SEBAGIAN besar partai politik peserta Pemilu 2009 mengalami kemandekan dukungan pemilih. Bahkan sebagian partai kian ditinggalkan pemilih mereka.
Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi mengatakan hal itu saat mengumumkan hasil survei terbaru LSI di Jakarta, kemarin. "Dukungan untuk Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) stagnan di angka 13%-15%, sedangkan pilihan untuk Partai Demokrat turun drastis menjadi 13,7%," kata Burhanuddin.
Pada Pemilu 2009, Partai Demokrat meraih 21% suara. Itu berarti jika dibandingkan dengan perolehan suara pada 2 tahun 8 bulan lalu, tingkat keterpilihan Demokrat anjlok hingga 7,3%.
Bahkan, hasil survei LSI menunjukkan adanya tren penurunan terus-menerus dari Demokrat. Jika pada 2009 Demokrat masih dipilih 50% responden, pada Januari 2010 pilihan untuk Demokrat sudah turun 19% menjadi 31%, pada Desember 2011 turun lagi menjadi 21%, dan kini 13,7%.
Pengamat politik Universitas Indonesia Iberamsjah menilai menurunnya kepercayaan publik terhadap Demokrat terjadi karena partai berkuasa tersebut saat ini tercitrakan sebagai pelindung para koruptor. "Persepsi publik sudah berubah terhadap Demokrat. Jika tidak ada langkah radikal, nasib Demokrat akan terus terpuruk," ujarnya di Jakarta, kemarin.
Ia mengatakan salah satu langkah yang ingin dilihat publik dari Demokrat yakni semua orang yang disebut terdakwa kasus Wisma Atlet M Nazaruddin harus mundur dari partai. "Yudhoyono harus berani mengambil langkah progresif. Jika tidak, Demokrat akan makin terpuruk. Sama saja SBY membunuh Demokrat."
Wakil Sekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan mengakui persepsi publik terhadap Demokrat cukup negatif. "Itu karena gencarnya pemberitaan mengenai dugaan kasus suap Wisma Atlet. Namun, kami yakin di akhir tahun elektabilitas Demokrat akan kembali terangkat seiring dengan selesainya pembenahan di internal."
Belum mantap
Namun, kata Burhanuddin, penurunan dukungan untuk Partai Demokrat tersebut anehnya tidak diikuti kenaikan dukungan yang signifikan terhadap partai-partai lain. Hal itu tampak dari persentase jumlah pilihan untuk Partai Golkar yang hanya 15,5%, tidak jauh berbeda dengan hasil Pemilu 2009 saat Golkar memperoleh 14% suara (lihat grafik).
"Untuk PDIP juga kurang lebih sama, hanya mendapat dukungan 13,6% pada survei bulan ini, jika dibandingkan dengan 14% suara yang mereka dapatkan pada Pemilu 2009," kata Burhanuddin.
Survei tersebut juga menunjukkan dukungan untuk partai-partai menengah seperti Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) juga stagnan di 4%-5%.
Bahkan Partai Keadilan Sejahtera yang pada Pemilu 2009 mendapat 8%, pada survei Februari turun drastis menjadi 3,7%.
Hasil survei LSI juga menunjukkan separuh responden belum menentukan pilihan atau belum mantap memilih partai tertentu.
"Hanya 49% responden yang menyatakan bahwa mereka sudah mantap untuk memilih partai tertentu jika pemilu diadakan hari ini, sisanya belum memilih atau sudah memilih tapi belum yakin. Ini menunjukkan bahwa masyarakat menunggu partai politik untuk meyakinkan rakyat dengan perbaikan kinerja," kata Burhanuddin. (Ant/X-7)