Iswanto
Kelola Sampah dengan Mandiri
Penulis : Ardi Teristi Hardi
Kamis, 23 Februari 2012 00:00 WIB     
komentar
7 Like Dislike 0

Kelola Sampah dengan Mandiri
MI/Ardi Teristi Hardi/vg
KETIKA pindah tempat tinggal dari Yudanegaran ke Kampung Sukunan, Yogyakarta, beberapa tahun silam, Iswanto, 41, menyadari satu hal. Di tempat baru itu tidak ada pelayanan truk yang mengambil sampah setiap hari.

Padahal di Yudanegaran, dia mengaku tinggal membayar iuran dan sampah rumah tangganya pun diangkut petugas kebersihan secara rutin. "Di Sukunan kala itu, saya terpaksa membawa sampahnya (rumah) ke kantor agar dibawa petugas kebersihan," kata Iswanto, Selasa (14/2).

Rupanya urusan sampah di wilayah Sukunan belum terlayani pemerintah. Di sisi lain, masyarakat belum menganggap sampah sebagai persoalan. Menurut Iswanto yang dosen politeknik kesehatan lingkungan itu, kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah belum muncul karena kebanyakan memiliki pekarangan luas. Mereka mengikuti kebiasaan lama, yakni menimbun dan membakar sampah di pekarangan atau menghanyutkannya ke sungai.

Dalam pola pikir mereka, Iswanto mengungkapkan, yang penting sampah hilang dari pandangan mata. "Persoalannya, sampah sekarang lebih banyak sampah nonorganik. Apabila dibakar berbahaya dan apabila dikubur, tidak mudah hancur," tutur Iswanto. Ditambah lagi ruang semakin terbatas untuk tetap menerapkan kebiasaan menangani sampah dengan cara lama.

Kegelisahan Iswanto akhirnya dirasa pula oleh warga setempat. Pada 2000, para petani mengeluhkan sampah plastik yang memasuki areal persawahan. Iswanto lalu mencari solusi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, produktif, dan bisa dilakukan masyarakat tanpa membayar iuran.

Uji coba

Pertama, ia melakukan survei tentang cara para pemulung memilah dan menjual sampah, dari pemulung keliling, pemulung di tempat pembuangan sementara (TPS), hingga pemulung di tempat pembuangan akhir (TPA).

Dari survei tersebut, Iswanto bisa menyimpulkan klasifikasi sampah. Pemulung keliling akan mencari sampah bernilai jual tinggi, sedangkan pemulung di TPS mengumpulkan sampah bernilai jual tinggi dan menengah. Adapun pemulung di TPA mengambil sampah bernilai jual tinggi, menengah, hingga rendah.

Dari pemulung di TPA pula Iswanto sadar hampir semua sampah nonorganik bernilai jual setelah dipilah-pilah. Tercetuslah gagasan untuk memilah sampah mulai di hulu, sehingga sampah bisa menjelma jadi barang bernilai jual.

Iswanto lalu menghubungi pengepul untuk membeli sampah yang sudah dipilah. Ia juga membuat daftar sampah yang memiliki nilai jual dengan cara memilahnya menjadi tiga golongan, yaitu kertas, plastik tipis dan logam, kaca dan plastik yang keras. Untuk sampah organik yang tidak laku dijual, ia membuat tempat pembuatan kompos dari gentong tanah liat.

Semua diujicobakan di rumah sendiri. Dua bulan setelah dirasa berhasil, dia mencoba menularkannya kepada tetangga.

Hasilnya, walaupun sebagian besar masih bersikap skeptis terhadap gagasannya tersebut, Iswanto tetap optimistis karena beberapa menunjukkan ketertarikan.

Proposal gagal

Meskipun sudah berhasil memilah sampah dan membuat barang-barang kerajinan dari pengelolaan sampah, Iswanto menganggap tetap membutuhkan dana guna penyediaan sarana dan prasarana untuk menerapkan pengelolaan sampah di Kampung Sukunan.

Ia mengajukan proposal kepada pemerintah. "Tiga kali proposal saya gagal," ungkapnya. Dukungan justru ia peroleh dari seorang warga Australia yang tengah bertugas di Yogyakarta. Iswanto pun memperoleh sponsor yang membantunya menyediakan sarana dan prasaran pengelolaan sampah di Sukunan.

Ia bergegas mengumpulkan tokoh masyarakat dan pengepul untuk bersama rekan Australianya membicarakan manajemen pengelolaan sampah.

Pada 19 Januari 2004, pengelolaan sampah secara terpadu di Kampung Sukunan dimulai. Hari itu pula hingga sekarang diperingati sebagai ulang tahun pengelolaan sampah di Kampung Sukunan.

Semua warga Kampung Sukunan yang terdiri dari satu RW dan lima RT, dari anak-anak hingga dewasa, diberi sosialisasi untuk menangani sampah.

Mengubah mindset

Upaya itu berkembang. Selain memilah dan memberdayakan plastik serta membuat kompos, usaha-usaha lain juga dilakukan, termasuk pengolahan gabus dan styrofoam, bengkel rekayasa alat pengelolaan sampah, juga pendidikan dan pelatihan pengelolaan sampah.

Sampah-sampah yang tidak bisa diolah juga dibuat produk pengganti yang lebih ramah lingkungan. Misalnya pembalut sekali pakai diganti pembalut yang bisa dicuci dan dipakai ulang.

Pada 2008, dengan difasilitasi lembaga swadaya, Kampung Sukunan membuat visi 'kampung wisata lingkungan Sukunan'. Dengan pengelolaan sampah sebagai trademark, kegiatan lain juga dikembangkan untuk menjadikan Kampung Sukunan sebagai kampung wisata lingkungan. Termasuk pembuatan biogas, pertanian proorganik, hingga pengembangan seni budaya karawitan dan jathilan, potensi kuliner, hingga homestay untuk wisatawan.

Iswanto juga mengadakan kampanye untuk mengurangi sampah, misalnya dengan mengajak warga tidak lagi menggunakan kotak makan dari styrofoam atau tidak menjadikan popok bayi sekali pakai sebagai kebutuhan harian. "Konsep kami, kalau (sampah itu) tidak bisa diolah, diganti dengan produk yang lainnya," kata dia.

Kampanye semacam itu jelas tidak mudah. "Tidak bisa dilakukan instan karena otak masyarakat telah dicuci agar menggunakan produk-produk praktis tersebut," kata Iswanto.

Karena itulah, menurut dia, pendekatan kepada masyarakat lewat edukasi untuk mengubah mindset harus dilakukan secara konsisten, dan idealnya didukung struktur lain, seperti pemerintah.

Jika konsep pengelolaan sampah dari hulu bisa diterapkan, Iswanto mengatakan, pekerjaan pemulung bisa lebih manusiawi karena mereka lebih berperan sebagai pengepul. Tanpa perlu ke hilir di TPA, mereka cukup mendatangi sumber-sumber di kampung. Dengan begitu pula kesehatan pemulung bisa lebih baik. (M-3)

Biodata

Tempat dan tanggal lahir:
Gunungkidul, 13 September 1970

Pekerjaan:
Dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan, Yogyakarta

Penghargaan:
- Dosen Berprestasi Poltekes Kemenkes RI (2004)
- Pemuda Pelopor Kabupaten Sleman (2005)
- Penggagas dan pelopor pengelolaan sampah mandiri ala Sukunan
- Ketua Jejaring Pengelola Sampah Mandiri Provinsi DIY Merti Boemi Lestari

Penghargaan Sukunan:
- The Best Yogyakarta Green & Clean 2009 tingkat provinsi
- The Best Practise Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (2006)
- Juara III Kelompok Penyelamat Lingkungan (2005)
- Juara I Program Daur Ulang Nasional (2004)

Share |

Advertisement
Advertisement
MORE NEWS»
Jumat, 25 Mei 2012 00:00 WIB
Kamis, 24 Mei 2012 00:01 WIB
Rabu, 23 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 22 Mei 2012 00:00 WIB
Minggu, 20 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 18 Mei 2012 00:01 WIB
Selasa, 15 Mei 2012 00:00 WIB
Senin, 14 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 11 Mei 2012 00:01 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 00:00 WIB
Rabu, 09 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 08 Mei 2012 00:00 WIB


   Index Berita