KUPANG--MICOM: Setiap nelayan di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, menderita kerugian antara Rp2,5-Rp5 juta per hari akibat cuaca buruk yang mengakibatkan mereka tidak melaut. Hingga Minggu (5/2), nelayan dari berbagai perkampungann di Kota Kupang telah berhenti melaut selama dua pekan.
Sejumlah nelayan sempat kembali melaut pada 2 Februari lalu tetapi mereka akhirnya pulang karena gelombang tinggi.
"Kami memberanikan diri kembali melaut, tetapi tetap waspada," tutur Nadjab, 35, nelayan di perkampungan Nelayan Kelurahan Oeba, Kota Kupang, Minggu (5/2).
Meski begitu, Nadjab bersama nelayan lainnya hanya mampu menangkap ikan di pesisir pantai selatan hingga timur Pulau Timor.
"Kami belum berani menangkap ikan sampai tengah laut. Risikonya sangat besar," katanya.
Menurut Dia, selama hampir dua pekan tidak melaut, ia menderita kerugian sekitar Rp30 juta. Kerugian itu dihitung dari rata-rata hasil tangkapan setiap hari berkisar Rp2,5-Rp3 juta.
Jika ditambah kerugian yang diderita sekitar 300 nelayan di perkampungan itu, total kerugian nelayan setiap hari mencapai ratusan juta. Jumlah itu belum termasuk nelayan dari perkampungan Namosain, Oesapa, dan Alak yang jumlahnya juga mencapai ratusan orang.
Pantuan di perkampungan nelayan Oeba dan Oesapa ratusan nelayan masih menambatkan perahu di tepi pantai. Mereka masih menunggu cuaca kembali normal sebelum kembali melaut.
Akan tetapi, sejumlah nelayan yang memiliki perahu besar ternyata sudah kembali melaut sejak dua hari terakhir.
"Gelombang tinggi di laut berangsur-angsur menurun," kata Mustafa, nelayan Oesapa. (PO/OL-10)