CILACAP--MICOM: Pemerintah pusat diminta melakukan intervensi kepada nelayan kecil yang dirundung paceklik berkepanjangan. Pasalnya, dana paceklik melalui tempat pelelangan ikan (TPI) juga sangat minim akibat cuaca buruk yang kerap melanda perairan.
Ketua I Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap, Indon Cahyono, mengatakan sejauh ini pemerintah memang tidak mengalokasikan dana paceklik nelayan akibat cuaca buruk.
"Yang mengalokasikan dana paceklik adalah TPI melalui KUD. Namun, kalau paceklik berkepanjangan, dana paceklik juga sangat minim, karena dana tersebut diambil dari transaksi jual-beli ikan di TPI," kata Indon, Minggu (5/2).
Menurut Indon, sejauh ini pemerintah memang belum pernah mengalokasikan dana langsung bagi nelayan yang terkena dampak langsung cuaca buruk.
"Sehingga nelayan memang harus mencari pekerjaan lain di saat cuaca buruk datang. Oleh karena itu, kami mengusulkan supaya Kementrian Kelautan dan Perikanan mengadakan semacam crash program. Dengan demikian, nelayan bakal terbantu untuk mencukupi kebutuhan mereka pada saat musim paceklik," ujarnya.
Untuk jangka menengah dan panjang, lanjut Indon, pemerintah memang harus mulai memikirkan peralihan armada nelayan dari perahu di bawah 30 grosston (GT) ke kapal yang lebih besar.
"Barangkali program ini sudah mulai dijalankan, tetapi masih belum mampu menjangkau ke seluruh nelayan. Kenapa hal ini dilakukan, sebab perahu dan jumlah nelayan semakin banyak, sedangkan area tangkapan hanya itu itu saja. Apalagi, saat ini kerap terjadi cuaca buruk yang membuat nelayan kecil paling terkena dampaknya," jelasnya.
Jika nelayan yang selama ini menggunakan perahu di bawah 30 GT mulai beralih ke armada besar, area tangkapan jadi meluas dan pendapatan dari hasil tangkapan laut jadi meningkat.
"Menurut saya, ini yang harus konsisten dilakukan, pasalnya, area melaut nelayan kecil sudah semakin jenuh, sehingga hasil tangkapan lamban laun juga berkurang," kata Indon. (LD/OL-10)