Retno Supriyanti
Penemu Alat Deteksi Katarak
Penulis : Liliek Dharmawan
Kamis, 16 Februari 2012 00:00 WIB     
komentar
1 Like Dislike 1

Penemu Alat Deteksi Katarak
MI/Liliek Dharmawan
Retno Supriyanti, 41, tampak sibuk memotret area mata seseorang. Setelah itu, hasil foto tersebut ditransfer ke perangkat komputer. Tidak perlu lama, hanya sekitar 3 menit, dengan melihat hasil foto itu sudah diketahui apakah orang tersebut menderita katarak atau tidak.

Retno memotret dengan kamera saku. Bahkan, kamera apa saja bisa, baik digital maupun DSLR. Hasilnya? Tingkat keakuratannya mencapai 92%.

Pendeteksian katarak dengan kamera itu merupakan hasil temuan Retno Supriyanti, dosen Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Retno bukan seorang ahli kesehatan atau dokter. Ia seorang engineer yang menamatkan kuliah doktoralnya di Nara Institute of Science and Technology Jepang pada 2010. Dia melakukan riset pendeteksian katarak bersama Hitoshi Habe, Prof Masatsugu Kidode, dan Prof Satoru Nagata, yang akhirnya menemukan metode sederhana itu.

''Selama ini yang saya tahu pendeteksian katarak dengan menggunakan peralatan yang cukup mahal. Harganya berkisar sampai Rp30 juta dan harus di depan seorang dokter ahli guna menentukan apakah seseorang menderita katarak atau tidak,'' jelas Retno, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (13/2).

Namun dengan hanya menggunakan kamera digital, semua orang bisa melakukannya. Bisa di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Pasalnya, mendeteksi katarak cukup dilakukan dengan pemotretan pada bagian mata.

''Namun setelah dilakukan pemotretan, memang perlu dianalisis di komputer. Sangat sederhana, tinggal memasukkan hasil pemotretan dan langsung diperoleh hasilnya. Analisis dilakukan dengan software khusus. Perangkat lunak ini langsung bekerja cepat dan bisa menentukan apakah seseorang menderita katarak atau tidak. Selama saya melakukan pengujian dengan software ini, akurasinya 92%,'' ungkapnya.

Belum ada nama

Retno mengakui penemuan perangkat lunak yang bisa langsung diinstal di perangkat komputer tersebut belum diberi nama. ''Sejauh ini memang belum diberi nama. Nama yang biasa dipakai hanyalah software pendeteksi katarak. Namun, saya sangat berhati-hati jika ingin memberikan nama software ini kepada masyarakat umum. Karena ini penemuan, jangan sampai nanti disalahgunakan untuk kepentingan bisnis. Itu yang saya tidak mau,'' jelas Retno.

Sementara ini, percobaan pendeteksian secara massal telah dilakukan di Desa Gemuruh, Kecamatan Padamara, Purbalingga. Di desa tersebut dilakukan pemotretan kepada warga yang diduga menderita katarak, kemudian langsung bisa dideteksi melalui perangkat lunak yang ada di komputer. ''Namun kelemahannya sampai sekarang ini, untuk mendeteksi katarak, saya harus datang untuk menganalisis melalui perangkat lunak di komputer saya,'' terangnya.

Demi keefektifan waktu dan tenaga, ke depan Retno telah merancang agar dia tidak perlu datang ke desa-desa. Caranya bukan dengan memberikan software tersebut ke komputer desa karena masih ada kekhawatiran kalau itu disalahgunakan. Retno hanya membuat link atau hubungan lewat internet antara komputer desa dan komputer di Fakultas Sains dan Teknik Unsoed.

''Dengan demikian akan lebih aman karena foto-foto dibuat di desa bisa dikirim untuk dianalisis melalui link yang tersedia. Dengan cara seperti itu akan lebih efektif. Saya pun tidak perlu repot-repot datang ke desa kemudian kembali lagi ke kampus.''

Sejauh ini, lanjut Retno, kalau ada kegiatan operasi gratis katarak, salah satu kendalanya ialah kurangnya basis informasi mengenai jumlah penderita.

Dengan ada peralatan deteksi katarak, kegiatan pendeteksian awal bisa dilakukan terlebih dahulu. ''Dengan demikian akan dapat diketahui jumlah penderita katarak di setiap daerah. Dokter atau ahli mata akan memberikan pelayanan operasi katarak dengan tepat sasaran karena jumlahnya sudah pasti.''

Retno mengakui hasil temuannya sebatas pendeteksi, bukan mengobati. Namun dengan adanya perangkat lunak tersebut, dia menganggap pendeteksian kasus katarak di setiap daerah akan lebih efektif dan efisien.

''Tidak perlu peralatan pendeteksi yang selama ini dipakai seperti slit-lamp dan optalmoskop.''

Apabila penyakit katarak bisa dideteksi sedini mungkin, dokter bisa lebih cepat melakukan penanganan. ''Ke depan, saya akan bekerja sama dengan desa-desa untuk melakukan pendeteksian katarak kepada masyarakat,'' kata Retno.

Terlebih, kasus kebutaan akibat katarak di Indonesia cenderung meningkat. Pada 2001, data WHO menyebutkan kasus kebutaan diperkirakan mencapai 40 juta pada 2020. Ironisnya, negara-negara yang diprediksi memiliki kasus kebutaan tertinggi adalah negara dunia ketiga, termasuk Indonesia.

Retno berharap deteksi dini katarak bisa mencegah kebutaan di Indonesia. Apalagi, temuan Retno yang menggunakan alat sederhana, seperti kamera digital dan software pendeteksi katarak, sangat membantu masyarakat yang terancam katarak. (N-3)

Biodata

Nama : Retno Supriyanti
Tempat, tanggal lahir : Wonosobo, 16 Agustus 1971
Suami : Henricus Bowo Kristianto
Anak : Gabriel Pradipta David Galvano, 9
Pendidikan
1. S-1 Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada
2. S-2 Teknik Elektro, Sistem Informasi Komputer, Universitas Gadjah Mada
3. S-3 Graduate School of Information Science (Advanced Intelligence) Nara Institute of Science and Technology, Jepang
Pekerjaan: Pengajar di Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto
Penghargaan
1. Finalis Ristek Kalbe Science Award, kategori best research, September 2010
2. Creative and International Competitiveness Project, Nara Institute of
Science and Technology, Jepang (2008-2009)
3. Honorable Mention Poster Award, SPIE Medical Imaging, San Diego, California, Februari 2008

Share |

Advertisement
Advertisement
MORE NEWS»
Jumat, 25 Mei 2012 00:00 WIB
Kamis, 24 Mei 2012 00:01 WIB
Rabu, 23 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 22 Mei 2012 00:00 WIB
Minggu, 20 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 18 Mei 2012 00:01 WIB
Selasa, 15 Mei 2012 00:00 WIB
Senin, 14 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 11 Mei 2012 00:01 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 00:00 WIB
Rabu, 09 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 08 Mei 2012 00:00 WIB


   Index Berita