Gianti Giadi
Tanamkan Rasa Cinta Tari
Senin, 20 Februari 2012 00:00 WIB     
komentar
0 Like Dislike 0

Tanamkan Rasa Cinta Tari
MI/Angga Yuniar/sa
RUANG latihan Gigi Dance Company di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, dipadati belasan penari. Markas berkesenian yang berada di lantai dua itu terasa riuh.

Suara rekaman musik gamelan hingga alunan hip hop memecah kegaduhan. "Ayo, ini sesi latihan! Let's dance," ujar Gianti Giadi, 26, dalam bahasa Indonesia bercampur Inggris.

Belasan penari langsung mengikuti perintah sang koreografer muda. Beberapa penari membentuk lingkaran. Beberapa lainnya memulai latihan dasar dengan berjalan mengikuti jalur pradaksina (searah jarum jam).

Suatu sore di akhir pekan lalu, Gigi, sapaan Gianti, tampak sedikit lelah saat ditemui Media Indonesia. Dia baru saja mendarat di Tanah Air setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam 40 menit dari Singapura.

Di tengah jadwal yang padat mengajar tari di Singapura, ia tetap menyiapkan waktu untuk memberikan materi tari kepada murid-muridnya di Jakarta. Bagi Gigi, tari merupakan kesenian yang mutlak dilestarikan. Salah satunya lewat pengajaran tari kepada murid.

"Hari ini ada kelas mengajar di sini. Jadi, saya harus membagi waktu. Pada Senin dan Selasa, saya memutuskan untuk mengajar di Singapura," tuturnya seraya menyeka butiran keringat di keningnya.

Satu pelajaran yang ia petik lewat mengajar di jurusan tari Lasalle College of the Arts, Singapura, ialah menghargai waktu secara efisien dan efektif.

"Di Singapura, orang begitu mengejar karier lewat tari. Berbeda dengan di Indonesia yang belum begitu dihargai," cetusnya.

Lewat tangan dingin Gigi, kreasi sebuah tari mutlak dilakukan. Buat dia, tari merepresentasikan bahasa yang tak terungkapkan. Gerakan tubuh merupakan bahasa utama dalam menyampaikan sebuah pesan.

Sebagai seorang penari, Gigi sudah mementaskan berbagai macam tari modern hingga tradisonal. Mulai balet asal Eropa hingga tarian Nusantara seperti tari saman, tari pendet, tari piring, hingga tari jaipongan.

Perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu mengaku lebih banyak mementaskan tarian khas Nusantara di luar negeri ketimbang di dalam negeri. Namanya cukup melambung di antara sederet penari hingga koreografer kontemporer di Asia.

Menari, menurut Gigi, ibarat bertapa karena perlu konsentrasi penuh. "Mimik boleh senyum. Namun, nalar harus tetap jalan sehingga bisa memberikan suguhan yang berbeda," ungkap jelas perempuan yang pernah tampil pada International Folkloreade di Belanda pada 2001 itu.

Wadah tari

Gigi mahir menari sejak usia lima tahun. Dengan dukungan kedua orangtuanya, ia pun menimba ilmu di 'Negeri Singa'. Sebagai dedikasi, ia mengabdi sebagai dosen di almamaternya.

"Saya melihat koreografer di Singapura mencoba untuk mempelajari tarian khas Nusantara. Ini yang mendorong saya membuat sanggar tari kontemporer. Saya mau menanamkan rasa cinta tari," ucapnya.

Gigi sadar banyak tari tradisional Nusantara yang perlu diangkat lagi ke permukaan. Untuk itulah, lewat sanggar Gigi Dance Company, ia memberikan pelatihan kepada kaum remaja.

Gigi menuturkan awal pembentukan sanggar dimulai sepulang ia mengikuti American Dance Festival pada 2008. "Awalnya dua orang saja. Namun, (murid) bertambah hingga 600 orang sekarang ini," sambungnya.

Lewat pusat tari itu, Gigi mengajarkan keterampilan menari balet hingga tradisional Nusantara kepada para murid yang berasal dari latar belakang dan budaya berbeda.

"Pada dasarnya saya memberlakukan pungutan biaya (untuk yang berlatih di sanggarnya). Biaya itu digunakan untuk sewa gedung," jelas Gigi.

Namun, lanjut Gigi, dia juga memberikan beasiswa kepada para penari pemula yang memiliki kualitas. "Saya tak mengambil untung atau mencari hidup lewat sanggar ini. Saya mengais rezeki di Singapura," ucapnya sembari tertawa.

Meski mengajar di Singapura, kata dia, hatinya tetap untuk Indonesia.

Lewat tari-tarian baik tradisional maupun kontemporer yang dia bawakan, Gigi memang telah menghampiri setidaknya 20 negara, dari Singapura, Taiwan, Belanda, hingga Amerika Serikat. Lewat Gigi Dance Company, ia bertujuan menanamkan rasa cinta untuk berkesenian bagi para remaja. (M-3)


Share |

Advertisement
Advertisement
MORE NEWS»
Jumat, 25 Mei 2012 00:00 WIB
Kamis, 24 Mei 2012 00:01 WIB
Rabu, 23 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 22 Mei 2012 00:00 WIB
Minggu, 20 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 18 Mei 2012 00:01 WIB
Selasa, 15 Mei 2012 00:00 WIB
Senin, 14 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 11 Mei 2012 00:01 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 00:00 WIB
Rabu, 09 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 08 Mei 2012 00:00 WIB


   Index Berita