BENGKULU--MICOM: Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu mengancam pelaku pembuang sampah ke sekitar kawasan cagar alam, khususnya Danau Dendam Tak Sudah Kota Bengkulu, untuk diproses secara hukum.
"Kami masih melakukan upaya menyurati Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Bengkulu untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah di daerah itu dan menghentikan membuang sampah di kawasan cagar alam," kata Kepala Bagian Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu Supartono di Bengkulu, Kamis (23/2).
Ia mengatakan, diketahui tumpukan sampah di kawasan obyek wisata DanauDendam Tak Sudah (DDTS) Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, itu setelah meninjau ke lokasi bersama tim dari pusat, Rabu (22/2).
Tumpukan sampah itu, bila dibiarkan akan mengancam ekosistem di kawasan wisata satu-satunya danau air tawar di Kota Bengkulu tersebut, disamping limbahnya membayakan ratusan jenis ikan dan riftil lainnya dalam danau tersebut.
Kawasan danau terancam rusak karena tumpukan sampah sudah mendekati cagar alam yakni hanya berjarak sekitar 10 meter dari tepi lokasi danau tersebut.
Jika turun hujan lebat, maka sampah berpeluang mengalir ke tepi danau sehingga akan mencemari air danau satu-satunya mengairi jaringan irigasi ribuan hektare sawah masyarakat Kota Bengkulu.
Limbah sampah juga semakin berpeluang merusak danau karena sampah yang bekas dibakar akan mudah mencemari air danau, padahal air danau itu masih dipergunakan warga untuk ternak, katanya.
Seorang warga Dusun besar Baharudin mengatakan, keberadaan tumpukan sampah itu mengganggu kenyamanan warga sekitar itu, terutama menimbulkan bau tidak sedap dan mendatangkan ribuan lalat masuk rumah warga.
Sejak 2011, sekitar kawasan cagar alam "Danau Dendam Tak Sudah" dijadikan tempat pembuangan sampah milik warga Kelurahan Dusun Besar, Padang Nangka dan Timur Indah Kecamatan Singaran Padi Kota Bengkulu.
Akibat dijadikan tempat pembuangan sampah, pohon-pohon di sekitar jurang tepi danau itu banyak yang mati tertimbun sampah dan terbakar, akibat sengaja dibakar untuk mengurangi tumpukan sampah itu, katanya. (Ant/Ol-3)