YOGYAKARTA--MICOM: Tepat pada malam perayaan Cap Go Meh atau tanggal 15 bulan pertama, Tahun Baru Naga, belasan naga menyerbu kawasan Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Senin (6/2).
Kawasan Jalan Malioboro yang menjadi ikon wisata Kota Yogyakarta menjadi ramai dan meriah, karena serbuan naga tersebut mendatangkan belasan ribu warga untuk menyaksikannya secara langsung.
Serbuan naga itu terjadi dalam kegiatan "Jogja Dragon Festival" yang digelar sebagai puncak acara Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) VII.
Ketua Panitia PBTY VII Tri Kirana Muslidatun mengatakan Jogja Dragon Festival baru digelar untuk pertama kali. "Kebetulan tahun ini adalah Tahun Naga Air," katanya.
Ia berharap, kegiatan PBTY yang rutin digelar setiap tahun selama tujuh tahun terakhir itu, akan menjadi kegiatan perayaan Imlek yang cukup besar, dan menempatkan Yogyakarta berada di bawah Singkawang, Kalimantan Barat, serta Medan, Sumatra Utara.
Sejak dari start di Taman Parkir Abu Bakar Ali hingga finish di Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta, warga tumpah ruah memadati trotoar serta ruas jalan untuk melihat atraksi belasan Naga Barongsai.
Di Titik Nol Kilometer, sebanyak 12 peserta "Jogja Dragon Festival" mencoba menampilkan keunikan masing-masing untuk meraih simpati juri dan tampil sebagai pemenang dalam festival itu.
Masing-masing peserta memperoleh waktu lima menit untuk menampilkan kebolehan mereka di hadapan dewan juri, serta di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan sejumlah pejabat lain. Pemenang dari festival Naga Barongsai tersebut berhak menerima Piala Raja serta hadiah berupa uang tunai dengan total Rp27 juta.
Salah satu peserta adalah Tim Panbers Djogja mencoba tampil unik dengan mengenakan lurik sebagai seragam yang dikenakan oleh pembawa naga barongsai dan atraksi diakhiri dengan penyalaan kembang api. Sedangkan Naga Barongsai dari Tim Satya Bhakti Parakan tidak hanya ditarikan oleh para pria, namun juga oleh kaum perempuan.
Salah satu peserta adalah dari Yon Armed 11 Magelang yang menampilkan Naga Guntur Geni. Pasukan tersebut menampilkan berbagai gerakan atraktif, bahkan naga barongsai yang ditarikan pun dibuat dengan corak pakaian khas tentara.
Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, kegiatan PBTY ke-7 tersebut akan menjadi kegiatan budaya yang bisa mendatangkan wisatawan ke Kota Yogyakarta. "Kegiatan ini tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga menjadi
jawaban atas kebutuhan wisatawan itu sendiri. Wisata di Kota Yogyakarta ini tidak hanya what to see, what to eat, what to buy, tetapi juga what to do," katanya.
Selain diikuti oleh tim dari berbagai kota yang mengikuti Jogja Dragon Festival, dalam penutupan PBTY VII tersebut juga tampil sejumlah kelompok dan paguyuban warga Tionghoa di Yogyakarta.
Salah satunya adalah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia Yogyakarta menampilkan replika kapal Laksamana Cheng Ho. Di awal kirab, serta replika Naga Laut Hai Long Wang membagi-bagikan kue-kue keranjang kepada penonton yang berdiri di tepi jalan. Di barisan akhir, tampil naga terpanjang yang dimiliki Kota Yogyakarta yaitu dengan panjang 130,6 meter.
Selain di sepanjang Jalan Malioboro, kemeriahan penutupan PBTY VII tersebut juga terjadi di Jalan Ketandan dengan pementasan ketoprak dari Didik Nini Thowok yang membawakan cerita Sam Pek Eng Tay.
Di Titik Nol Kilometer, acara penutupan PBTY VII diakhiri dengan pesta kembang api yang disambut meriah oleh ribuan penonton yang sabar menonton acara sejak awal hingga akhir. (Ant/OL-2)