H Ujang Hidayat
Membangun Basis Kecerdasan di Lereng Gunung Pancar
Penulis : Dede Susianti
Sabtu, 04 Februari 2012 00:00 WIB     
komentar
0 Like Dislike 0

Membangun Basis Kecerdasan di Lereng Gunung Pancar
MI/Dede Susianti/vg
SELIDIK punya selidik, di Kabupaten Bogor, daerahnyalah yang paling tertinggal dalam bidang pendidikan. Hanya sedikit dari warga di kampungnya yang bisa sekolah. Itu pun hanya sampai sekolah dasar (SD) alias terputus. Di kampung yang berlokasi di lereng Gunung Pancar itu, sarana pendidikan memang hanya SD. Adapun untuk SMP dan SMA, jaraknya tidak terjangkau oleh mereka, jauh dan besar di ongkos. Jaraknya kurang lebih 15-20 kilometer untuk ke sekolah.

"Ke Desa Babakan Madang saja ada sekitar 7 kilometer. Kalau naik ojek ongkosnya Rp15 ribu sampai Rp20 ribu," ujar Ujang Hidayat.

Hal itulah satu dari sekian dasar Ujang mendirikan sekolah tingkat menengah pertama (SMP) di kampungnya. Begitulah dia mengawali pembincangan ketika Media Indonesia, Rabu (1/2) sore, menyambangi kediamannya yang sangat sederhana di Kampung Cimandala, RT 02/07, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Tentunya dengan bahasa Sundanya dan segala kesederhanaannya, baju koko warna putih, sarung, dan peci hajinya. Kursi bambu dan meja bambu dengan goreng singkong di atasnya.

Usia Ujang kini 74 tahun. Saat memperbincangkan pendidikan, ia selalu tampak bersemangat. "Jangan menceritakan anak orang lain, anak bapak sendiri sedih bapak," tuturnya di teras rumahnya.

Ujang memiliki 10 anak yang tujuh di antaranya perempuan. Anak terbesar usianya kini 39 tahun. Dari kesepuluh anaknya, semua hanya lulusan SD.

Kini ada tiga anaknya yakni yang ke-8 hingga 10 yang bisa melanjutkan pendidikan. Saat ini mereka duduk di bangku SMA di luar kampungnya. Itu pun setelah tertunda dua hingga tiga tahun, atau meneruskan ke SMP setelah dirinya mendirikan SMP. "Dulu mah lulus SD, anak-anak saya masukkan ke pesantren salaf."

Ia melanjutkan, "Coba lihat di bawah Pak Haji, yang wajib belajar. Yang di sini mah, jadi tukang ojek. Itu anu boga motor (bagi yang punya motor). Anak banyak, cucu banyak, belum warga di sini. Sekarang dan nanti bagaimana."

Haji Ujang mengatakan dia tidak ingin warga di kampungnya hanya jadi penonton dengan perkembangan zaman dan kemajuan di kampungnya. "Masa mau jadi penonton doang. Mau jadi maling, mikir Pak Haji. Gimana ini. Pak Haji engga mau warga sini hanya jadi penonton dari adanya perusahaan gede, dibangun kota jungle apa namanya itu. Masa warga Pak Haji mau jadi penonton. Susah kan mau kerja di zaman sekarang mah. Jadi tukang sapu saja harus lulusan SMA," paparnya.

Niat bagus, pasti ada jalan. Anak perempuan Ujang yang dipesantrenkan di Sukabumi ketemu jodoh pria lulusan perguruan tinggi. Dorongan ingin ada sekolah SMP di kampungnya semakin kuat.

Namun, hambatan kembali menghadang Ujang. Menantunya setuju, besannya yang tidak setuju. "Mantu saya setuju. Cuma besan yang di Cibinong, engga setuju. Inginnya, semua putranya jadi pegawai negeri."

Keprihatinannya lebih kuat. Ujang berupaya terus, hingga pada akhirnya besannya setuju.

Perjuangan berlanjut. Dengan keterbatasannya yang berkomunikasi selalu dengan bahasa Sunda dan ceplas-ceplos, dia bertanya ke mana-mana, mengenai cara mendirikan sekolah. Terutama sekolah setingkat SMP.

"Pak haji tertantang. Apalagi waktu itu ada omongan dari pihak dinas pendidikan, sok mau belajar di mana, di kolong jembatan atau apa pun akan saya bantu. Jadi semangat Pak Haji ditantang begitu," tuturnya.

Ternyata harus berada di naungan sebuah yayasan. Dibuatlah yayasan bernama Yayasan Pancar Bakti Prihatin.

Komplain datang dari sana-sini soal ujung nama yayasan 'prihatin'. Dikhawatirkan akan berdampak pada kondisi yang terus prihatin. "Katanya kenapa enggak sugema saja (subur atau makmur atau maju)."

Pantang mundur

Nama yayasan tidak diubah, dengan dalih bahwa perjuangan itu harus dijalani dengan prihatin. Singkat kata berdirilah SMP Pancar Bakti pada 2007. Saat itu cikal bakal, begitu Ujang menyebutnya, hanya ada 36 anak.

Awalnya kegiatan belajar-mengajarnya (KBM) akan dilaksanakan di teras samping rumahnya, lesehan. Namun, saat itu diperbolehkan menumpang di sebuah bangunan eks kegiatan penghijauan DAS Cisadane-Ciliwung, yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Berdinding susunan papan kayu tua, tidak berpintu, bolong-bolong, lantai coran semen sudah rusak bercampur tanah merah. Bagian atap sebagian sudah bocor, akibat pelindungnya terbang ditiup angin kencang. Mebel pun seadanya.

Berkat dirinya yang ikut serta saat kegiatan, terutama pada rapat penghijauan itu, akhirnya bangunan itu dihibahkan. Itu setelah penghijauan selesai. Dibuat madrasah diniyah, sekolah agama seadanya setingkat TPA. Yang mengajar anak paling besar Pak Haji Ujang, yang hanya lulus SD.

Kegiatan belajar-mengajar siswa SMP pun berlangsung di sekolah usang itu selama tiga tahun, kepanasan, bergelut dengan debu di kala kemarau, dan kerepotan untuk berteduh ketika hujan.

Niat dan perjuangan mulia berbuah manis. Sudah mulai ada bantuan dari dinas pendidikan setempat dan provinsi, meski hanya sekadar buku dan uang tunai per tahun yang cukup buat beli kapur tulis.

Pada 2011 akhir, Yayasan Pancar Bakti Prihatin akhirnya mendapat bantuan dari alokasi DAK, untuk pembangunan tiga ruang belajar. Besaran dananya Rp332 juta. "Itu kita dapatkan dengan penuh perjuangan dan ceplas-ceplosnya saya saja."

Tiga ruang itu kini sudah difungsikan. Dua buat ruang belajar, satu buat ruang kantor. Sistem belajar-mengajar bergilir. Ada yang masuk pagi, ada yang masuk siang.

Masih dengan dasar yang sama yakni kebingungan melihat anak yang lulus SMP, susah melanjutkan, Ujang kembali membulatkan hatinya dan nekat menyediakan sarana pendidikan setingkat SMA.

Dia kembali berjuang yang akhirnya keluarlah perizinan membuka SMA. Tentunya dengan syarat harus ada 20 siswa. Tahun ajaran baru kemarin, akhirnya resmi dibukalah SMA. Karena kondisi/bangunan sekolah dan ruang belajar belum ada, para siswa SMA angkatan pertama itu belajar di bangunan SMP yang tersisa 2 ruang itu.(M-1)

Biodata:

Nama:
H Ujang Hidayat
Usia : 74 Tahun
Pendidikan:
Lulusan SD/SR
Jabatan:
Ketua Yayasan Pancar Bakti Prihatin
- Madrasah Diniyah Al-Istiqomah
- SMP Pancar Bakti
- SMA Pancar Bakti
Nama Istri:
Hj Nurasih
Usia:
56 Tahun
Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
Nama anak-anak:
- Ucih Nafsiah (Lulusan SD)
- Ahmad Sanusi(Lulusan SD)
- Umi Sumiati (Lulusan SD)
- Unah (Lulusan SD)
- Ucah (Lulusan SD)
- Umroh (Lulusan SD)
- Suryani (Lulusan SD)
- Misbah Hidayat (Lulusan SMP/baru masuk SMA)
- Nuhasanah (Lulusan SMP/baru masuk SMA)
- Nurhasan Hidayat (Lulusan SMP/baru masuk SMA)
Alamat: Kp Cimandala, RT 02/07,
Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang

Share |

Advertisement
Advertisement
MORE NEWS»
Jumat, 25 Mei 2012 00:00 WIB
Kamis, 24 Mei 2012 00:01 WIB
Rabu, 23 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 22 Mei 2012 00:00 WIB
Minggu, 20 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 18 Mei 2012 00:01 WIB
Selasa, 15 Mei 2012 00:00 WIB
Senin, 14 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 11 Mei 2012 00:01 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 00:00 WIB
Rabu, 09 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 08 Mei 2012 00:00 WIB


   Index Berita