JAKARTA--MICOM: Nilai tukar mata uang rupiah yang di transaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (7/2) sore, bergerak melemah 18 poin ke posisi 8.993 dibandingkan dengan sebelumnya 8.975 per dolar AS.
Analis Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta mengatakan membaiknya data tenaga kerja Amerika Serikat (AS), seperti tingkat pengangguran yang turun, menambah kekuatan dolar AS di tengah carut marut nya kawasan euro. "Data pengangguran turun menjadi 8,3 persen, terendah sejak Februari 2009," katanya.
Ia mengatakan, penguatan dolar AS menekan mata uang utama lainnya seperti euro, sterling, frank Swiss, yen dan aussie. "Nilai tukar euro tertekan terhadap mata uang AS menyusul kegagalan partai koalisi Yunani dalam mencapai kesepakatan mengenai persyaratan 'bailout' terbaru, menyisakan kecemasan atas resiko
default yang juga dapat menjerat negara-negara kawasan Eropa lainnya seperti Portugal," katanya.
Selain itu, lanjut Ariston, harga beberapa komoditi yang dinilai dalam kurs dolar AS seperti emas, minyak mentah, dan perak, juga mengalami tekanan.
Ia menambahkan, krisis Eropa masih menjadi ancaman bagi pelambatan pertumbuhan global. Eropa masih belum mendapatkan titik temu dengan Yunani. Pemerintahan koalisi Yunani diharuskan menyetujui persyaratan ekstra ketat yang diajukan Troika (Bank Sentral Eropa/ECB, dana moneter internasional/IMF, dan Uni Eropa/UE) sebelum berlangsung pertemuan menteri keuangan Uni Eropa, jika ingin mengamankan penyaluran bailout tahap kedua yang diperkirakan mencapai senilai 130 miliar euro.
Pengamat ekonomi Faisal Basri menambahkan nilai tukar dalam negeri akan tetap berfluktuasi terhadap mata uang asing termasuk dolar AS. Namun Bank Indonesia (BI) tetap akan menjaga rupiah pada level yang stabil.(Ant/OL-01)