''Apa kabar?'' sapa pria muda yang mengenakan kemeja putih dan dasi warna hitam itu saat menerima Media Indonesia di ruang kerjanya, Institut Sanskerta Bali, akhir pekan lalu.
Pria tersebut bernama Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III. Dialah rektor Universitas Mahendradatta Denpasar, universitas swasta tertua di Bali dan di kawasan Nusa Tenggara.
Pria yang akan genap berusia 32 tahun pada Agustus mendatang itu memiliki impian untuk menjadikan lulusan SMK dan SMA di Bali sebagai sarjana. Dia rela merogoh uang pribadinya hingga miliaran rupiah untuk beasiswa peningkatan derajat pendidikan formal anak-anak muda dan keluarga miskin di Bali.
Dari obsesinya itu, dia pun menggagas program Bali Intelektual 2020 yang sasarannya ialah mencetak ribuan sarjana dari lulusan SMA/SMK.
Dia menargetkan jumlah pelajar SMA dan SMK yang mendapat beasiswa Bali Intelektual akan mencapai 50% dari seluruh pelajar sekolah menengah di sana.
''Berdasarkan data 2010, ada sekitar 36 ribu lulusan SMA dan SMK di Bali. Tapi baru 11 ribu orang yang melanjutkan kuliah. Artinya masih di bawah 30%. Saya menargetkan lulusan SMA dan SMK yang meraih sarjana pada 2020 mencapai 50% dari jumlah tersebut,'' terangnya.
Dalam 8 tahun ke depan, Wedakarna menggenjot para lulusan SMA dan SMK itu agar bisa mendapatkan ijazah S-1 lewat Bali Intelektual 2020.
Untuk mendukung upaya itu, tahun ini dia memberikan bantuan beasiswa kepada 1.000 lulusan baru SMA/SMK dari keluarga miskin untuk melanjutkan kuliah program strata satu (S-1). Rata-rata tiap mahasiswa dijatah beasiswa Rp25,6 juta hingga tamat sehingga total dana yang dialokasikan Rp25,6 miliar.
Dari total biaya yang dialokasikan, Wedakarna yang juga Sekretaris Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Provinsi Bali ini hanya menanggung separuhnya.
''Sisanya akan ditanggung asosiasi di Eropa,'' imbuhnya.
Program beasiswa itu pun masih akan berlanjut sampai ke jenjang program S-2 bagi mahasiswa yang mampu menunjukkan prestasi di S-1. Untuk beasiswa S-2, dana lebih besar lagi dianggarkan yakni Rp35 juta tiap orang selama dua tahun.
Program beasiswa di universitas yang dia pimpin itu, kata Wedakarna, sudah dirintis sejak 2001 yang saat itu jumlahnya terbatas hanya 10 orang. Namun, jumlah penerima beasiswa kemudian terus bertambah.
Hingga kini sudah ada 2.000 orang yang sudah menjadi sarjana dari 4.600 penerima beasiswa.
Selain beasiswa untuk sarjana, Wedakarna membuka program beasiswa unggulan untuk 200 mahasiswa baru dengan seleksi lebih ketat.
Seleksi ditujukan kepada mahasiswa kurang mampu, tetapi berprestasi ditambah pendekatan kemanusiaan. ''Jadi tidak hanya berdasarkan capaian nilai akhir, tapi dari keseluruhan mulai awal sampai akhir,'' ujar doktor termuda di Indonesia yang meraih gelarnya pada usia 27 tahun 3 bulan itu.
Sebanyak 200 mahasiswa yang mendapat beasiswa khusus ini akan dibuatkan kelas khusus pula. Tenaga pengajar mereka juga akan ditambah, yakni guru besar dari berbagai disiplin ilmu dari luar negeri baik di bidang spiritual, sosial politik, maupun ekonomi.
Dosen yang didatangkan untuk mengajar para mahasiswa ini berasal dari India, Jepang, Australia, dan Jerman.
Wedakarna berharap, dari 200 mahasiswa kelas khusus ini, akan lahir orang-orang pintar dan profesional sesuai dengan bidang masing-masing.
''Kalau di jurusan hukum bisa jadi pengacara andal, bila jurusan ekonomi bisa nantinya jadi supervisor di hotel berbintang dan sebagainya,'' papar Wedakarna yang meraih rekor MURI sebagai Rektor Termuda di Indonesia pada usia 28 tahun.
Pesta beasiswa ini juga ditawarkan untuk anggota TNI/Polri untuk melanjutkan studi S-2. Hanya ada 17 kursi S-2 bagi institusi Polri/TNI.
Di balik semangat memajukan pendidikan tinggi di Bali, Wedakarna punya alasan mengenai masalah itu.
Menurutnya, Bali dinilai sebagai pulau pas-pasan bila dilihat dari kekayaan sumber daya alamnya. Padahal, masyarakatnya belum sepenuhnya melek pendidikan.
''Bali harus diselamatkan melalui jalan pengetahuan. Masyarakat harus sekolah sampai perguruan tinggi. Kalau perlu sampai magister dan doktor,'' tegasnya.
Pasalnya, selama ini Bali sangat lemah dalam mendokumentasikan ajaran leluhur yang sangat universal dan mampu menjadi daya tarik luar biasa.
Sumber kelemahan itu disebabkan para leluhur belum banyak mengetahui strategi globalisasi. Akibatnya, hasil karya leluhur yang biasanya diperuntukkan Tuhan pada akhirnya diklaim orang asing.
Tekad membaja dalam diri Wedakarna membangun pendidikan tidak lepas dari pengaruh ayahnya, Shri I Gusti Ngurah Made Wedastera Suyasa.
Sang ayah merupakan perintis Universitas Marhaen yang berdiri pada 17 Januari 1963. Pada saat itu belum ada kampusnya. Para mahasiswa belajar di Hotel Bali yang kini bernama Inna Bali Hotel.
Kisah perjalanan kampus itu pun penuh tantangan selama Orde Baru, hingga akhirnya namanya dipaksa harus berubah menjadi Mahendradatta. Pasalnya, kata Marhaen identik dengan Orde Lama. Selama berdiri, Universitas Mahendradatta tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Dalam kancah kebangsaan di era reformasi ini, universitas swasta tertua di Bali ini juga ikut mengambil peran aktif. Salah satunya dengan memberikan penilaian sekaligus penghargaan bagi tokoh-tokoh nasional yang dianggap konsisten dalam memegang prinsip-prinsip kebangsaan, kebinekaan, NKRI, dan Pancasila. Salah satu tokoh yang pernah mendapat Mahendradatta Award adalah Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. (N-3)
rutasuryana@mediaindonesia.com