JAKARTA--MICOM: Indonesia kehilangan potensi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4% pada tahun 2011 lalu karena penyerapan anggaran yang dilakukan tidak berkualitas dan menumpuk pada akhir tahun. Padahal dengan penyerapan anggaran yang baik, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,9%.
Hal tersebut diungkapkan Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta, Rabu (22/2). "Kita sama-sama mendengar di 2011 kalau penyerapan anggaran bisa dilakukan tepat waktu atau lebih awal dan tepat kualitas bisa membuat pertumbuhan ekonomi kita lebih baik 0,4%. Artinya kalau 6,5% bisa sampai 6,9%," ungkapnya.
Penyerapan anggaran yang tidak berkualitas pada tahun lalu disebabkan adanya pemblokiran anggaran kementerian dan lembaga (K/L). Anggaran tersebut tidak didukung dengan term of reference (TOR) dan rencana anggaran belanja (RAB) yang benar, serta komisi DPR terkait K/L belum bisa memberikan persetujuan.
Selain itu Agus melihat penyerapan anggaran selama paruh semester pertama hanya didominasi pembayaran gaji dan biaya operasional. Penyerapan anggaran tersebut tidak memiliki manfaat langsung kepada masyarakat.
Maka Agus menegaskan bahwa pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk mereformasi kebiasaan tersebut. "Sejauh ini langkah perbaikan telah menampakkan hasil. Namun hasilnya belum maksimal sehingga perlu diperbaiki," tegasnya.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, anggaran belanja pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2011 mencapai sebesar Rp 1.320,8 triliun. Namun sampai dengan 30 Juni 2011, baru 25,1% penyerapan. Sementara pada 30 September 2011 penyerapannya hanya sebesar 47,6%.
Bahkan sampai 1 Desember 2011 penyerapan anggaran belanja baru mencapai 66,3%. Dengan penyerapan pada akhir tahun sebesar 97,6%, terjadi penyerapan besar-besaran dalam tiga bulan terakhir tahun 2011.
"Kita harapkan penyerapan belanja K/L tahun ini dapat lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Kita harapkan aparat pengawasan ikut dalam mengingatkan dan menjaga proses ini supaya baik," ujar Agus. (ML/OL-2)