Bulog Solo Beli Beras Petani dengan Harga Tinggi
Penulis : Widjajadi
Selasa, 07 Februari 2012 10:32 WIB     
komentar
0 Like Dislike 0

SOLO--MICOM: Bulog Sub-Divre III Solo berpacu dengan pasar beras yang masih menerapkan harga tinggi pada musim panen MT I ini, dengan menggunakan Inpres 8 tahun 2011 saat menyerap beras petani. Institusi perberasan milik pemerintah ini berani membeli beras medium petani dengan kisaran harga Rp6.500 atau lebih tinggi dari HPP yang hanya Rp5.060 per kg.

"Keputusan menggunakan Inpres 8 tahun 2011 ini diambil Bulog, sebagai upaya untuk mengamankan cadangan beras yang dikelola pemerintah, seiring belum disahkannya aturan terbaru terkait HPP. Harga yang kita ambil ini memperhatikan harga pasar yang dicatat oleh BPS (Badan Pusat Statistik)," tukas Kepala Bulog Sub-Divre III Solo Tri Fajarjanto, Selasa (7/2).

Menurut dia, langkah yang diambil Bulog Sub Divre III untuk membeli beras petani dengan harga 30 persen di atas HPP ini sudah direstui Bulog Pusat, yang menganggap Inpres 8 tahun 2011 masih sangat relevan untuk menstabilkan pasar dan juga menolong petani yang mengalami gangguan iklim ekstrim dalam mengelola tanaman pangan.

Sebenarnya, lanjut Tri, pihaknya terus berupaya mendekat ke petani sejak Mei tahun lalu. Keberanian untuk menyerap hasil panen petani dengan harga di aras HPP ini, untuk mengapresiasi jerih payah mereka dalam mengelola tanaman padi yang mengalami banyak gangguan hama maupun iklim ekstrim, yang disusul permainan tengkulak ketika panen.

Namun, karena berbagai keterbatasan dan juga karena situasi pasar yang sulit dikontrol, Bulog Sub-Divre III pada 2011 silam harus puas menangguk beras petani 95 ribu ton, atau masih jauh dari target awal yang ditetapkan sebesar 120 ribu ton beras.

Target penyerapan tahun ini untuk Bulog Sub Divre III yang membawahi enam kabupaten dan satu kota di Solo Raya ini adalah sebanyak 125 ribu ton.

"Saat musim panen raya MT I ini kita akan genjot penyerapan dengan cepat, agar target bisa dicapai," pungkas Tri Fajarjanto.

Menjelang panen raya ini, pihaknya sudah menyerap 330 ton dan diharap mendapatkan 10 ribu ton hingga akhir Februari nanti.

Sementara itu, pantauan di Pasar Legi yang merupakan pusat grosir hasil bumi terbesar di Jateng, terlihat beras dari Cirebon terus menggelontor gudang-gudang milik pedagang besar. Kebiasaan pedagang di Pasar Legi adalah mencampur beras Cirebon dengan beras lokal yang memiliki kualitas lebih baik, sebelum dijual ke masyarakat. (WJ/OL-10)

Share |

Advertisement
Advertisement
MORE NEWS»
Jumat, 25 Mei 2012 22:27 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 20:46 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 18:21 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 18:16 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 17:45 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 17:36 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 17:17 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 14:22 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 14:15 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 14:09 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 13:21 WIB
Jumat, 25 Mei 2012 13:00 WIB


   Index Berita