Ekonomi
Industri Nasional Dibiarkan Tertinggal
Penulis : Marchelo
Selasa, 07 Februari 2012 23:09 WIB     
komentar
1 Like Dislike 1

JAKARTA--MICOM: Penurunan kontribusi sektor industri pengolahan pada struktur ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) dari tahun ke tahun disebabkan iklim usaha yang tidak kondusif.

Apalagi kebijakan pemerintah membuka keran perdagangan yang besar membuat industri pengolahan kurang kreativitas dan produktivitas.

Hal tersebut dikatakan pengamat ekonomi Universitas Padjadjaran Ina Primiana, Selasa (7/2).

"Karena banyak hal yang dihadapi industri pengolahan sehingga kinerjanya terus menurun, iklim usaha tidak kondusif," katanya.

Masalah yang dianggap menjadi penyebab iklim usaha industri tidak kondusif, antara lain lemahnya koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam menerjemahkan aturan, infrastruktur pelabuhan, jalan, kereta, dan gudang yang tidak memadai dan menurun kualitasnya, serta kebijakan perdagangan yang membuka keran untuk impor.

"Infrastruktur yang ada tidak memadai dan kualitasnya terus menurun sehingga biaya transportasi atau logistik mahal," ujar Ina.

Secara khusus Ina menyebutkan bahwa kebijakan perdagangan dan pembukaan keran impor yang besar meninggalkan produk-produk yang diproduksi di dalam negeri tanpa proteksi. Pada akhirnya industri dalam negeri menjadi kurang kreatif dan produktif.

Selain itu kebijakan pemerintah yang labil membuat industri sulit membuat perencanaan yang matang. "Satu lagi kebijakan yang selalu berubah-ubah dan mendadak, misalnya kenaikan harga BBM, listrik yang membuat industri sulit membuat perencanaan," sebutnya.

Ke depan pemerintah harus segera menentukan prioritas industri yang akan dipertahankan dan dikembangkan industri pendukungnya. Dengan begitu pemerintah juga memiliki perencanaan infrastruktur yang sesuai dan terintegrasi. "Ke depan harus juga memperkuat UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) sebagai embrio industri," ujar Ina.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,5%, terbesar disumbang dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 1,6% (13,8% dari PDB) dan sektor industri pengolahan 1,6% (24,3% dari PDB). Namun begitu sumbangan sektor industri pengolahan dan sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan terus menurun.

Pada tahun 2010 sektor industri pengolahan menyumbang 24,8% dari PDB menjadi 24,3% dari PDB pada 2011, sedangkan sektor pertanian turun dari 15,3% menjadi 14,7%. Sementara sektor perdagangan, hotel, dan restoran cenderung meningkat sumbangannya pada PDB dari 13,7% menjadi 13,8%. (ML/OL-9)

Share |

Advertisement
Advertisement