ANDREI Sakharov, ilmuwan nuklir Soviet, ditangkap pemerintah Kremlin karena protes kerasnya atas invasi tentara merah Uni Soviet ke Afghanistan. Sakharov dilahirkan pada 1921.
Pada 1948, setelah menyelesaikan masa belajarnya di jurusan Fisika Universitas Moskow, Sakharov direkrut Badan Nuklir Uni Soviet untuk dilibatkan dalam proyek pembuatan bom hidrogen.
Sakharov merupakan tokoh utama di balik kesuksesan tim Uni Soviet dalam merakit bom hidrogen pertama di dunia yang dibuat pada 22 November 1955.
Pada 1957, dia mulai tertarik pada masalah-masalah yang terkait dengan dampak negatif proyek-proyek senjata nuklir terhadap lingkungan dan keamanan dunia. Akan tetapi, berbagai kritikannya terhadap masalah dampak proyek nuklir itu masih disebut sangat lunak.
Barulah pada 1969, dia menulis sebuah esai di koran
New York Times. Di esainya itu, dia menyerukan demokrasi, pluralisme, dan pembebasan masyarakat Soviet dari intoleransi dan dogmatisme. Dia juga menyeru kepada masyarakat dunia agar peduli dengan masa depan.
Pada 1975, Sakharov mendapatkan hadiah nobel di bidang perdamaian. Dia menjadi orang pertama Soviet yang memperoleh penghargaan tersebut. Akhirnya, menyusul kritikannya yang sangat keras atas invasi Soviet ke Afghanistan, Sakharov ditangkap dan diasingkan ke Gorky.
Di tempat pengasingannya itu, Sakharov menjalani hari-hari kehidupannya dengan sangat berat. Pada 1986, saat pemimpin reformis Soviet Mikhail Gorbachev berkuasa, Sakharov dibebaskan dan diperbolehkan kembali ke Moskow.