Willy Balawala
Membantu Persalinan di Desa Terpencil
Penulis : Siswantini Suryandari
Selasa, 07 Februari 2012 00:01 WIB     
komentar
3 Like Dislike 0

Membantu Persalinan di Desa Terpencil
MI/Mohammad Irfan/rj
SUDAH lama Willy Balawala menyaksikan betapa sengsaranya ibu yang akan melahirkan di kampung halamannya, yang cukup terpencil di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Kampungnya yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan membuat tidak sedikit ibu harus meregang nyawa karena bermasalah dalam persalinan.

''Cukup banyak ibu bermasalah saat melahirkan. Ada yang pendarahan, pingsan, bayinya lahir dengan berat badan kurang, dan paling tragis banyak ibu yang meninggal dunia saat bersalin. Semua ini bersumber pada satu hal, ibu hamil mengalami gizi buruk,'' ujar Willy mengawali perbincangan. Hal lain yang juga disaksikan Willy ialah tingginya angka diare dan cacingan pada ibu dan anak di sejumlah desa.

Dari rasa prihatin itu, hati Willy pun tergerak untuk melakukan sesuatu tepatnya perubahan mendasar, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Sepulang menempuh pendidikan seminari di Manila, Willy bekerja di LSM MSF asal Belgia yang khusus dan fokus pada pelayanan kesehatan yang bersifat darurat (emergency).

Tidak lama bekerja di MSF, Willy mulai terpanggil untuk menolong para ibu yang mengalami kesulitan saat melahirkan. Apalagi, mereka jauh dari akses layanan kesehatan, infrastruktur yang tidak mendukung, dan ada kemungkinan muncul masalah saat persalinan.

Namun, bagaimana caranya? Dia bukan ahli kesehatan atau petugas medis. Willy hanya punya kemampuan berkomunikasi dengan dunia luar lewat internet untuk meminta bantuan.

Dari analisisnya, kebutuhan mendesak saat ini untuk menolong ibu-ibu ketika melahirkan adalah kendaraan bermotor. ''Saya berpikir dokter atau bidan dan perawat dijemput dengan menggunakan sepeda motor. Atau, mereka yang naik motor ke desa-desa terpencil," jelas Willy.

Willy pun mencari informasi di internet. Ternyata memang ada kegiatan semacam itu, bahkan ditangani langsung oleh LSM Riders for Health.
Untuk memudahkan mendapat bantuan, Willy lantas mendirikan Yayasan Kesehatan untuk Semua pada 2002 yang berpusat di Larantuka. Dia sebagai pendiri sekaligus ketua.

Willy kemudian menamai program yang digagasnya itu zero breakdown with motorcycle atau meminimalisasi kerusakan dengan menggunakan sepeda motor.

Dia mengirimkan proposal program tersebut dengan tujuan meminta dukungan kepada perusahaan otomotif yang ada di Indonesia. Sayangnya, tidak ada jawaban atau respons apa pun.

Tampaknya untuk mendapatkan bantuan kendaraan roda dua di dalam negeri amatlah sulit. Padahal pemikiran Willy saat itu sederhana, bagaimana menyediakan kendaraan untuk menjemput para tenaga medis dari kecamatan menuju desa-desa terpencil.

Bapak dua anak itu tidak bisa menunggu lama. Pasalnya, sudah cukup banyak ibu yang akan melahirkan atau bayi yang sakit membutuhkan pertolongan.

Lalu, Willy mencoba mengirimkan proposal lewat internet untuk program zero breakdown itu ke ikatan motor Amerika, Australia, Eropa, dan Inggris. Tidak ketinggalan, Yamaha Jepang ikut pula dikirimi proposal.

Willy pun terkejut, ternyata para pengendara motor dari luar negeri yang tergabung dalam Riders for Health antusias dengan program yang dibuatnya itu.

Simon Milward, salah satu penggagas Riders for Health asal Inggris, bahkan memberikan biaya untuk Willy, agar bisa terbang ke Zimbabwe, Afrika, guna belajar zero breakdown tersebut selama sebulan.

"Di Zimbabwe, saya belajar bagaimana memanajemen mencegah kematian ibu atau balita, secara cepat mendatangkan petugas kesehatan dengan sepeda motor," terangnya.

Sepulang dari Zimbabwe, Willy bisa mengumpulkan uang yang seluruhnya dipakai untuk membeli motor trail buatan Yamaha. Uang itu berasal dari sumbangan para pengendara motor di dunia yang menyalurkannya lewat organisasi-organisasi. Adapun Yamaha menyumbang dengan cara mematok harga motor dengan harga pabrik.

''Jadi saya belikan 12 motor dengan harga pabrik dan sisa harga jual itu ditanggung Yamaha Jepang. Sekarang saya beli satu motor lagi, jadi total 13 motor,'' ungkapnya seraya menjelaskan motor yang dibeli adalah motor trail.

Dari upayanya itu, akhirnya Willy meminjamkan semua sepeda motor tersebut kepada petugas kesehatan yang ada di kecamatan untuk selalu mengunjungi wilayah terpencil. Ada 14 desa di empat kecamatan, yakni Tanjung Bunga, Lowelema, Solor Barat, dan Adonara Tengah, yang kini selalu dikunjungi petugas kesehatan dengan menggunakan motor trail.

Para petugas kesehatan itu, yang semuanya laki-laki, berlatih menggunakan sepeda motor trail sebelum terjun ke lokasi.

"Di Flores Timur, rata-rata satu kecamatan membawahkan 14 desa dengan penduduk 50 ribu orang. Sekarang, setiap hari petugas kesehatan datang berkunjung ke desa-desa terpencil. Mereka melakukan sosialisasi dan menyebarkan informasi masalah kesehatan,'' ujarnya sambil tersenyum mengenang bagaimana para petugas kesehatan mengendarai sepeda motor trail.

Mereka juga selalu membawa laporan kesehatan tiap warga sehingga pemantauannya benar-benar tepat sasaran. ''Kalau ada ibu hamil yang bermasalah karena gizi buruk, cacingan, atau masalah lain, sudah bisa dideteksi petugas kesehatan. Mereka langsung melakukan intervensi sebelum terjadi masalah besar saat melahirkan,'' ungkapnya panjang lebar.

Dari situlah terjadi perubahan-perubahan yang cukup signifikan pada kesehatan penduduk di 14 desa terpencil itu. Para petugas kesehatan selalu ada setiap hari. Mereka tidak hanya memeriksa kesehatan warga. Di sela-sela pertemuan di posyandu atau balai desa, selalu diadakan sosialisasi bagaimana hidup sehat.

''Contoh-contoh sederhana saja, misalnya kalau makan harus cuci tangan dengan sabun. Membiasakan mandi, gosok gigi. Makanan apa saja yang gizinya bagus tapi terjangkau bagi warga dan sebagainya,'' terangnya.

Usaha yang dirintis Willy sejak 2002 sampai sekarang terus berjalan. Hal yang juga membuatnya bahagia ialah saat ini kasus-kasus ibu melahirkan bisa ditangani dengan cepat.

''Karena petugas kesehatan memiliki datanya. Jadi bila ada ibu yang sudah sejak awal bermasalah, sudah terpantau. Ini juga mengurangi angka kematian ibu dan anak di desa-desa terpencil,'' ujar Willy dengan perasaan bahagia. (M-1)

ndari@mediaindonesia.com

Share |

Advertisement
Advertisement
MORE NEWS»
Jumat, 25 Mei 2012 00:00 WIB
Kamis, 24 Mei 2012 00:01 WIB
Rabu, 23 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 22 Mei 2012 00:00 WIB
Minggu, 20 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 18 Mei 2012 00:01 WIB
Selasa, 15 Mei 2012 00:00 WIB
Senin, 14 Mei 2012 00:00 WIB
Jumat, 11 Mei 2012 00:01 WIB
Kamis, 10 Mei 2012 00:00 WIB
Rabu, 09 Mei 2012 00:00 WIB
Selasa, 08 Mei 2012 00:00 WIB


   Index Berita