.

"Sanksi sosial ini lebih berat dan lebih efektif ketimbang sanksi hukum formal. Terbukti, sejak awig-awig itu ditetapkan dengan seremoni adat hingga saat ini belum ada yang melanggar," ujarnya.

Saat ini kelompok nelayan Mina Bakti Soansari sudah berubah wajah. Mereka bukan saja sebagai penangkap ikan hias, tetapi sudah mampu melakukan memonitor keberadaan ikan. Artinya, bila di sebuah areal ikannya belum cukup umur untuk dipanen atau ditangkap, mereka akan pindah ke wilayah lainnya. Mereka juga hanya menangkap ikan sesuai pesanan.

Berkat upaya Cipto, kini ikan hias Desa Les sudah merambah Australia, Filipina, dan beberapa negara di Timur Tengah, terutama Arab Saudi. Selain itu, nelayan Desa Les juga sudah bisa mengembangkan desa mereka sebagai eduecotourism. Mereka melakukan rehabilitasi terumbu karang secara mandiri.

Mereka juga dengan penuh kesadaran menyiapkan lahan sekitar 500 meter persegi untuk adopsi terumbu karang. Areal ini akan terus diperluas.

Sekarang, desa yang sebelumnya sangat tradisional dan terbelakang berubah menjadi lokasi wisata ilmu pengetahuan. Wisatawan yang masuk Desa Les kebanyakan sebagai peneliti dan ilmuwan dari berbagai hal tentang kelautan.

Desa Les kini berubah menjadi laboratorium hidup bagi para peneliti. Banyak warga nelayan di sana yang sudah bisa membangun homestay, vila sederhana yang mereka tawarkan dengan tarif lumayan mahal. (M-1)


Share |

Advertisement
Advertisement
MORE NEWS»
Jumat, 25 Mei 2012 00:00 WIB
Kamis, 24 Mei 2012 00:01 WIB
Rabu, 23 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 22 Mei 2012 00:00 WIB
Minggu, 20 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 18 Mei 2012 00:01 WIB
Selasa, 15 Mei 2012 00:00 WIB
Senin, 14 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 11 Mei 2012 00:01 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 00:00 WIB
Rabu, 09 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 08 Mei 2012 00:00 WIB


   Index Berita