PENURUNAN kontribusi sektor industri pengolahan pada produk domestik bruto (PDB) disebabkan iklim usaha yang tidak kondusif. Apalagi kebijakan pemerintah membuka keran perdagangan, terutama impor, yang besar mengakibatkan industri pengolahan kurang kreatif dan produktif.
Demikian catatan pengamat ekonomi dari Universitas Padjadjaran Ina Primiana atas data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS). Badan itu menyebutkan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional 2011 mencapai 6,5%. Sumbangan terbesar pertumbuhan itu berasal dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Sebaliknya, sumbangan sektor industri pengolahan, pertanian, perikanan, dan peternakan terus merosot.
"Banyak permasalahan yang dihadapi industri pengolahan sehingga kinerja mereka terus menurun, iklim usaha tidak kondusif," kata Ina.
Masalah tersebut antara lain disebabkan lemahnya koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam menerjemahkan aturan, infrastruktur pelabuhan, jalan, kereta, dan gudang yang tidak memadai.
"Infrastruktur yang ada tidak memadai dan kualitasnya terus menurun sehingga biaya transportasi atau logistik mahal," lanjutnya.
Tanpa proteksi
Secara khusus Ina menyebutkan kebijakan perdagangan dan pembukaan keran impor yang besar mengakibatkan produk-produk yang diproduksi di dalam negeri tidak terproteksi. Pada akhirnya industri dalam negeri menjadi kurang kreatif dan produktif.
Selain itu kebijakan pemerintah yang labil membuat industri sulit membuat perencanaan matang. "Satu lagi kebijakan yang selalu berubah-ubah dan mendadak, misalnya penaikan harga BBM dan listrik. Kedua hal itu menyebabkan industri sulit membuat perencanaan," sebutnya.
Ke depan, menurut Ina, pemerintah diminta segera menentukan prioritas industri yang akan dipertahankan dan dikembangkan. Dengan begitu, pemerintah memiliki perencanaan infrastruktur yang sesuai dan terintegrasi.
"Secara konkret pemerintah juga harus memperkuat UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) sebagai embrio industri," tambahnya.
Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa berjanji memangkas biaya tinggi yang menggerogoti industri, yaitu pungutan liar.
"Itu menggerogoti industri, penting untuk dibenahi secepat mungkin," katanya di Istana Negara. Belum lagi, pungutan liar itu ditambah tingginya biaya logistik akibat infrastruktur yang tidak memadai.
"Hal yang tidak kalah penting ialah menekan biaya logistik. Itu artinya infrastruktur penting kita benahi secepat mungkin," tambahnya.
Pernyataan Hatta itu merespons keraguan pelaku usaha atas dukungan pemerintah terhadap manufaktur yang kian lemah menyerap tenaga kerja. Penyerapan tenaga kerja justru terjadi di sektor pertanian dan perikanan meski produktivitas keduanya terus menurun. (Mad/X-17)