RIBUAN warga Australia, kemarin, terpaksa meninggalkan rumah mereka karena banjir. Hujan lebat dalam beberapa hari terakhir menyebabkan air terus naik di sejumlah area dan menewaskan seorang warga.
Otoritas setempat juga mengingatkan warga agar selalu waspada karena puluhan sungai di Negara Bagian Queensland dan New South Wales bisa meluap.
Sekitar 2.500 warga telah dievakuasi dari Kota St George, Queensland, karena genangan banjir telah mencapai ketinggian lebih dari 14 meter.
"Kami mendengar dari masyarakat yang keluarganya telah tinggal di kawasan itu bahwa selama lebih dari 100 tahun mereka tidak pernah melihat air setinggi atap seperti sekarang," kata Perdana Menteri Queensland Anna Bligh kepada harian
Sky.
"Kami tahu sesuatu yang belum pernah kami saksikan akan terjadi," sambungnya.
Pernyataan Bligh terkait dengan banjir tahun lalu. Ketika itu, St George terendam saat banjir menerjang Queensland dan New South Wales. Sebanyak 30 ribu rumah, jalan-jalan, jembatan, dan rel kereta di St George hancur diterjang banjir. Banjir saat itu menewaskan 35 orang.
Masyarakat kedua negara bagian tersebut tidak hanya berjuang agar terhindar dari banjir. Mereka juga harus mewaspadai ular-ular mematikan yang berpindah tempat ke daratan yang kering.
Di sisi lain, sebagian besar industri batu bara Australia, yang terpusat di kedua negara bagian tersebut, belum terkena dampak banjir. Namun, pemerintah setempat tetap khawatir banjir besar seperti tahun lalu terulang sehingga memicu kenaikan harga batu bara dunia.
"Tambang batu bara sendiri tidak mengalami masalah," kata Direktur Eksekutif Queensland Resources Michael Roche mengenai banjir yang melanda Australia.
Hujan lebat yang terus mengguyur juga dikhawatirkan akan merusak pertanian kapas, tebu, kedelai, dan jagung. Biro Meteorologi Australia memprediksi banjir di sejumlah area masih belum bisa surut dalam beberapa minggu.
Industri kapas di Kota Moree, New South Wales, telah mengalami kerugian hingga setengahnya akibat banjir. Dengan kondisi tersebut, perusahaan pertanian setempat diprediksi menelan kerugian ratusan ribu dolar Amerika. (Drd/Reuters/I-2)