BOGOR--MICOM: Lebih dari 4.000 warga dari tiga kampung di Desa Leuwibatu, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, terancam terisolasi. Jembatan gantung, akses satu-satunya Kampung Kantalarang 1, Kantalarang 2 dan Kantalarang 3, kini sudah rusak dan rawan ambruk.
Jembatan gantung di atas Sungai Cikaniki itu merupakan penghubung ketiga kampung itu dengan Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Jembatan itu adalah satu-satunya jembatan gantung yang terpanjang.
Panjangnya mencapai sekitar 70 meter. Ketinggian jembatan dari permukaan air lebih dari 7 meter dan kedalaman air mencapai 10 meter, khususnya di kala air deras pascahujan.
Seperti diungkapkan Hendrik, Ketua RW 5 di Kampung Kantalarang 1, bahwa sejak pertama berdiri yakni sekitar 1992, jembatan itu tidak pernah diperbaiki secara keseluruhan. Kondisinya saat ini sangat mengkhawatirkan.
"Sudah dari 1992. Belum pernah ada bantuan dari pemerintah. Ini hasil swadaya. Beberapa bulan lalu kondisinya nyaris putus dan ambruk. Sudah miring karena beberapa kawat penggantungnya putus. Ini baru dibenerin, tapi seadanya," kata Hendrik.
Saat ditemui di lokasi pada Senin (20/2), dirinya baru saja pulang dari kantor Kecamatan Rumpin, melaporkan kejadian jalan yang merupakan penyangga jembatan gantung itu terbelah.
"Selain melaporkan kondisi jembatan, saya juga melaporkan jalannya yang terbelah dan longsor. Ini fatal dan membahayakan karena tingginya hingga puluhan meter ke dasar sungai," kata Hendrik.
Dia mengatakan, jika jembatan itu putus atau ambruk dan jalannya longsor, dampaknya fatal bagi kehidupan ribuan warganya. Karena semua aktivitas menggunakan jalan tersebut.
"Yang sekolah, yang kerja, yang bawa barang, yang ke pasar, jalan itu satu-satunya yang bisa dipakai. Lumpuh dan terisolasi. Aktivitas lebih banyak dari sana (Kantalarang) ke sini (Karehkel). Tapi jalan longsor masuk ke Desa Karehkel. Yang saya khawatirkan malam, jalannya terbelah," tuturnya
Menurutnya, ada satu jalan lain, tapi kondisinya tidak memungkinkan dan lebih membahayakan lagi. Jalan tersebut hanya jalan setapak, dan rusak. Jaraknya lebih dari tiga kilometer ke jalan desa.
Kondisinya masih hutan karet. Jalan itu tidak bisa digunakan, karena rawan tindakan kriminalitas seperti begal, baik di siang hari dan terlebih di malam hari.
"Namanya jalan perkebunan kayu Bosbow, Gunung Pangangkang. Jauh, rusak, dan berbahaya. Kalau dari jalan aspal kebun karet ke Kantalarang 3, ke Citeras itu sekitar tiga kilometer. Dan lebih dari tujuh kilometer ke Pasar Leuwiliang. Jadi bukan lagi beda desa tapi sudah beda kecamatan,”paparnya.
Dia menyebutkan jumlah penduduk dari tiga kampung itu ada sekitar 200 keluarga dengan jiwa lebih dari 4.000 orang. Di antara tiga kampung itu, ada satu sekolah yakni SD Leuwibatu 4. (DD/OL-10)