Broto Wijayanto
Meramaikan Panggung Teater Bersama Kaum Tunarungu
Penulis : Ardi Teristi Hardi
Sabtu, 18 Februari 2012 00:00 WIB     
komentar
0 Like Dislike 0

Meramaikan Panggung Teater Bersama Kaum Tunarungu
MI/Ardi Teristi Hardi
Orang-orang dengan keterbatasan atau perlu alat bantu khusus sering minder atau tidak percaya diri di antara orang normal lainnya. Mereka kerap kurang percaya diri dalam pergaulan.

Mereka bahkan sering menolak hadir atau berkumpul di tempat keramaian atau tempat hiburan karena tidak percaya diri. Ditambah lagi, tidak ada fasilitas yang disediakan untuk orang berkebutuhan khusus.

Broto Wijayanto mencoba membantu teman-teman difabel tersebut, khususnya mereka yang menderita tunarungu, untuk selalu percaya diri. Salah satu caranya dengan mengajari mereka bermain teater.

Sebuah ruangan berukuran 3x3 meter menjadi tempat berkumpul dan berkreasi teman-teman penyandang tunarungu. Tempat tersebut diberi nama Deaf Art Community (DAC) yang terletak di Jalan Langenarjan Lor 3, Panembahan, Kota Yogyakarta.

Berbagai kegiatan dilaksanakan di tempat tersebut, mulai sekadar berkumpul, latihan teater, yoga tertawa, hingga bengkel bisnis.

Broto bercerita pertama kali dia terlibat di komunitas tersebut pada 2004 saat diajak temannya bernama Wahyu, seorang mahasiswa psikologi.

Broto memang sudah punya pengalaman melatih teater hingga pentas amal di beberapa tempat. Dia ditantang Wahyu untuk bisa mengajar teater ke teman-teman penyandang tunarungu tersebut.

Dia tertantang pula mengajari komunitas tunarungu. Broto akhirnya terlibat penuh di DAC yang berdiri 28 Desember 2004. Broto langsung setuju meski dia sendiri tidak pernah berinteraksi dengan para penyandang tunarungu.

Ketika pertama kali bertemu dengan para penyandang tunarungu, Broto sangat tegang karena tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak bisa menggunakan bahasa isyarat yang biasa dipakai para penyandang tunarungu.

Broto bersikap kaku dan bingung. Sikap itu terbaca oleh teman-teman penyandang tunarungu itu. ''Ibaratnya saya ini menjadi orang paling cacat di antara orang-orang cacat,'' terangnya sambil mengenang kejadian memalukan tersebut.

Dia sempat stres karena tidak bisa berbahasa isyarat. Namun, Broto memiliki kepandaian berpantomim. Dengan pantomim itu, Broto bisa memasuki dunia dan pikiran teman-teman di DAC.

Interaksi pun perlahan-lahan bisa terjalin dengan baik. Dari perkenalan lewat pantomim itu, Broto mulai belajar bahasa isyarat.

Alhasil, teman-teman penyandang tunarungu itu pun bisa menerima kehadiran Broto dan antusias melakukan latihan teater.

Pentas pertama DAC berjudul Letter to God. Broto bertindak sebagai sutradara, sedangkan sejumlah mahasiswa dari Fakultas Psikologi UGM bertindak sebagai penulis cerita.

''Ceritanya berkisah tentang orang tuli yang menulis surat kepada Tuhan tentang semua hal termasuk kenapa saya tuli. Kenapa tidak bisa mendengarkan suara burung dan lainnya,'' ungkapnya.

Dari pementasan perdana pada 2004 itu, tidak lama kemudian sudah ada pesanan untuk pentas di tempat lain. Para penyandang tunarungu yang awalnya tidak percaya diri itu kemudian mulai bangga karena bisa bermain teater.

Broto menggambarkan, pada awalnya, ada rasa curiga dalam diri para penyandang tunarungu itu. Ketika ada orang datang ke komunitas DAC, mereka pasti akan menanyai maksud kedatangan orang tersebut dan mencurigai gerak-geriknya. Mereka tidak bisa menerima kehadiran orang di luar komunitas.

Sikap itu dianggap wajar oleh Broto karena selama ini mereka sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan di lingkungan masyarakat.

Namun setelah pementasan perdana, rasa curiga perlahan mulai pupus. Mereka mudah bergaul dengan siapa saja yang datang ke komunitas tersebut.

Broto tidak tahu persis butuh waktu berapa lama untuk membangun rasa percaya diri pada diri para penyandang tunarungu tersebut. Selama delapan tahun dia bergabung dengan DAC, teman-teman penyandang tunarungu itu sudah mudah berinteraksi dengan orang lain.

Tidak punya metode

Sudah satu windu Broto mendampingi teman-teman penyandang disabilitas tersebut. Namun, dia tidak bisa menjelaskan metode seperti apa yang diterapkan kepada komunitasnya hingga muncul rasa percaya diri.

''Saya tidak punya metode apa pun saat mengajarkan teater kepada teman-teman penyandang tunarungu ini. Konsep saya mengalir dengan titik awal dari mereka,'' ucapnya dengan rendah hati.

Bahkan saat kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Broto tidak pernah mendapat pendidikan teater untuk para difabel. Broto hanya mengingat setiap kali teman-temannya menginginkan sesuatu, mereka akan serius dan tekun menjalaninya.

''Saya tinggal memunculkan daya kreativitas mereka dan mencari titik temu yang cocok. Misalnya cara mengajarnya dengan bahasa isyarat dan langsung dipraktikkan. Sebab mereka lebih memahami bahasa visual,'' ujarnya.

Sebagai pengajar teater di DAC, Broto mendapat ilmu baru yang berasal dari teman-teman di komunitas tersebut. Dia meyakini ekspresi dan bahasa tubuh yang natural dan ekspresif akan mudah dipahami murid-muridnya saat berteater.

''Itu ilmu baru yang saya peroleh dari mereka. Selain itu, saya menjadi lebih dewasa. Teman-teman tunarungu ini mau belajar mengelola seni pertunjukan, termasuk bagaimana menjaga kesetiaan penontonnya,'' ujarnya dengan panjang lebar.

Selain Letter to God, para anggota DAC telah menampilkan pertunjukan puisi visual dengan bahasa isyarat, sulap, hingga free style hip hop dengan iringan musik menggunakan beat box.

Alasannya, apabila volume musik beat box dikeraskan, itu bisa dirasakan teman-teman di DAC lewat detak jantung mereka. Lain halnya dengan jenis musik gesek atau melodi petik, yang tidak bisa ditangkap dan dirasakan para penyandang tunarungu.

Uniknya lagi, Broto harus memilih musik yang bisa mengikuti gerak penarinya. ''Ya sekarang ini mereka berusaha mengikuti irama musiknya, tapi terkadang mereka menari tidak sesuai dengan musik.''

Akhir tahun lalu, DAC mementaskan drama dengan lakon Aku Ingin Menjadi Kupu-Kupu. Cerita itu ditulis Aris Wicaksono, salah satu penyandang tunarungu di DAC.

Kisah itu berawal dari dialog Aris dengan Broto tentang sikap orang yang selalu jijik melihat ulat bulu. Broto menjelaskan kelak ulat bulu itu menjadi kupu-kupu yang cantik. ''Pak saya mau menjadi kupu-kupu,'' kata Aris memecah keheningan.

Pementasan Aku Ingin Menjadi Kupu-Kupu dikonsep dengan gerakan hip hop.

Sikap Aris itu, lanjut Broto, sudah menunjukkan rasa percaya diri dan cara berpikir yang terbuka.

Broto hanya membantu menghaluskan gerakan dan memperbaiki susunan dialog, sementara penyutradaraan, koreografer, dan sistem keuangan dikelola komunitas tersebut.

Kegiatan melatih para penyandang tunarungu bermain teater telah terdengar sampai ke luar Pulau Jawa. Sebuah yayasan untuk orang tuli di Makassar pun meminta masukan dari Broto untuk menggarap teater bagi orang tunarungu.

Dia yakin latihan berkomunikasi akan menumbuhkan rasa percaya diri para penyandang disabilitas.

Biodata

Nama: Broto Wijayanto
Lahir: Desa Bolo, Demak, Jawa Tengah, 11 Februari 1976
Pendidikan:
Asdrafi
Institut Seni Indonesia
Kegiatan:
- Mengajar sebagai guru honorer Jurusan Teater SMK Negeri 1 Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.
- Mengajar kelas teater Art for Children di Taman Budaya Yogyakarta setiap minggu pagi.
- Membuat pementasan-pementasan amal.
- Pembina Deaf Art Community.

Share |

Advertisement
Advertisement
MORE NEWS»
Jumat, 25 Mei 2012 00:00 WIB
Kamis, 24 Mei 2012 00:01 WIB
Rabu, 23 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 22 Mei 2012 00:00 WIB
Minggu, 20 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 18 Mei 2012 00:01 WIB
Selasa, 15 Mei 2012 00:00 WIB
Senin, 14 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 11 Mei 2012 00:01 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 00:00 WIB
Rabu, 09 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 08 Mei 2012 00:00 WIB


   Index Berita